Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Mental Health

    Berobat Ke Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa.

    Beberapa waktu lalu saya mengalami relapse parah, bisa dibilang yang paling parah selama tiga dekade saya hidup di dunia. Sebelumnya, apa sih relapse itu? Saya jelaskan dahulu, menurut Wikipedia relapse adalah kambuhnya suatu kondisi masa lalu yang biasanya medis setelah dormant (“tertidur”) cukup lama. Kalau menurut kamus Cambridge online, relapse itu kembali sakit atau berlaku tidak normal lagi setelah sempat membaik. Saya pikir relapse itu bahasa awamnya ya “kambuh” πŸ˜€

    Dahulu saya cope dengan kondisi saya yang kata psikolog “hitam dan putih” dengan menyakiti diri sendiri (dan mungkin orang lain?), but thats another story in another time, I guess. Sekarang saya punya anak batita yang membutuhkan perhatian dan kehidupan saya, sehingga saya “cukup sadar” untuk tidak berbuat nekad. Intrusive thoughts itu sering muncul, dan dua bulan belakangan benar-benar memborbardir saya sampai titik penghabisan. Beberapa malam saya berbaring di kamar, saat anak saya sudah terlelap, dan saya menangis tanpa suara. Ada kalanya saya ingin menyerah.

    Saya sadar saya butuh bantuan profesional.

    Sayangnya sebelum bantuan itu datang, ada kejadian yang membuat saya makin terjun dalam jurang gelap — relapse saya makin parah karena kejadian ini. Trust saya hilang, total. Saya kehilangan semua support system selama lima belas tahun. Well, all but only one who stay, and she has stayed on many times I relapsed when we were younger (I didn’t know and didn’t suspect I have issues, back then).

    Saya memilih mencari pertolongan ke Sanatorium Dharmawangsa, karena faktor cukup dekat dari rumah dan harga konseling dengan Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa cukup dengan harga Rp.400.000,-/jam. Saya sudah mencari kemana-mana soal biaya konseling ini, mulai dari Kassandra & Associates yang hits (minta Rp.1.000.000,-/jam), Yayasan Psikolog Indonesia (Rp.700.000,-/90 menit) sampai ke Yayasan Pulih (start dari Rp.250.000,-/jam). Oleh satu dan lain hal akhirnya saya memutuskan ke Sanatorium Dharmawangsa. Total yang saya bayar setiap konseling di Sanatorium Dharmawangsa adalah Rp.440.000,- dengan perhitungan Rp.400.000,- biaya konseling satu jam dan Rp.40.000,- biaya administrasi. Sayangnya Sanatorium Dharmawangsa (kini juga disebut Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa) belum menerima pasien dengan BPJS.

    Saya menantikan pertemuan pertama dan perdana saya dengan Psikolog (perempuan di usia akhir 70 tahun, dengan inisial “RW”) dan ketika hari itu datang, saya sangat anxious sampai ingin muntah. Jujur, saya merasa malu sekali menemui Psikolog. Selama sekian tahun ibu saya selalu taunted how broken I am and that I need to “fix” myself up with Psychologists.

    Ketika saya masuk ke ruangannya, RW menyapa saya dan pertanyaan pertama adalah, “Apa yang bisa saya bantu?”

    Saya sungguh berharap dapat memberikan review yang bagus akan Psikolog ini, yang sebenarnya cukup simpatik, tetapi Beliau tampaknya lebih ke arah psikologi perusahaan atau semacamnya, dan bukan klinis. Satu hal yang saya perhatikan adalah, Beliau tidak menulis apapun di rekam medis saya. Oke, red flag pertama. Yang kedua adalah Beliau tampaknya tidak menganggap “permasalahan” saya cukup serius karena ia hanya mengatakan saya hanya butuh channeling my emotions. Pada faktanya, saya juga paham harus channeling (menyalurkan), dalam hal ini saya memilih media menulis.

    I left her office, more broken and angrier than before I entered.

    I booked another meeting with another Psychologist right after I paid her fees.

    Psikolog kedua saya, laki-laki lebih muda dua tahun dari saya berdasarkan profil LinkedIin nya (saya tidak masalah, selama dapat menolong saya), menanyakan hal yang serupa ketika saya duduk di hadapannya, tiga hari setelah sesi pertama saya dengan RW yang berantakan. Kali ini saya dijadwalkan untuk menjalani serangkaian tes klinis.

    Perjalanan saya masih jauh, dan Psikolog ini (“RD”) juga menyatakan bahwa proses menuju kesembuhan/menjadi “normal”/ bahasa Beliau “untuk menjadi sama seperti orang kebanyakan”, tidaklah mudah. Sesaat saya merenungkannya, dan saya merenungkannya kembali di mobil dalam perjalan pulang, dan kembali merenungkan kata-katanya sesampainya saya di rumah.

    “Apa itu normal? Apa itu waras? Pandangan saya dan kamu akan normal dan waras berbeda. Satu hal yang kamu cari adalah bagaimana kamu bisa menjadi seperti orang kebanyakan. Disini kita tidak ada kamusnya normal dan waras.”

    Fuck unique, I am done being “unique”.

    Saya ingin menjadi orang kebanyakan.

    Ya, saya letih, saya tidak mau jadi berbeda. If this is my curse, please take it from me.

     

    RSJ Dharmawangsa juga menyediakan rawat inap (selain rawat jalan) di bagian Psikiatri dan Psikologinya. Ada layanan antar jemput πŸ™‚
    suasana agak gelap dan lumayan kuno.

