Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Travel

    Iconic Kafe, Yogyakarta.

    Sore ini saya penasaran ingin mengunjungi salah satu kafe yang sering di datangi salah satu keponakan saya di Yogyakarta. Kafe yang terletak di Jalan Magelang KM 5,8 ini sebenernya sudah berada di luar kota Yogya sendiri, alias sudah masuk kabupaten. Posisinya persis depan belakang sama Jogja City Mall 😀

    Kalau dari namanya sendiri gak terlalu menggugah ya, karena simpel sekali. Nama Kafe yang bikin saya penasaran ini ICONIC.

    Lantas apa sih yang bikin saya penasaran tiap kali keponakan saya dan mamanya posting lagi main di sini?

    Kafe Iconic ini beda dari yang pernah saya datangi; emang gak banyak sih karena bukan tukang kongkow juga hehehe… Tapi, begitu menginjakkan kaki di Iconic, aduh saya bener-bener jatuh hati. Kafe ini sangat memperhatikan estetika arsitektur, interior dan terutama… BANYAK BANGET KOLEKSI ACTION FIGURE NYA! Gak heran kalo mereka mengklaim sebagai toys gallery!

    Saya jamin bagi pecinta action figure atau penggemar DC atau Marvel, bakal tergila-gila berada di kafe Iconic ini! Salah satu pemilik Kafe ini pasti seorang kolektor sejati. Saya belum pernah melihat koleksi yang begitu detail dan mendalam. Selain tokoh-tokoh DC, Marvel, juga sangat kentara sang pemilik fans berat Star Wars! Saya juga lihat ada The Lord of The Rings, Harry Potter universe, Terminator dan lain sebagainya. Sayang, sang kolektor tampaknya bukan fans Game of Thrones universe karena saya cuma spotting satu figurine iron throne saja 😀

    Secara garis besar, interior Iconic ini terbagi tiga: satu foyer untuk smoking area, ruang tengah yang full terisi action figure / figurine yang keren-keren, dan sisi paling depan Kafe tempat showcase gelato dan cakes mereka. Untuk harga makanan dan minumannya sendiri saya bilang sangat wajar untuk ambience dan situasi yang sangat nyaman! Saya salut banget sama seluruh pegawai Iconic yang gila sih ramah banget! Beneran loh, saya takjub, karena kayaknya seumur-umur saya baru kali ini masuk ke restoran/kafe yang 100% orang-orangnya ramah dan senyum serta berasa melayani tamu dari hati. Kudos to you, management Iconic! 😀

    Berhubung siang tadi saya kepengen banget ayam bakar nya Mbok Sabar, jadinya saya datang ke Iconic dalam keadaan sudah kenyang. Saya tidak sempat mencicipi makanannya, dan hanya memesan minuman namanya MOCKINGJAY. Saya pesan minuman ini karena teringat Katniss Everdeen idola saya dalam serial Hunger Games :p Entah bener atau gak kenapa di namain Mockingjay, yang pasti minuman ini jenis fusion dari jeruk yuzu, teh hitam, madu, dan soda. Rasanya? Hmmm saya sih cocok ya, dan mereka gak pelit kasih madu nya, harganya cukup dengan Rp.33.000,- saja… ah gilak, kayaknya saya bakal masukin Iconic ini sebagai tempat wajib dateng lagi setiap ke Yogyakarta deh…

    kita intip dulu yuk, menunya 😀 kira-kira cocok tidak?

    Tau ga sih apa yang bikin saya shock?

    Kayaknya si pemilik ini punya spot khusus untuk Star Wars.

    Doi sampe bela-belain bikin replika pesawatnya Darth Vader bok! Sayangnya saya gak terlalu ngikutin Star Wars, cuma tau sepotong-sepotong aja. Nah kita bisa temuin replika pesawat si om Darth ini sebagai jalur penghubung dari main dining room ke ruang makan kedua yang full di isi koleksi figurine. Gilanya lagi, ni owner/collector gak setengah-setengah bikin tu replika. Why? Simply karena lengkap sama pintunya dong! Jadi ni pintu otomatis bakal kebuka ala pesawat gitu! Beneran deh, buat kalian yang fans berat Star Wars bae-bae ke Iconic ini, di jamin sange! 😀

    ini loh pintu otomatis yang saya maksud, jadi pintunya kebuka otomatis ke ruang makan kedua. Ciamik banget bok di buat kayak pintu pesawat. Salut! Abaikan ada photobomb dari mas di samping, hehehe
    Baby M ga suka sama Master Yoda 🙁

    Figurine ini bikin saya sedih 🙁

    Tau ga ini diorama 3D apa? Ini adegan pertempuran di film Iron Man 3!! WAGELASEHHHHHH 😀

