Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Travel

Naik Kereta Api ke Bandung.

Kereta Api Parahyangan jurusan Jakarta Gambir – Bandung.

 

Beberapa minggu sebelum saya dan suami mengajak baby M jalan-jalan ke Bandung, kami sudah memperlihatkan gambar/foto kereta api ke baby M. Ini sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali akan membawa anak bepergian terutama bila perjalanan lebih dari dua jam (Jakarta – Bandung menaiki kereta api ditempuh selama tiga jam lima belas menit), guna menghindari anak rewel di jalan akibat bosan, takut, dan lain sebagainya. Perlengkapan seperti popok disposable, air minum + sedotan, susu UHT, mainan, jaket, pakaian ganti, juga tak ketinggalan di packing dalam tas.

Kami juga selalu memilih jam travel dimana dekat jam tidur anak, sehingga tak lama setelah kereta bergerak dari stasiun Gambir, anak sudah terlelap. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak baby M travelling ke China (dua belas jam penerbangan, termasuk transit di Hong Kong) dan ke Bali (dua jam perjalanan). Bahkan saat ke Yogyakarta (satu jam perjalanan) pun tak luput dari pemilihan jam traveling saat waktu tidur, hehehe. Ini karena baby M sangat aktif (ever heard about that “terrible two”?) sehingga demi kenyamanan dan keamanan bersama serta pihak-pihak dalam moda transportasi publik, sebaiknya baby M tak lama setelah duduk di pesawat/kereta langsung bablas tidur hehehe…

Tiket kereta kami berangkat pukul 10.00 WIB dari stasiun Gambir, Jakarta. Baby M sudah bangun dari jam 07.00 pagi. Wah, sudah pas nih waktunya, pikir saya. Sekitar pk.11.00 WIB pasti anak saya ini sudah siap-siap minta nemplok tidur siang… Tentunya para orang tua yang paling mengenal sifat/karakter serta jam tidur anak ya, sehingga tips saya untuk travelling parents baiknya menyesuaikan dengan jam tidur anak. Kalau saya dan suami lebih nyaman anak tidur di perjalanan 🙂 Selain tidak mengganggu penumpang lain, saat tiba di tujuan pun anak sudah well rested.

 

senangnya kereta api sekarang jarak dekat maupun jauh sudah ada soket listrik. Nonton HBO GO pun leluasa 🙂

 

Dahulu jaman saya masih SD, orang tua saya kalau naik kereta api ke Jawa pasti nge-pack banyak sekali makanan: nasi, lauk, serta berbotol-botol minuman. Saya dan adik saya sampai kesal karena harus menggotong ekstra barang 🙂 Alasan mereka kala itu klasik sekali, “Kalau beli makanan di kereta mahal!”

Lantas, bagaimana sekarang??

Ohoho, saya senang sekali mengetahui bahwa sekarang haus dan lapar tidak perlu khawatir, apalagi sampai menggotong berkotak-kotak bekal! Restoran Kereta Api (“RESKA”) sekarang sudah bagus banget, dan terutama harganya tidak boleh mencekik leher orang yang lapar dan haus 😀 Harganya sangat bersahabat di kantong! Okelah mungkin ada perbedaan seribu atau lima ribu dengan di Alfamart (tergantung produknya), tapi menurut saya masih sangat masuk akal.

Bahkan seluruh staf dan pegawai KAI menurut saya sudah banyak perubahan sikap. Semenjak kami turun di stasiun Gambir dan stasiun Bandung, kesemuanya sangat ramah dan membantu. Porter pun tidak memaksa dan tidak tersinggung bila ditolak (monmaap ya pak…) sementara saya ingat dahulu porter akan memaksa bahkan dengan lancang langsung menggotong barang kita bak maling aja… KAI rupanya sudah membenahi diri, dan kami sangat senang sekali menggunakan jasa KAI sekarang. Kiranya dipertahankan dan makin di tingkatkan, karena satu-satunya yang masih membuat saya enek kalau naik kereta adalah : TOILETNYA! :’)

 

sebelumnya monmaap kuku belum kena menicure 😀 ini coklat panas seharga Rp.10.000,- yang saya beli dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta 🙂
baby M awalnya takut saat baru masuk ke gerbong, tapi setelah beberapa saat jalan-jalan “mengenal” isi gerbong, mulai tenang dan minta duduk sendiri 😀 Untung saja kursi ini kosong jadi baby M sempat “merasakan” duduk ala-ala 😀

 

Oya, bagi orang tua dan balita yang travelling menggunakan kereta api, di stasiun Gambir dan stasiun Bandung saya lihat ada area playground juga untuk anak-anak. Sepintas saya juga lihat nursery / ruang menyusui, tapi saya tidak sempat mengintip ke dalam apakah terawat/tidak?

Kalau untuk area playground di stasiun Gambir, karpetnya kotor dan butuh perhatian khusus, tapi mainannya cukup rapi 😀 Sementara area yang di stasiun Bandung jujur saja saya tidak sempat memperhatikan, karena sudah buru-buru di jemput.

Sejak saya punya anak, saya sangat merasakan pentingnya nursery (tempat untuk menyusui dan ganti popok anak) dan playground area. Bukan tugas mudah lho, bepergian dengan anak-anak apalagi yang masih kecil. Kalau sudah bosan wah itu bahaya buibuk pakbapak. That’s why saya seringkali browsing dulu hotel mana yang ramah anak? Apakah brand transportasi yang akan kami pilih ramah anak?

Terlihat simpel, tapi penting banget. Bagaimanapun kalau anak happy orang tuanya pasti juga ikut happy dan perjalanan lancar, serta tidak “mengganggu” pihak-pihak/penumpang lain 😀

asyik mandangin kereta lalu lalang di stasiun, lalu dadah-dadah sendiri ke kereta lewat 🙂

 

Terimakasih KAI, sampai jumpa di perjalanan berikutnya 😀