     

    Lokasi RSJ Dharmawangsa ini sebenarnya strategis, persis di seberangnya Plataran Dharmawangsa dan Dharmawangsa Square. Agak nyempil sedikit di apit perumahan, dan jalan raya yang hanya bisa dilalui sekedarnya oleh dua mobil. Bagi mata yang tidak awas atau tidak memakai GPS mungkin agak kesulitan spotting posisinya πŸ˜€

    Interiornya pun agak kuno, tidak seberapa terang, dan saya sejauh ini tidak melihat tempat parkir yang memadai selain di lingkungan jalan raya perumahan itu tadi (yang bikin jadi sempit untuk dilalui dua mobil). Tenang saja, kami pasien poli Psikologi dipisahkan kok dari poli Kejiwaan/Psikiatri. Poli Psikiatri dijaga ketat oleh seorang satpam yang siaga di depan sebuah pintu yang “harus selalu terkunci” πŸ™‚ Wah, agak seram ya… tapi percayalah, aslinya tidak seseram itu.

    Kalau kamu merasa butuh bantuan, kalau kamu merasa tidak sanggup lagi untuk “terus berjuang”… kalau kamu merasa dunia mu runtuh, carilah pertolongan secepatnya. Saya beruntung mempunyai seorang anak yang dapat saya perjuangkan, dimana saat intrusive thoughts dan paranoia mulai kembali, saya masih bisa berpikir “jernih” bahwa anak saya membutuhkan saya. When I drift away, my son is my anchor.

    Dan bagi kamu yang saat ini mengkhawatirkan seseorang, please be a friend for him/her. Ask them how are they feeling, don’t be afraid. Your ignorance can cost someone’s life. Ajak mereka yang kamu khawatirkan untuk mencari pertolongan profesional.

    Beda Psikolog dengan Psikiater adalah,

    Psikiater memulai pendidikan dengan gelar kedokteran. Selulus dokter umum, mereka ambil spesifikasi S2 Kejiwaan, sehingga karena basic nya sudah dokter, para Psikiater diperbolehkan untuk meresepkan obat.

    Psikolog di sisi lain memulai pendidikan dengan gelar sarjana psikologi. Selulus sarjana psikologi, mereka ambil spesifikasi S2 Klinis, sehingga mereka dapat mendiagnosis “apa yang salah” dalam diri kita, tetapi mereka tidak bisa dan tidak diperbolehkan meresepkan obat karena bukan dokter.

    Apabila kamu merasa membutuhkan bantuan, carilah dahulu Psikolog Klinis. Kalau dirasa perlu, Beliau akan me-refer kamu ke Psikiater untuk di takar dan di resepkan obat antipsikosis sesuai dengan diagnosis kamu. Jangan pernah melakukan self diagnose.

    Pertemuan pertama dengan seorang Psikolog bisa menakutkan, bahkan menimbulkan anxiety attack. Ketika saya menutup telepon setelah saya akhirnya menjadwalkan pertemuan perdana di RSJ Dharmawangsa, saya menangis. Saya menangis karena akhirnya saya memberanikan diri untuk mencari pertolongan, terlepas dari stigma “RSJ”, “orang gila”, “orang egois” dan “orang toxic” yang selama ini saya pikul dan takutkan. Jangan berharap banyak akan langsung “sembuh” dengan satu kali konseling. Bagi beberapa orang, tergantung situasi dan kondisi yang bersangkutan, dibutuhkan terapi bertahun-tahun – beberapa kondisi bahkan membutuhkan pengobatan seumur hidup.

    Menemukan Psikolog yang cocok pun sama susahnya dengan cari jodoh πŸ˜€

    They might be a Clinical Psychologists, but they are human too, and human can be judging.

    Tidak perlu takut untuk trial and error, it is okay to do Psychologist shopping, dalam artian kalau kamu merasa tidak cocok atau tidak terbantu dengan Psikolog tertentu, selalu cari second opinion. Namun ketika kamu memutuskan untuk “menjadi orang kebanyakan” dan Psikologmu pun satu visi misi denganmu, stick with the therapy.

    I wish you all a healthy day.

  • Mental Health

    Bahagia Itu Sesederhana Tidak Peduli.

    Kalau kamu tidak paham dan takut akan orang dengan mental illness, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus paham dan tidak harus tidak takut.

     

    Kalau kamu tidak paham bagaimana orang bisa melukai dirinya sendiri dan kamu beranggapan orang itu hanya cari perhatian, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus melukai dirimu sendiri agar dapat merasakan sesuatu.

     

    Kalau kamu tidak mengerti kenapa seseorang tidak makan dan memilih untuk kelaparan, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus merasa lapar, dan sehat.

     

    Kalau kamu tidak mengerti kenapa orang mengurung diri, tidak bisa berkata-kata, atau mencari pertolongan, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kuharap kamu selalu punya seseorang, atau tempat untuk kamu berpaling dan bersandar saat kamu kesulitan dan membutuhkan.

     

    Kalau kamu tidak mengerti mengapa seseorang membutuhkan obat-obatan tertentu supaya mereka bisa berfungsi normal, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu “normal”, dan tidak membutuhkan obat untuk merasa “normal”.

     

    Kalau kamu tidak mengerti bagaimana seseorang bisa berpikir untuk menggantung lehernya, atau melompat dari gedung tinggi, atau memutuskan untuk menelan obat hingga over dosis, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus mengerti dan tidak mau mengerti.

     

    Kalau kamu tidak mengerti, tidak paham, itu bagus, karena kamu tidak diwajibkan untuk itu.

     

    Terimakasih untuk ketidakpedulian mu, itu sangat sehat untukmu.

    Terimakasih untuk ketidakpedulian mu, itu sangat bahagia untuk hidupmu.

  • Travel

    Grand Tjokro Hotel, Bandung.

    Lobby utama Grand Tjokro hotel Bandung. image source: www.booking.com

     

    We went to Bandung yesterday. It was supposed to be a university reunion for my husband, before the reunion committee canceled the event after we purchased our train tickets and hotels (very nice).