    Sebenernya saya pengen banget fotoin satu-satu figurine di toys gallery Iconic… tapi oh tapiii… selain waktu dan tentunya kuota dalam meng-upload gambar serta semya foto di journal saya ini cuma di ambil pake Iphone, jadi monmaap sangat seadanya 😀 Buat yang udah sange pengen liat Iconic buruan dateng ke Yogyakarta, pake Waze/Google Maps masukin “ICONIC” pasti ketemu, atau pake  JOGJA CITY MALL 😀

    Baby M masih terlalu kecil untuk ngerti kenapa mamanya heboh banget masuk ke sini, hahaha… Bahkan bapaknya baby M yang nggak se-nerd istrinya aja sampe keliatan cukup amazed pas masuk ke area makan di toys gallery. Someday, my son, Mommy will teach you all about muggles, the one ring to rule them all, and why winter is coming :p

    Diorama Bat Cave!
    and when you tried to lure your son to the dark force :p

    ICONIC CAFE, Yogyakarta.

    Jalan Magelang KM 5,8 persis depannya Jogja City Mall.

    PROS

    + tempatnya bersih, cahaya bagus, instagramable,

    + harganya menurut saya masih wajar dan porsinya juga wajar,

    + gila pelayannya semuanya ramah banget!,

    + ada baby chair lengkap dengan seat belt,

    + dari ujung ke ujung semua figurine bersih gak ada debu, raknya juga sama,

    + rasa minumannya sih enak (next balik pengen coba gelato sama makanannya),

    + koleksi mainannya gak main-main!

    + liat dari media sosialnya sih mereka kreatif bangetttt gilaakk…

    CONS

    Saat ini belum ada, tapi rencana dalam waktu dekat mau liburan lagi ke Yogya. Nah mau balik lagi ke Iconic… apakah saat itu Iconic tetap mempertahankan kemumpunian nya, ataukah menurun? We shall see… 😛

    I wish you all a good and healthy day!

  • Thoughts

    No, I am Not Okay.

    Saya baru saja selesai bertemu dengan RD, psikolog saya di Sanatorium Dharmawangsa. Saat menulis ini saya duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak beberapa meter dari Sanatorium. Namanya Escape Coffee. Tempatnya cukup nyaman, sejuk, tapi baristanya berisik dan minuman-minumannya (saya vow untuk mencicipi setiap menu minumannya, hehehe) sejauh ini belum ada yang cocok di lidah. Okay, mungkin cuban rum choco nya juara, tapi belum sampe bikin ketagihan 😛

    Selama saya duduk sendirian menghadapi laptop dan earphone yang sebenarnya tidak memutar lagu apa-apa (only to send the message: “Leave me be!”), saya kebetulan mendengar dua percakapan dari dua orang berbeda yang duduk dekat meja saya.

    Percakapan pertama, si nona meja sebelah memanggil barista dan minta segelas air lagi.

    Nona: Mas! Mas, sini. *masnya dateng* Bisa tolong isi air lagi gak?

    Barista: Baik, bu, sebentar ya. *gak lama balik dengan segelas air* Ini ya bu.

    Nona: Ya.

    Percakapan kedua, tante di seberang meja saya, mencicipi minuman yang baru diantar barista, lalu segera bangkit dari sofa dan menghampiri mas Barista ke counter.

    Tante: Mas, ini kemanisan, tolong dibuatkan lagi ya!

    Barista: Oh… iya, bu. *pasrah*

    Mendengar dan menyaksikan dua percakapan diatas, saya otomatis berpikir:

    1. Wah gila sih kagak ada makasih-makasihnya,
    2. Demanding amat bok.

    Kemudian saya berpikir…… sebagai person, apakah saya mungkin juga seperti dua poin saya diatas? Bahwa saya tidak tau terimakasih, dan seorang yang demanding? Saya sempat terdiam sejenak (walau memang diam aja sih, karena sendirian gak ada temen ngobrol hehehe), dan merefleksikan ke hidup saya beberapa waktu belakangan. Kebetulan kemarin saya sempat dihantui intrusive thoughts tentang seseorang. Sebut saja sahabat ini (atau lebih tepatnya, mantan sahabat) bernama A.

    Dahulu semasa kami masih berteman sangat erat, saya type yang akan melakukan segala hal dalam kemampuan saya, semaksimal mungkin, untuk sahabat-sahabat circle one saya–termasuk si A ini. Ada suatu momen dimana saya khawatir akan diri A, walau tampaknya A sendiri tidak masalah dengan kondisinya, dan saya berusaha me-level-up-kan A.Saya berusaha memperbaiki penampilan A dan membantunya menemukan seorang pendamping. Saya bahkan marah bila ada orang yang menyinggung single life A, saya tidak suka A di sindir. Yes, I am that protective, and maybe I was wrong. Mungkin saya keterlaluan? Apakah saya menyinggung A? Saya tidak tau, karena kami tidak lagi bicara, dan saya shut people out ketika saya berada di jurang terdalam depresi. She did not bother to reach out to me when I am in my deepest shit, to ask whether I am okay or not, am I still alive and well, until this day, and I guess that was it.