    Kami menemukan Grand Tjokro hotel setelah selama beberapa lama mencari hotel yang kids dan toddler friendly. Beberapa blog dan review yang kami temukan selalu nyebut Grand Tjokro Bandung sebagai hotel ramah anak (kids friendly hotel), sehingga kami akhirnya memutuskan tinggal di Grand Tjokro, sebelum malam terakhir pindah ke hotel yang lebih dekat ke stasiun Bandung.

    Di Grand Tjokro kami berhasil check in tanpa kendala sekitar pukul 15.00 sore. Saya menemani anak bermain di playground area yang berlokasi di lobby, sementara suami mengurus kartu kamar. Kebetulan karena kami check in di hari Jumat, area tersebut kosong sehingga baby M langsung leluasa “menguasai” prosotan di area tersebut πŸ™‚

    Playground di Lobby utama hotel. baby M langsung lari ke prosotan πŸ™‚

     

    Saya sempat memperhatikan detail di playground. Sayangnya, Grand Tjokro lalai memberikan atensi kebersihan karena saya melihat banyak debu dan remahan kotoran / tai cicak di sudut prosotan. Bola-bola di arena sudah banyak yang penyok, dan malangnya ada vandalisme di dinding playground. Wajah-wajah lucu singa, beruang dan burung jadi “bertato”… Sepintas memang playground Grand Tjokro Bandung terlihat menarik namun saat diperhatikan benar-benar, justru tidak bersih dan terkesan “terbelangkalai” πŸ™ Jujur saja, kami langsung kecewa, karena kami kan memang sengaja cari hotel yang ramah anak, tentunya kebersihan dan keamanan harus jadi faktor utama dong, kalo kita bawa anak? Apalagi hotel ini memang di gadang-gadang oleh banyak blog dan media massa lain sebagai “hotel ramah anak”…

    butuh dipinjemin Go-Clean nih hotelnya πŸ˜€ sadis banget kebersihannya tidak dijaga, dan properti mainannya amburadul tidak layak main.

    Gak kayak playground yang di gadang-gadang di media massa πŸ™ kumuhhh πŸ™

     

    Grand Tjokro Bandung punnya dua tower kamar hotel, kebetulan kamar kami terletak di Main Tower tepat diatas Lobby utama. Lokasi restoran tempat makan pagi juga di tower utama ini. Asiknya, di sini ada supermarket loh yang buka dari jam 08.00 pagi sampai dengan jam 21.00 malam – jadi kalo darurat butuh sesuatu bisa melipir ke North Tower. Di North Tower juga jadi lokasi rooftop cafe (yang pas saya sambangi ternyata tutup dong ya), spa, gym, playground lagi, kolam renang dan….. MINI ZOO~!

    Jujur saja, saya paling menantikan kayak apa sih mini zoo yang di taruh di lantai 10 north tower hotel Grand Tjokro ini??

    Setelah menaruh barang, ganti baju renang dan packing ransel kecil dengan minyak telon dan botol air, kami langsung pindah ke north tower untuk mengecek fasilitas Grand Tjokro πŸ˜€

    Untuk akses ke lantai kamar perlu kartu kamar, tapi setau kami untuk lift yang akan berhenti di public space seperti restoran dan kolam renang, justru tidak memerlukan kartu kamar. Agak nanggung ya, dari segi keamanannya. But moving on, kami mendapati puas bangeeet sama mini zoo besutan Grand Tjokro Bandung! πŸ˜€

    Isinya ternyata cukup lengkap, ada kuda poni (bisa ditunggangin, bayar Rp.25.000,- saja), kelinci, kalkun, marmut/hamster, soang, kambing, ikan, iguana, dll… Hewan-hewan ini bisa loh kita suapin wortel, jagung atau minumin susu… semuanya tinggal bayar sekitar Rp.10.000,- sampai dengan Rp.25.000,- saja. Baby M masih takut kalo tralu deket hewan, ketauan nih orang tuanya gak terlalu suka hewan makanya jarang banget baby M “diberi akses” deket-deket hewan huhuhu… Penjaga yang standby di sana ramah-ramah, dan asiknya lagi karena kami tiba weekday maka kami bisa menikmati mini zoo dan kebun di Lt 10 dengan leluasa. Hewannya kelihatan terawat dengan baik, dan terlihat cukup sehat bagi saya. Jujur saja awalnya saya agak sangsi mengenai mini zoo Grand Tjokro… bukannya kenapa, tapi males banget kalo pas dateng kotor dan hewannya kurus, keliatan takut dan gak hepi. Untungnya sih kesangsian saya segera musnah πŸ˜€

    Ohya, ada bibit tanaman dijual juga loh, dan rangkaian kebun berisi tomat, sayur mayur berjejer-jejer termasuk yang di tanam secara hidroponik. Seger banget berada di Lt.10 sambil sesekali melongok memandang kota Bandung yang mulai mendung, hehehe.