    Intrusive thoughts yang menghantui saya beberapa hari ini adalah perasaan kosong karena saya merasa di buang. Akhirnya A menemukan pendamping, dan ketika saya shut people out, ia tidak bother untuk reach out menanyakan keadaan saya langsung. I feel betrayed.

    She (finally) found a guy, and she “dumped” me. Saya merasa seperti sampah. Benar-benar seperti sampah, yang dibuang dan tidak dipedulikan ketika orang sudah mendapatkan yang lain dan lebih baik. Apakah saya sejelek itu? Apakah saya sehina itu?

    Apakah saya seperti dua perempuan yang saya saksikan di coffee shop ini?

    Apakah saya orang yang demanding?

    Saya banyak mengkritik diri saya sendiri, dan RD berulang kali mengingatkan untuk me-manage anger yang saya rasakan melalui terapi-terapinya.

    Terkadang sebagai manusia yang kita butuhkan hanya tangan yang terulur dan kata-kata menyejukkan seperti, “Hey, are you okay?” Sebab hanya orang tertentu dengan  kemampuan extra ordinary untuk dapat melakukan hal sesimpel menanyakan keadaan orang lain. Then i realised, my circle one whom I have known for 15 years as we grew up together, did not bother to ask this. One of them even being judgemental, and the other said I am a toxic person.

    Apakah saya benar demikian?

    Apakah saya memang layak dibuang?

    Apakah semua yang saya lakukan untuk “kami” tidak se-berharga itu?

    Ketika saya masuk ke ruangannya dan RD (selalu!) bertanya: How are you feeling?, sesungguhnya ada beberapa momen ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis atau menghantam meja atau menarik rambut saya–yang tidak saya lakukan karena decent people don’t do such thing (walau kalaupun saya kelepasan, saya yakin beliau maklum). Sebuah kalimat simple, tapi tidak semua orang (selain psikolog dan psikiater, tampaknya) bisa mengucapkannya dan really meant it.

    Saya belajar untuk mengingat kalimat tersebut, dan ketika mengucapkannya, saya harap saya bisa membantu orang lain. Saya tidak perlu doa dan wish omong kosong yang orang ucapkan ketika Natal/Tahun Baru, kata-kata kosong seperti “semoga blablabla” what the fuck, kalau orang yang mengetiknya tidak tulus? Bahkan tidak ada dan tidak peduli ketika orang yang ia klaim “doakan dan wish-kan” sebenarnya ingin mati? Dan bila benar orang itu mati, bukankah si “pemberi wish dan doa” (yang justru kehadirannya hanya omong kosong belaka) justru menanggung dosa akan nyawa yang melayang tersebut?

    Banyak orang mengklaim ini itu, tapi  ketika waktunya pembuktian, semuanya berlomba-lomba melarikan diri dengan berbagai alasan. Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya harap saya diberikan courage untuk berada bersama orang yang mempercayakan saya their darkest moments. Saya harap saya bisa membantu mereka semaksimal mungkin.

    Saya membawa banyak luka dan kekecewaan di tahun baru ini. Saya berusaha menjadi normal.

    Kalau ada dari kalian, my circle one, yang membaca ini, I am sorry, I truly am, for what I have done. Thank your for not reaching out to me in my darkest shit, thank you for running away when I need you the most. Thank you for saying that I should said please and beg. Thank you for reminding me that I am a toxic person. Thank you for the lesson, thank you for fifteen years we have been through.

    I understand if you were all not comfortable with me being sick, and I cannot force you to understand either, because you girls are not willing to understand.

    Thank you for breaking my heart, and leaving me when I need you girls the most. My only support system.

    I am sorry I left without explanation, I wish I had, but I could not because, hey, I am toxic and crazy, right. I tried to opened up and reveal my vulnerable side, but I only got judgement. I am afraid and I am full of anger. I knew I am sick, and I am sorry. I wish I was a good friend, and once I believed I had one.

    I let go.

    I wish you all a good and healthy day.

  • Travel

    Chin-Ma-Ya Ramen, Serpong.

     

    Saya tidak sengaja menemukan restoran ramen ini ketika pulang dari Q-Big, setelah membawa main baby M dan keponakan saya baby AA. Entah apa yang membuat sahabat saya memutar kemudi ke arah restoran ini, karena lokasinya menurut saya lumayan terpencil 😀 Rukonya cuma terdiri dari si restoran ramen dan Indomaret saja. Sekelilingnya masih lapangan luas, belum ada bangunan berarti.

    Sebagai penggemar pork, kami excited juga karena Chin-Ma-Ya menggunakan kaldu tonkotsu (pork bone broth). Sahabat saya, C, bahkan berani bilang kuah ramen Chin-Ma-Ya lebih enak dari Ippudo. Walau memang selera setiap orang berbeda, karena setelah bersantap malam dengan sahabat-sahabat saya, saat tahun baru saya mengajak keluarga untuk lunch disini. Nah, adik saya bilang dia sih lebih suka Ippudo 😀

    Interior dan eksterior Chin-Ma-Ya ini persis banget kayak di Jepang. Sebenarnya saya ingin mencoba bersantap di patio nya, tapi kebetulan rombongan kami agak full dan ada anak kecil, sehingga kami akhirnya duduk di lantai dua. Setiap sudut restoran bener-bener instagramable menurut saya. Para stafnya juga ramah dan mengakomodir tamu. Mereka menyediakan ruangan VIP menggunakan tatami dengan minimal order Rp.500.000,- cuma karena tempat duduknya gak ada senderan, jadinya kami pilih di kursi konvensional saja.

    keliatan nyaman banget kan…

    lantai dua tempat kami bersantap masih dalam suasana Natal. Naik tangganya lumayan juga 😀

    Harga makanannya tidak terlalu mahal dan ukuran mangkuk ramennya dibedakan per size. Saya selalu memesan ukuran small/regular, tidak pernah yang jumbo, dan rasanya kenyang-kenyang saja. Mereka juga menyediakan alkohol walau kayaknya tidak lengkap. Botol sake sih berjajar, tapi menu sake nya tidak ada di daftar menu. Selain ramen, juga ada hidangan pembuka seperti miso soup, edamame, ubur-ubur, dan salad. 

    Saya sempat menanyakan apakah mereka menyediakan chawan mushi yang jadi favorit baby M, namun rupanya spesialisasi mereka memang sebatas ramen saja. Sushi, dan kebanyakan makanan Jepang lainnya tidak ada. Favorit saya di sini adalah shoyu ramen nya, enak banget! 😀

    restoran ini gak halal ya, sodara-sodara! Tapi enaaaak 🙂

    Ngintip menunya dulu, yuk… walau saya gak sempat untuk fotoin setiap lembarnya huhuhu maaf yaa, tapi pasti banyak kok informasinya di internet 🙂

     

    Menariknya, konon kokinya sih orang Jepang ya, cuma saya lupa nanya langsung ke waiter 🙁 Mereka juga buka 24 jam lho! Gileee…kalo tinggal sekitaran Serpong,  kayaknya malem-malem enak nih mamam ramen panas di sini 😀 duh sayang kami tidak tinggal dekat area Chin-Ma-Ya, kalo nggak kayaknya bakal kesini terus, hehehe.

    Oya bagi yang menggunakan Waze atau Google Maps, kami sempat nyasar karena tanpa melihat alamat jelas Chin-Ma-Ya langsung masukin keyword. Ujung-ujungnya kami diarahkan ke lokasi lama Chin-Ma-Ya, dan untuk muter balik ke Ruko South Goldfinch itu lumayan jauh bok. Jadi sebelum pede jaya masukin keyword restoran ini ke GPS, di cek dulu ya itu diarahin ke alamat yang mana.

    Kesimpulan saya :

    CHIN-MA-YA Ramen (Non Halal)

    Springs Boulevard, Ruko South Goldfinch blok E1 – 5 Gading Serpong.

    + Harga cukup ramah di kantong,

    + Staff sigap dan ramah,

    + Lokasi bersih,

    + Menyediakan baby chair dengan seatbelt! (penting nih buat ibu-ibu dengan toddler),

    + Porsi makanan wajar (gak terlalu sedikit, juga tidak terlalu banyak),

    + Parkir luas dan ada satpamnya,

    + Dekorasi interior dan eksterior nyaman dan instagramable,

    + AC nya dingin banget, siap-siap pesen ocha hangat dan pake kardigan!

    Kekurangannya cuma satu…. Gak sedia chawan mushi 😛

     

    I wish you all a good and healthy day, Happy New Year!

  • Thoughts

    Hari Terakhir di Tahun 2018.

    image source: Pinterest

    Akhir tahun selalu bittersweet untuk saya. Di satu sisi saya bersyukur akan menutup tahun di belakang saya, tapi di sisi lain saya takut akan apa yang tahun baru bawa… Happiness? Misery? Fear? Hopes? Another abandonment? Kita tidak bisa menerka masa depan, hanya bisa berharap yang terbaik dan dikuatkan untuk melewati yang terburuk. Saya juga masih menata hati dari sakit dan hinaan yang saya terima beberapa saat lalu, mengenai kondisi saya. Trigger seperti ucapan yang diakhiri dengan “…semoga lebih bahagia blablabla…” membawa pisau tersendiri di hati saya. Kenapa orang suka sekali berbasa-basi remeh temeh yang sebenarnya kosong? Sungguh mudah sekali kita mengumbar doa — karena kita merasa dengan “mendoakan” saja cukup, atau dengan “kata-kata indah”… terkadang yang seseorang butuhkan hanyalah bukti bahwa your words meant something. Not that I say praying (if you do truly pray) is wrong.