     

    monggo yang suka berkebun πŸ˜€

     

    Untuk kolam renangnya, dibedakan ada kolam renang anak dan kolam renang dewasa. Airnya dingiiiinn, gak ada penghangat, jadi siap-siap minyak telon yang banyak kalau berenang πŸ˜€ Disediakan prosotan juga di kolam renang anak, sayangnya sesuka nya Baby M sama prosotan ternyata doi masih takut nyemplung ke kolam renang :’)

    Pas masuk area kolam renang tinggal sebutin nomer kamar, kami langsung diberikan dua buah handuk besar berwarna biru. Disini anak-anak tidak boleh pinjam ban renang, bolehnya sewa seharga Rp.50.000,- per 30 menit. Lumayan mahal sih menurut saya. Ala agak nanggung gitu, mo jadi hotel ramah anak tapi untuk ban renang aja kudu sewa bok. Tapi ini opini pribadi ya…

    body emak-emak sudah bleberean kemana-mana πŸ˜€
    area playground kedua yang terletak di Lt.10 north towernya Grand Tjokro Bandung. image source: www.archipelagos.id

    ada sanbox dilengkapi shower untuk membersihkan diri sehabis main pasir πŸ˜€

     

    Ketika kami tinggal di Grand Tjokro Bandung, ternyata pas apes mereka lagi host beberapa event. Selain banyak orang lalu lalang, juga besokan nya saat breakfast kapasitas restoran gak bisa nampung semua tamu πŸ™ Jeleknya sistem manajemen restoran Grand Tjokro adalah, saat kami tiba di restoran untuk breakfast (sekitar pk.08.00 pagi), dua orang usher dipintu masuk cuma nanya kami dari kamar nomor berapa. Setelah nomor kamar di catat kami dipersilahkan masuk. Padahal seharusnya kalo kapasitas ruang makan full, manajemen harus mengantisipasi dengan memberlakukan “buka tutup” atau antrian masuk ke restoran harus di hitung. Jadi tamu yang dipersilahkan masuk adalah tamu dengan jumlah pax yang sudah ada tempat duduknya di dalam! Ini sistem manajemen restoran yang diberlakukan oleh Mulia Hotel Nusa Dua Bali saat kami menginap di sana tahun lalu. Gunanya untukΒ  mencegah tamu wandering around di dalam area makan buat nyari-nyari tempat duduk yang gak ada karena full. Apalagi ini kan menggadang kata-kata hotel ramah anak ya, seharusnya paham dong kalo orang tua nenteng-nenteng anak toddler sambil muterin ruang makan berkali-kali tapi gak dapet meja makan bakal jadi emosi senggol bacok? πŸ˜€

    Untuk menu sarapannya sih kami cukup puas ya, lengkap mulai dari masakan tradisional (ketan, bubur, sayur asem), western (lasagna, potato wedges, greek salads), chinese (chasiu) sampai japanese (miso, sushi)… dijamin perut kenyang dan puas. Eskrim pun banyak pilihan rasa, monggo di pilih dan diambil berkali-kali gak akan di plototin sama petugas ramah yang dinas di bagian eskrim kok πŸ˜€

    Selama dua kali makan pagi di sini kami selalu dapat babychair/kursi makan anak yang lengkap dengan seatbelt nya. Ini penting banget loh, karena menurut saya percuma deh nyediain kursi makan anak tapi gak ada seatbeltnya. Dalam hal ini Grand Tjokro menang sedikit daripada Padma hotel Bandung yang sekalipun harga menginap lebih mahal, tapi kursi makan anak dikasi dalam keadaan kotor dan gak ada seatbelt :’) Trauma dot com hehehe.

    suasana ramai ruang makan di pagi hari
    kenikmatan sushi dinilai dari berasnya dan bahan di dalam balutan sushi. Dalam hal ini sushi Grand Tjokro nilainya 6,5 dari 10
    Kid’s Corner terletak di luar restoran persis. Ada juga mini cinema, tapi kami tidak sempat mencoba

    Cookie gajah ini bisa di hias, ambil sprinkle dan dough dari kid’s corner. Tapi biar baby M gak kena gula pagi-pagi, jadinya makan polos saja ya, nak πŸ˜€

     

    Kalo dirinci satu-satu ada menu apa saja, post ini bakalan berjilid-jilid macem demo 212 πŸ˜€ Pokoknnya kalo dalam hal menu makanan breakfast sih kami puas banget deh, gak akan nyesel kayak pas liat playground nya hehehe… Rasanya juga cocok di lidah saya dan suami. Oh ya, pas kami (akhirnya!) duduk, ada pelayan nanya, “Pak, Bu, mau teh atau kopi?” suami saya bilang “kopi”, sementara saya berbisik skeptis di telinga suami, “ih pasti basa basi deh kagak dianter! Kan lagi rame, pasti lupa”… ini gara-gara pengalaman di Padma hotel Bandung dimana kami dihadapkan oleh pertanyaan yang sama, dijawab, dan minumannya gak dianter sodara-sodara πŸ˜€

    Suami cuma senyum tipis, dan beberapa saat kemudian… pelayan yang sama nongol menuangkan kopi ke cangkir putih. Oke, daku sudah seuzon :’)

    hari kedua saat sarapan pagi, kaget juga ada kayak ginian. Bagus banget nih sebagai reminder kami para tamu, supaya gak buang-buang makanan. Ambillah secukupnya ya pakbapak buibuk.

     

    Oh ya, kami juga cukup kecewa ya sama Grand Tjokro Bandung karena kamar kami kelihatan banget gak terawat. Ini ditandai dengan dinding yang terkelupas dan “keliatan berjamur”, dan sofa sobek. Kesannya jadi kayak losmen, bukannya hotel yang smalam minta Rp.750.000+ kan…

    —–

    Kesimpulan menginap selama tiga hari dua malam di hotel Grand Tjokro Bandung:

    PROS:

    + Banyak tempat permainan anak (dua playground), mini zoo, dll.

    + Spa nya buka sampai jam 23.00 wib loh :’) lumayan banget abis pulang muterin Bandung langsung aja ke Lt.10 untuk spa dulu hehehe,

    + Menu makanan paginya lengkap dan enak,

    + Pelayan di ruang makan cukup nice, gak bakal diplototin atau di manyun-in kalo nambah terus terutama minta eskrim terus πŸ˜€

    + Mini zoo nya bersih!

    + Ada supermarket di area Hotel, jadi gak perlu capek-capek nyebrang,

    + Posisi hotel di tengah kota Bandung, kemana-mana deket,

    + Ada kulkas di dalam kamar! Yeay!

    + Kursi makan anak sejauh ini selalu dapet yang ada seatbelt nya.

     

    CONS:

    – Kamarnya kotor,

    House keeping gak nyediain cukup tisu, sudah mo abis ya dibiarinin aja,

    Safety box di dalam kamar gak bisa dipakai,

    Playground nya kotor banget terutama yang di area lobi utama,

    – Manajemen ruang makan jelek, siap-siap keliling begok kalo lagi full capacity,

    – Beberapa properti di dalam kamar sudah rusak (sofa di kamar sudah jebol dan sobek, dinding di kamar dekat kasur sudah “berjamur”dan cat terkelupas”), jadi terkesan jorok dan gak serius dalam mengurus hotel,

    – Kurang dapet kesan “ramah anak” karena kebanyakan kotor, dan rusak (kecuali ruang makan dan mini zoo ya…) jadinya agak kecewa sih.

     

    Have a good and healthy day! πŸ™‚

     

  • Motherhood

    Softplay Funworld, Taman Anggrek Mall.

     

    Saya rutin mengajak baby M main ke playground, dulu malah terjadwal seminggu sekali pasti kami menyambangi beberapa playground seputaran Jakarta Barat. Selain untuk mengusir kebosanan, juga supaya baby M bisa “learnt something” yang dia gak dapet kalo cuma mendem di rumah saja; seperti bersosialisasi (gak takutan kalo ketemu orang), kepercayaan diri (mencoba permainan baru), termasuk manner (harus antrian sebelum masuk arena) πŸ™‚

    Saat ini saya dan baby M lagi suka ke arena soft play nya FUNWORLD yang terletak di Taman Anggrek Mall, lantai 3. Namun saat kami datang, ternyata ada sedikit perubahan di arena soft play, yakni ditambah area untuk pesta ulang tahun anak. Demi adanya area ulang tahun ini rupanya ada satu permainan yang “dikorbanin”, yaitu kastil-kastilan dan bricks susun yang terbuat dari bantal.

    Untuk bisa masuk ke permaian soft play semua anak dan pendampingnya wajib memakai kaus kaki. Biaya sudah include satu pendamping per satu anak, enaknya di sini ada pilihan waktu berapa lama kita mau main di area soft play. Pilihannya untuk week day adalah Rp. 69.000,- untuk 60 menit waktu bermain, atau Rp. 99.000,- untuk sepuasnya (menurut penjagaΒ soft playΒ nya Funworld, yang sepuasnya ini boleh keluar masuk untuk makan/ganti popok, selama wrist band anak dan pendamping belum di copot). Menurut saya harganya terbilang oke di kantong, dan permainannya juga lumayan πŸ˜€ Bayarnya nanti pakai kartu Funworld, buat yang gak punya bisa sekalian dapetin si kartu saat top up, kartunya gratis πŸ˜€

    Saya top up langsung Rp.250.000,- di berikan cashback 20% plus vocer diskon kalau mau beli popcorn. Lumayan dot com hehehe.

     

    cekidot daftar harganya ya bun, kami datang di bulan November 2018
    kartu untuk dipakai bermain di seluruh area Funworld Taman Anggrek, termasuk kalau mau bawa anak main di area soft play πŸ™‚

    baby M gak sabar mo masuk ke soft play, jadinya wrist band di tempel di punggung aja, gak mau dipake di tangan πŸ˜€

     

    Berhubung saya sudah gak kerja lagi (selain freelance), saya dan baby M kebanyakan pergi jalan-jalan kalau weekday. Selain tentunya lebih sepi, juga harganya lebih murah (emak-emak style amat yaa)…

    Namun sayangnya, soft play di Funworld Taman Anggrek berantakan bangett sekalipun saat itu tidak banyak toddlers/anak-anak yang berada di area. Saya lihat ada dua atau tiga petugas yang berjaga di area, tapi mereka sama sekali tidak ada inisiatif merapikan permainan. Semuanya buyar, terutama di bagian role playing area. Sudah gak jelas semua mainan campur aduk, kotor dan nyelip-nyelip, sampai saya gemas ngeliatnya. Ini petugas kok santai-santai makan gaji buta, gak seperti playground saingan di mall yang sama, yang petugasnya sigap banget di setiap area bermain untuk ngerapiin beberes dll. Anak-anak dan para pendamping yang akan menggunakan properti pun senang kan, kalau rapi πŸ™

    area role playing yang isinya berantakan banget dan pada kotor πŸ™ semua properti di bagian cafe dan mechanical sudah gak tau lagi kemana….sediiih..
    kondisi paling “mending” yang saya temukan. Bagian role playing lain, waduh beneran kacau acak kadut πŸ˜€
    mau main di role playing mechaning, tapi kok….. semua properti mainan nya ilang? Bagaimana ini Funworld Taman Anggrek.. πŸ™

     

    Untuk luasnya sendiri sebenarnya gak luas-luas amat, tapi saya dan baby M cukup nyaman. Berhubung anak saya laki-laki, doyanan nya mainan mobil. Nah di sini mobil-mobilannya ada banyak, kalo gak salah saya lihat ada empat, plus ada bagian untuk tracking segala. Ini penting banget, untuk toddler boy yang emang pasti carinya mobil-mobilan. Dulu saya pernah ke playground di salah satu Mall kelas atas yang terletak di Jakarta Pusat, tapi malah gak invest di mobil-mobilan (dia cuma punya satu, sehingga beberapa toddler harus rebutan untuk bermain). Walau memang, masih kalah sedikit investasi mobil-mobilan nya sama playground tetangga yang terletak di lantai 02 πŸ˜€

    Kolam bola Funworld termasuk bersih, ada banyak prosotan sehingga anak-anak tidak perlu rebutan, cukup diajari antri pasti mereka sudah bisa bermain dengan aman dan leluasa πŸ˜€

    Ini penting menurut saya, karena beberapa kali saya perhatikan orang tua “lalai” tidak mengajarkan anak hal sesimpel MENGANTRI. Anak yang sudah meluncur dari prosotan, misalnya, kalo gak diajarin antri dan naik lewat tangga pasti maunya “potong jalur” manjat lagiΒ  lewat sluncuran. Bayangkan bila ada anak lain yang sudah di posisi meluncur… apa gak bahaya… dan semuanya ini berawal dari ajaran kita sebagai orang tua untuk selalu punya manner yang baik di tempat umum.