    Tapi mengapa sebagian besar dari kita hanya pandai menguntai kata, tetapi isinya nihil?

    Mengapa mudah sekali bagi seseorang untuk mengatakan hal-hal indah tetapi tidak ada perbuatan untuk membuktikannya?

    Hari terakhir di tahun 2018 ini saya lalui tanpa ada yang terasa spesial, cenderung sepi malah. Keluarga saya tipe yang sibuk masing-masing dan bukan tipe keluarga yang hangat atau fungsional. Suami saya berada di kota lain. Saya punya satu hari penuh, sebelum kembang api mulai mewarnai langit nanti malam, untuk melihat ke belakang. Tahun ini tahun yang cukup berat untuk saya; sekaligus juga tahun yang menjadi awakening.

    Nothing lasts forever.

    Tahun ini saya mengucapkan selamat tinggal pada beberapa hal yang menjadi sumber kekuatan saya dahulu. Tahun ini saya juga menyapa hal-hal baru dan keinginan lama yang ingin saya wujudkan. I learnt a lot this year; some things don’t always turn the way we planned, or the way they should. I learnt that friends of decades can be fake and hurtful and left you at your darkest moment; I learnt that those who can truly accept and love us are not always of our blood, or our “best Friends”. At times it can be shocking how your world fell into pieces but everything and everyone around us carry on with life. It makes you think, whether your presence in this world mattered or not.

    But I am proud that I finally seek help for myself, this year.

    I am grateful that I also started to write again.

    I am happy that my eyes were opened to the harsh truth that people who truly loves you for who you are (not only the “you” when you are healthy) is the one worth sticking your energy with. Value those who asks, “are you okay?” in your darkest moment, and not judging you. Trust me in this.

    Some things I might not talk about, because I am too lost in words… and some things I write to make me carry on with life, hopes, anger, and fear.

    a kind reminder. thank you for the most valuable lesson about this, 2018!. image source: Pinterest

     

    Saya tidak pernah membuat resolusi tahun baru. Mungkin seharusnya saya mulai berpikir resolusi apa untuk tahun 2019… but mostly my mind is blank… Saya hanya bersyukur diberi kesehatan dan berkat agar bisa jadi berkat bagi orang lain selama saya berjuang untuk hidup di dunia fana ini. Tahun 2019 saya berharap saya dapat menjadi sahabat bagi siapapun yang membutuhkan saya, saya harap saya diberikan kesempatan untuk dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan orang lain. Let me help people. Let me also healed from feeling anger and abandonment. I want, and I will be healthier this year. And please let George R.R. Martin published The Winds of Winter… 😀

     

    I wish you all a good and healthy new year  🙂

  • Fangirling

    SanSan a.k.a Sansa Stark x Sandor Clegane

    ! DISCLAIMER !

    Explicit Content Mature Content Gore Images

    Fandom: A Song of Ice and Fire (books series) / Game of Thrones (TV series)

    all images source: Pinterest and DeviantART, belong to their respective artists.

    Sansa Stark dan Sandor Clegane.

    My current obsession 😀

    Or at least, the book version of Sansa Stark dan Sandor “The Hound” Clegane, bukan versi TV series nya. Kalau di buku A Song of Ice and Fire (ASoIaF) material mengenai mereka bener-bener banyak, sayangnya tidak teradaptasi dengan baik ke TV seriesnya. Game of Thrones season 1 masih relevan banget keberadaan SanSan seperti di buku, tapi di season terakhir GoT, The Hound udah keburu sibuk beyond the wall sama Jon and Co. 😀 Saya berharap banget versi buku mereka (yang saat ini belum juga keluar serie terbarunya!) bisa balik ngetemuin Sansa dan The Hound!

    Kalian yang baca buku ASoIaF pasti tau gimana kondisi Sansa saat jadi tahanan politik di King’s Landing. Juga gimana posisi The Hound yang (saat itu) jadi sworn sword Joffrey. I like the idea that George R. R. Martin implicitly told readers that The Hound might love Sansa. I’d swoon over the idea! I mean, Joffrey tortured Sansa and beat her bloody (through his Kingsguards) but  The Hound is always there for Sansa, protecting her. Who doesn’t swoon over a man (who’s describe as brute, hulking over common people, strong AF and a VERY good fighter/soldier) that is protective of this tortured “little bird” ? 😀

    Kayaknya sudah beberapa malam ini saya menyibukkan diri ngulik berbagai Fan Fiction, apalagi kalo bukan yang bahas tentang Sansa Stark dan The Hound. Agak susah sih, kebanyakan bahasnya Arya x Gendry, atau Jon x Daenarys… C’mon people… SanSan is obviously the sexiest couple, ever, in ASoIaF!