     

    playground adalah tempat anak belajar bersosialisasi, serta menerapkan manner sederhana πŸ˜€

    —–

    Kesimpulan saya tentang arena soft play di FUNWORLD Taman Anggrek Mall:

    PROS:

    1. Harganya wajar dan ada pilihan waktu (60Β  menit, atau sepuasnya),

    2. Anak diperbolehkan keluar masuk arena untuk makan/ganti popok karena mereka memang tidak menyediakan nursing/changing pod di dalam Funworld,

    3. Prosotannya ada banyak!,

    4. Mobil-mobilannya lebih dari tiga (penting, bagi yang punya anak demen mobil hehehe),

    5. Ada loker yang dilengkapi kunci untuk barang bawaan pendamping, sehingga menghindarkan dari hal-hal tidak menyenangkan seperti kasus ibu di playground PI yang sepatunya diambil orang…

     

    CONS:

    1. BERANTAKAN BANGET untuk area role playing nya,

    2. Petugas yang berjaga di arena soft play kelihatan malas, tidak ada inisiatif sama sekali,

    3. Ada beberapa bagian yang kotor (berdebu),

    4. Tidak ada aktifitas sensory play sama sekali.

     

    Have a good and healthy day, people! πŸ™‚

  • Travel

    Yello Hotel Paskal, Bandung.

     

    Saat berlibur ke Bandung, kami mencoba hotel “baru” di wilayah Pasir Kaliki (Paskal) yang lokasinya persis menyatu dengan mall Paskal 23, Bandung πŸ˜€ Nama hotel ini “YELLO“. Kami mengambil kamar tanpa breakfast, mengingat posisi hotel yang persis menyatu dengan mall Paskal 23, jadi kami tinggal turun ke lobby cia terus masuk deh ke mall dan pilih sendiri “breakfast” yang ada di dalam mall hehe… (dalam hal ini baby M minta masuk ke Genki Sushi) πŸ˜›

     

    dinding intagram-able yang eye catching di lobby Yello Hotel

     

    Untuk mencapai Yello hotel ini perlu naik dua lift, cukup repot apalagi kalau antrian panjang, jadi butuh waktu ekstra untuk mencapai kamar kami yang terletak di lantai 9 πŸ˜€Β  Akses Yello hotel ini tinggal masuk melalui lobby Cia di mall Paskal 23, disini kami disambut dengan usher dan petugas keamanan yang sangat ramah. Interior lobby pertama Yello hotel cocok banget buat para instagrammers – sayang saya kurang instagramable jadi langsung deh nyelonong ke lift yang terletak di ujung, untuk mencapai ke lobby utama Yello.

    Lobby “utama” tempat tamu di proses check in nya ada di lantai 4, begitu keluar lift langsung ada common room lengkap dengan kuda-kudaan, X-BOX, iPad, dan perlengkapan game lainnya. Berhubung saya kurang gamers, jadinya kami tidak terlalu menaruh perhatian dengan common room ini (yang tentunya ramai dengan anak- anak dan remaja πŸ˜€ )

    Proses check in terbilang cepat walaupun hanya satu reception yang buka (padahal ada dua meja nya), dan kami segera naik lift (lift lagi!) untuk menuju ke kamar. Berbeda dengan hotel kami satunya, kali ini di Yello kami mendapat pemandangan kota Bandung. Walau agak mendung, tapi it was such a nice one mengingat di hotel sebelumnya kami “cuma” dapat pemandangan tembok/jendela kamar lain tiap kali buka korden, hehehe.

     

    pemandangan kota Bandung yang mulai mendung dari kamar kami di lantai 9

     

    Satu hal yang kami notice dari Yello, adalah :Β  gilak staffnya ramah-ramah banget! Mereka gak akan sungkan untuk menyapa kita walau kita sudah belaga sibuk sendiri. Sambutan “selamat siang bu! Siang, pak!” udah biasa banget tiap kali kami bolak balik keluyuran di sekitar Yello. Untuk tamu dengan intorvert personalities kayaknya bakal jadi anxiety tersendiri, tapi saya selalu make sure untuk menyapa balik para staf ini.Β  Kelihatan banget staf yang “terpaksa” menyapa tamu karena SOP, dengan yang memang merasa bahwa hospitality merupakan bagian pekerjaan di hotel πŸ™‚

    Saya pribadi sangat menyukai kamar kami di Yello. Sesuai namanya, interior kamar di dominasi putih dan tentunya kuning. Untuk yang suka selfie atau sekedar foto-foto instagram saya jamin betah, karena : LIGHTNING NYA BAGUS BANGET! Posisi kamar kami di tempat tinggi sehingga lightning alami dari jendela juga membantu, plus ada kaca full body untuk selfie OOTD , atau lampu di cermin kamar mandi yang tentunya cantik banget untuk foto-foto narsis :p

     

    isn’t it pretty??

    anti mainstream slippers πŸ™‚
    eye catching things everywhere

     

    Kami tidak bisa berkomentar lebih banyak mengenai breakfast, karena kami memang tidak mengambil paket tersebut. Kalau dilihat sih restorannya kecil banget, entah bagaimana kalau pas high season / high occupancy apakah bisa menampung atau tidak? Saya pernah merasakan hotel-hotel besar bahkan hotel bintang lima yang kewalahan dalam manajemen breakfast ketika tingkat okupansi sedang tinggi-tingginya. Nah ini restorannya beneran mungil banget, lebih mirip coffee shop malah πŸ˜€

    Kolam renang Yello pun sangat mungil, ada kolam renang dewasa dan anak-anak. Suami saya sempat berenang pagi, tapi saya dan baby M memilih leha-leha nonton tv cabel dikamar, hehehe. Secara garis besar, hotel ini cukup value of money, apalagi terletak dekat banget sama stasiun Bandung. Saat check out kami memesan Grab dan hanya membayar Rp.10.000,- saja saking dekatnya!

    Interior kamar dan segala pernak pernik di dalamnya pun semua bagus, gres, bersih pula. Kami harap Yello mempertahankan hal-hal yang baik bahkan kalau bisa ditingkatkan di kemudian hari, karena kami pasti kembali ke Yello hotel Paskal kalau berlibur ke Bandung lagi πŸ˜€

    ————

    Berdasarkan pengalaman kami di Yello Hotel Paskal, Bandung :

    PROS

    + Kamar di Yello masih bersih dan rapi (ini penting banget buat saya yang bawa anak usia dua tahun!),

    + Perlengkapan kamar lengkap, dalam artian house keeping did their job nicely (tisu toilet dipastikan ada! Simple tapi saya sering kali terganggu dengan house keeping yang malas, kalau tisu toilet sudah mau habis bukannya diganti tapi “dibiarkan” saja sehingga tamu tidak nyaman dan harus menelepon reception untuk diantarkan tisu yang baru),

    +View nya kota Bandung,

    + Staf-stafnya ramah banget dan akomodir tamu,

    + Ada safety box di dalam kamar,

    + VALUE OF MONEY (kami menginap semalam kena harga Rp.320.000,- saja, tapi non breakfast ya),

    + Kaca kamar mandi ada built-in lampu πŸ˜€

     

    CONS

    – Kolam renangnya kecil, saat kami datang sudah ramai sehingga tidak nyaman,

    Dining hall nya kecil (mengkhawatirkan kalo nginep pas high season, mending cari makan langsung di mall Paskal),

    – Untuk mencapai kamar capek harus melewati banyak lift :’)

    – Gak cocok untuk staycation karena gak banyak yang bisa di tawarkan oleh hotel sendiri dalam hal entertainment.

    – DiΒ  kamar gak ada kulkas (maklum sih sebenernya karena ini kan budget hotel itungannya. Tapi kalo ada bakal perfect buangettt *makmak style)

     

    Have a good and healthy day, people! πŸ™‚

  • Travel

    Naik Kereta Api ke Bandung.

    Kereta Api Parahyangan jurusan Jakarta Gambir – Bandung.

     

    Beberapa minggu sebelum saya dan suami mengajak baby M jalan-jalan ke Bandung, kami sudah memperlihatkan gambar/foto kereta api ke baby M. Ini sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali akan membawa anak bepergian terutama bila perjalanan lebih dari dua jam (Jakarta – Bandung menaiki kereta api ditempuh selama tiga jam lima belas menit), guna menghindari anak rewel di jalan akibat bosan, takut, dan lain sebagainya. Perlengkapan seperti popok disposable, air minum + sedotan, susu UHT, mainan, jaket, pakaian ganti, juga tak ketinggalan di packing dalam tas.

    Kami juga selalu memilih jam travel dimana dekat jam tidur anak, sehingga tak lama setelah kereta bergerak dari stasiun Gambir, anak sudah terlelap. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak baby M travelling ke China (dua belas jam penerbangan, termasuk transit di Hong Kong) dan ke Bali (dua jam perjalanan). Bahkan saat ke Yogyakarta (satu jam perjalanan) pun tak luput dari pemilihan jam traveling saat waktu tidur, hehehe. Ini karena baby M sangat aktif (ever heard about that “terrible two”?) sehingga demi kenyamanan dan keamanan bersama serta pihak-pihak dalam moda transportasi publik, sebaiknya baby M tak lama setelah duduk di pesawat/kereta langsung bablas tidur hehehe…

    Tiket kereta kami berangkat pukul 10.00 WIB dari stasiun Gambir, Jakarta. Baby M sudah bangun dari jam 07.00 pagi. Wah, sudah pas nih waktunya, pikir saya. Sekitar pk.11.00 WIB pasti anak saya ini sudah siap-siap minta nemplok tidur siang… Tentunya para orang tua yang paling mengenal sifat/karakter serta jam tidur anak ya, sehingga tips saya untuk travelling parents baiknya menyesuaikan dengan jam tidur anak. Kalau saya dan suami lebih nyaman anak tidur di perjalanan πŸ™‚ Selain tidak mengganggu penumpang lain, saat tiba di tujuan pun anak sudah well rested.

     

    senangnya kereta api sekarang jarak dekat maupun jauh sudah ada soket listrik. Nonton HBO GO pun leluasa πŸ™‚

     

    Dahulu jaman saya masih SD, orang tua saya kalau naik kereta api ke Jawa pasti nge-pack banyak sekali makanan: nasi, lauk, serta berbotol-botol minuman. Saya dan adik saya sampai kesal karena harus menggotong ekstra barang πŸ™‚ Alasan mereka kala itu klasik sekali, “Kalau beli makanan di kereta mahal!”

    Lantas, bagaimana sekarang??