    What, how did that sick opinion came, you asked? 😀

    Did The Hound really loves Sansa Stark?

    Tracy Atkins dari Quora menjawabnya cukup lengkap menurut saya:

    What do we know of The Hound?

    • He is full of hate.
    • He thinks the sweetest thing is killing.
    • He’s rude, brutal, ferocious, and unkind.
    • He views people in general as meat. “and I’m the butcher.”
    • He knows, without doubt that everyone is a liar, only out for themselves.
    • He is still heavily traumatized from his brother’s brutality.
    • He drinks too much.
    • He’s scarey as hell. On purpose usually.
    • He is disillusioned, jaded, cynical.
    • He knows his job inside and out, and is very good at it.

    Ok, thats alot to know about someone whos head we’ve never been inside of.

    Does he love Sansa?

    • Well, he definitely treats her way better than he does everyone else. He’s still brutally honest, but he does temper it for her. (He doesn’t for Arya.)
    • He gave her a pet name. Not a nickname, a pet name. One that leaves no doubt that he does not view her as meer lieing meat but rather as a pretty little bird, with a head full of songs/fairy tales, in a sea of scheming meat and monsterous killers.
    • All but once Sansa discribes his physical handling of her as gentle to some degree… Does he seem like he’s typically gentle to you?
    • He told her his deepest darkest secret, it seemed like he didn’t want to but couldn’t stop himself.
    • He touches her everytime she’s within arms reach. (Doesn’t touch other people except as absolutely necessary.)
    • He seems to forget himself around her… Often… Though most of that is taken out of the show… Here’s some examples from the book :
    • In the book he did not get Joffrey to safety then rescue Sansa from rapists during the riot… He abandoned the royals entirely, leaving them to Boros and Meryn and the gold cloaks to save, and immediately cut a path to her side where he chopped a guy’s arm off to prevent her from being dragged off her horse… He also abandoned his beloved Stranger (His stallion.) to the crowd until she was safe.
    • He drunk-stalks her. Seriously. He cornered her on the steps and creeped pretty much everyone out talking about how grown up she is, how tall and pretty… He mentions her breasts… He’s stumbling drunk at the time.
    • He went, drunk off his ass, to her room and waited around for her to show up the night he abandoned King’s Landing, knowing it would be life or death if he got caught, to convince her to leave with him.
    • While there he obviously came very very close to kissing her just before he got really pissed at her reaction to that and threw her down on the bed.

    (And presumably climbed in with her, looming over herhow else could she reach up and cup his face?)

    (Ok, why get so mad at someone for not wanting you to kiss them? I’m pretty sure he’s had women not want him to kiss them before.)

    • Sex was definitely on his mind when he had her flat on her back in her bed. But he didn’t harm her in any way. Didn’t even touch her (other than the tip of his dagger at her throat.) that she noticed.
      • He demanded her to sing him the LOVE SONG of Florian and Jonquil while holding a dagger to her throat.

    He litterally choked up and cried when she sang him “The Mother’s Hymn.” A song about mercy. Mercy for him, not mercy from him. Then she reached up and cupped his scarred cheek. (That’s something I bet no woman has ever done.) She touched his heart by doing that. He wept, said her name (Well, his name for her really.) very raggedly, climbed off the bed, ripped off his white cloak, threw it on the floor at her feet and left immediately. Does this sound anything like The Hound discribed at the top of this post?

    • From his later statement: ‘I should have fucked her bloody and tore her heart out before leaving her for that dwarf.’ -While making a deathbed confession to try to provoke her sister into killing him.

    Why concern himself with her heart if he doesn’t care about/want her heart?

    • People only give deathbed confessions of things they are ashamed of. I.E. He is ashamed of wanting to have sex with her so much that in a drunken/traumatized state he likely considered (momentarily) forcing her.

    (That’s not the thinking of a would be rapist… Rape is about power and violation and humiliation… Rapists are NOT ashamed of wanting to rape someone. It isn’t the physical feeling that gets a rapist off, it’s the power trip. So sex is the operative word here. Not Rape.)

    He didn’t touch her because he doesn’t actually want to ‘fuck’ her… He wants her to participate willingly, like in the pretty little love SONG(s) in her head.

    I.E. He wants to make a love SONG with her. He’s just unfamiliar with that urge… no doubt he has no idea what to do about it and probably would never admit to such a romantic feeling, even to himself. He would consider such feelings as weakness.