    Ohoho, saya senang sekali mengetahui bahwa sekarang haus dan lapar tidak perlu khawatir, apalagi sampai menggotong berkotak-kotak bekal! Restoran Kereta Api (“RESKA”) sekarang sudah bagus banget, dan terutama harganya tidak boleh mencekik leher orang yang lapar dan haus πŸ˜€ Harganya sangat bersahabat di kantong! Okelah mungkin ada perbedaan seribu atau lima ribu dengan di Alfamart (tergantung produknya), tapi menurut saya masih sangat masuk akal.

    Bahkan seluruh staf dan pegawai KAI menurut saya sudah banyak perubahan sikap. Semenjak kami turun di stasiun Gambir dan stasiun Bandung, kesemuanya sangat ramah dan membantu. Porter pun tidak memaksa dan tidak tersinggung bila ditolak (monmaap ya pak…) sementara saya ingat dahulu porter akan memaksa bahkan dengan lancang langsung menggotong barang kita bak maling aja… KAI rupanya sudah membenahi diri, dan kami sangat senang sekali menggunakan jasa KAI sekarang. Kiranya dipertahankan dan makin di tingkatkan, karena satu-satunya yang masih membuat saya enek kalau naik kereta adalah : TOILETNYA! :’)

     

    sebelumnya monmaap kuku belum kena menicure πŸ˜€ ini coklat panas seharga Rp.10.000,- yang saya beli dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta πŸ™‚
    baby M awalnya takut saat baru masuk ke gerbong, tapi setelah beberapa saat jalan-jalan “mengenal” isi gerbong, mulai tenang dan minta duduk sendiri πŸ˜€ Untung saja kursi ini kosong jadi baby M sempat “merasakan” duduk ala-ala πŸ˜€

     

    Oya, bagi orang tua dan balita yang travelling menggunakan kereta api, di stasiun Gambir dan stasiun Bandung saya lihat ada area playground juga untuk anak-anak. Sepintas saya juga lihat nursery / ruang menyusui, tapi saya tidak sempat mengintip ke dalam apakah terawat/tidak?

    Kalau untuk area playground di stasiun Gambir, karpetnya kotor dan butuh perhatian khusus, tapi mainannya cukup rapi πŸ˜€ Sementara area yang di stasiun Bandung jujur saja saya tidak sempat memperhatikan, karena sudah buru-buru di jemput.

    Sejak saya punya anak, saya sangat merasakan pentingnya nursery (tempat untuk menyusui dan ganti popok anak) dan playground area. Bukan tugas mudah lho, bepergian dengan anak-anak apalagi yang masih kecil. Kalau sudah bosan wah itu bahaya buibuk pakbapak. That’s why saya seringkali browsing dulu hotel mana yang ramah anak? Apakah brand transportasi yang akan kami pilih ramah anak?

    Terlihat simpel, tapi penting banget. Bagaimanapun kalau anak happy orang tuanya pasti juga ikut happy dan perjalanan lancar, serta tidak “mengganggu” pihak-pihak/penumpang lain πŸ˜€

    asyik mandangin kereta lalu lalang di stasiun, lalu dadah-dadah sendiri ke kereta lewat πŸ™‚

     

    Terimakasih KAI, sampai jumpa di perjalanan berikutnya πŸ˜€

  • Mental Health

    Darkness and The Light.

    image source: Pinterest

     

    Have you ever felt so overwhelm, as ifΒ  four walls closing in; or feeling like drowning,Β  suffocating and your body trembling?

    Have you ever lie on your bed and think, I am not belong here.

    Or you thought to yourself that I cannot take it anymore.

    Have you got so anxious that even the smallest memory or the tiniest hint of a sound scare you as fuck, you almost vomit?

    And then when you look around there is no help.

    All you see are fingers, pointing madly at you.

    YOU, they whispered. YOU.

    Judging with their eyes, with their voices and all of their foul souls.

     

    But YOU MATTERED.

    One or two person does not define your light. They did forged darkness to you, but darkness is needed to make light appreciated.

    And, my darling, YOU ARE THE LIGHT.

    #AnxietyBlob of Pinterest

     

  • Uncategorized

    Hello!

    So.

    I decided to write again.

    A little background, I used to write. Like, a lot, in my younger times. I even had a blog contained my short stories and poem (good times, Friendster, thanks) and another in Blogspot served as an online journal. I ditched writing for quite some time, gave all my time, energy and writing “skills” into my job (I am a licensed Legal Advocate).

    Then one day, 14 November 2018, I woke up and realized I need to write again, for the sake of my sanity. Since I have my son (now 22 months old, that little ass kicker <3) I now rarely represent clients in Courts. I become a stay-at-home-mum, with all its glory and sleep deprivations (husband live in another city, but thats another story).

    Fast forward 24 hours since that “awakening”, I purchased a domain. Which should be named “Binge Theraphy” but yeay me didn’t check the right spelling, and at the end of check-out I cannot used “Binge Theraphy” as it is not the right spelling, and “Binge Therapy” already got an owner. So bye. I looked around my messy desk, and thought, heck, I drink green tea every morning for my skin (it helps, truly), let’s name this online Journal green tea for my soul!

    Then i purchased the domain, with the help of my more tech-savvy brother. So thank you, Brother. This first post is for you! πŸ˜‰ (well, after i rant about myself tho)

    I knew I won’t be writing about lifestyles unless it include dirty diapers, potty training in near future, or beauty (hormonal acne loves me), no. I write what I love, I share what I need to share. I write for my own mental health since everyone deserve a healthy mind and healthy body. In the end, I hope if you ever find this online journal and (maybe–hopefully)Β  relate to my bubble, I wish you too a healthy mind and body.

    Thank you, Bro, you helped your technology illiterate sister to set up this online journal.