    Does he love her? Yes, but more to the point, he’s in love with her.

     

    Siapa sih yang ga suka kisah “Si Cantik dan Si Buruk Rupa”?

    Walau dalam beberapa kesempatan saya baca, George R.R. Martin sebenarnya tidak bermaksud mengklasifikasikan The Hound dalam ketegori “buruk rupa”. Hanya saja memang The Hound di deskripsikan memiliki bekas luka bakar yang gak semua orang tahan liatnya, but honestly who doesn’t? That guy got a really burnt so bad on his face.

    Kalau pernah dengar don’t judge a book by its cover kayaknya hidup The Hound cocok banget. Saya suka gimana plot untuk The Hound berkembang makin baik di ASoIaF universe. Awal plot dia dikenal sebagai mesin pembunuh dengan mulut kasar (tapi jujur 😀 ) , belakangan The Hound mulai nunjukin sisi soft nya (to who else, our damsel in distress, Sansa) dan membimbing / melindungi Sansa dengan caranya sendiri… Saya lebih suka type yang seperti ini karena mengingatkan saya juga untuk tidak menilai seseorang dari penampilan saja, melainkan dari karakter nya.

    Fan Fiction yang lagi saya baca: The Hound’s Reward. (21+)

    Apa kamu nulis Fan Fiction juga? 🙂

    beautiful artworks from Pinterest, and DeviantART (thank you Magdalena!)

  • Mental Health

    Berobat Ke Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa.

    Beberapa waktu lalu saya mengalami relapse parah, bisa dibilang yang paling parah selama tiga dekade saya hidup di dunia. Sebelumnya, apa sih relapse itu? Saya jelaskan dahulu, menurut Wikipedia relapse adalah kambuhnya suatu kondisi masa lalu yang biasanya medis setelah dormant (“tertidur”) cukup lama. Kalau menurut kamus Cambridge online, relapse itu kembali sakit atau berlaku tidak normal lagi setelah sempat membaik. Saya pikir relapse itu bahasa awamnya ya “kambuh” 😀

    Dahulu saya cope dengan kondisi saya yang kata psikolog “hitam dan putih” dengan menyakiti diri sendiri (dan mungkin orang lain?), but thats another story in another time, I guess. Sekarang saya punya anak batita yang membutuhkan perhatian dan kehidupan saya, sehingga saya “cukup sadar” untuk tidak berbuat nekad. Intrusive thoughts itu sering muncul, dan dua bulan belakangan benar-benar memborbardir saya sampai titik penghabisan. Beberapa malam saya berbaring di kamar, saat anak saya sudah terlelap, dan saya menangis tanpa suara. Ada kalanya saya ingin menyerah.

    Saya sadar saya butuh bantuan profesional.

    Sayangnya sebelum bantuan itu datang, ada kejadian yang membuat saya makin terjun dalam jurang gelap — relapse saya makin parah karena kejadian ini. Trust saya hilang, total. Saya kehilangan semua support system selama lima belas tahun. Well, all but only one who stay, and she has stayed on many times I relapsed when we were younger (I didn’t know and didn’t suspect I have issues, back then).

    Saya memilih mencari pertolongan ke Sanatorium Dharmawangsa, karena faktor cukup dekat dari rumah dan harga konseling dengan Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa cukup dengan harga Rp.400.000,-/jam. Saya sudah mencari kemana-mana soal biaya konseling ini, mulai dari Kassandra & Associates yang hits (minta Rp.1.000.000,-/jam), Yayasan Psikolog Indonesia (Rp.700.000,-/90 menit) sampai ke Yayasan Pulih (start dari Rp.250.000,-/jam). Oleh satu dan lain hal akhirnya saya memutuskan ke Sanatorium Dharmawangsa. Total yang saya bayar setiap konseling di Sanatorium Dharmawangsa adalah Rp.440.000,- dengan perhitungan Rp.400.000,- biaya konseling satu jam dan Rp.40.000,- biaya administrasi. Sayangnya Sanatorium Dharmawangsa (kini juga disebut Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa) belum menerima pasien dengan BPJS.

    Saya menantikan pertemuan pertama dan perdana saya dengan Psikolog (perempuan di usia akhir 70 tahun, dengan inisial “RW”) dan ketika hari itu datang, saya sangat anxious sampai ingin muntah. Jujur, saya merasa malu sekali menemui Psikolog. Selama sekian tahun ibu saya selalu taunted how broken I am and that I need to “fix” myself up with Psychologists.

    Ketika saya masuk ke ruangannya, RW menyapa saya dan pertanyaan pertama adalah, “Apa yang bisa saya bantu?”

    Saya sungguh berharap dapat memberikan review yang bagus akan Psikolog ini, yang sebenarnya cukup simpatik, tetapi Beliau tampaknya lebih ke arah psikologi perusahaan atau semacamnya, dan bukan klinis. Satu hal yang saya perhatikan adalah, Beliau tidak menulis apapun di rekam medis saya. Oke, red flag pertama. Yang kedua adalah Beliau tampaknya tidak menganggap “permasalahan” saya cukup serius karena ia hanya mengatakan saya hanya butuh channeling my emotions. Pada faktanya, saya juga paham harus channeling (menyalurkan), dalam hal ini saya memilih media menulis.

    I left her office, more broken and angrier than before I entered.

    I booked another meeting with another Psychologist right after I paid her fees.

    Psikolog kedua saya, laki-laki lebih muda dua tahun dari saya berdasarkan profil LinkedIin nya (saya tidak masalah, selama dapat menolong saya), menanyakan hal yang serupa ketika saya duduk di hadapannya, tiga hari setelah sesi pertama saya dengan RW yang berantakan. Kali ini saya dijadwalkan untuk menjalani serangkaian tes klinis.

    Perjalanan saya masih jauh, dan Psikolog ini (“RD”) juga menyatakan bahwa proses menuju kesembuhan/menjadi “normal”/ bahasa Beliau “untuk menjadi sama seperti orang kebanyakan”, tidaklah mudah. Sesaat saya merenungkannya, dan saya merenungkannya kembali di mobil dalam perjalan pulang, dan kembali merenungkan kata-katanya sesampainya saya di rumah.

    “Apa itu normal? Apa itu waras? Pandangan saya dan kamu akan normal dan waras berbeda. Satu hal yang kamu cari adalah bagaimana kamu bisa menjadi seperti orang kebanyakan. Disini kita tidak ada kamusnya normal dan waras.”

    Fuck unique, I am done being “unique”.

    Saya ingin menjadi orang kebanyakan.

    Ya, saya letih, saya tidak mau jadi berbeda. If this is my curse, please take it from me.

     

    RSJ Dharmawangsa juga menyediakan rawat inap (selain rawat jalan) di bagian Psikiatri dan Psikologinya. Ada layanan antar jemput 🙂
    suasana agak gelap dan lumayan kuno.

     

    Lokasi RSJ Dharmawangsa ini sebenarnya strategis, persis di seberangnya Plataran Dharmawangsa dan Dharmawangsa Square. Agak nyempil sedikit di apit perumahan, dan jalan raya yang hanya bisa dilalui sekedarnya oleh dua mobil. Bagi mata yang tidak awas atau tidak memakai GPS mungkin agak kesulitan spotting posisinya 😀

    Interiornya pun agak kuno, tidak seberapa terang, dan saya sejauh ini tidak melihat tempat parkir yang memadai selain di lingkungan jalan raya perumahan itu tadi (yang bikin jadi sempit untuk dilalui dua mobil). Tenang saja, kami pasien poli Psikologi dipisahkan kok dari poli Kejiwaan/Psikiatri. Poli Psikiatri dijaga ketat oleh seorang satpam yang siaga di depan sebuah pintu yang “harus selalu terkunci” 🙂 Wah, agak seram ya… tapi percayalah, aslinya tidak seseram itu.

    Kalau kamu merasa butuh bantuan, kalau kamu merasa tidak sanggup lagi untuk “terus berjuang”… kalau kamu merasa dunia mu runtuh, carilah pertolongan secepatnya. Saya beruntung mempunyai seorang anak yang dapat saya perjuangkan, dimana saat intrusive thoughts dan paranoia mulai kembali, saya masih bisa berpikir “jernih” bahwa anak saya membutuhkan saya. When I drift away, my son is my anchor.

    Dan bagi kamu yang saat ini mengkhawatirkan seseorang, please be a friend for him/her. Ask them how are they feeling, don’t be afraid. Your ignorance can cost someone’s life. Ajak mereka yang kamu khawatirkan untuk mencari pertolongan profesional.

    Beda Psikolog dengan Psikiater adalah,

    Psikiater memulai pendidikan dengan gelar kedokteran. Selulus dokter umum, mereka ambil spesifikasi S2 Kejiwaan, sehingga karena basic nya sudah dokter, para Psikiater diperbolehkan untuk meresepkan obat.

    Psikolog di sisi lain memulai pendidikan dengan gelar sarjana psikologi. Selulus sarjana psikologi, mereka ambil spesifikasi S2 Klinis, sehingga mereka dapat mendiagnosis “apa yang salah” dalam diri kita, tetapi mereka tidak bisa dan tidak diperbolehkan meresepkan obat karena bukan dokter.

    Apabila kamu merasa membutuhkan bantuan, carilah dahulu Psikolog Klinis. Kalau dirasa perlu, Beliau akan me-refer kamu ke Psikiater untuk di takar dan di resepkan obat antipsikosis sesuai dengan diagnosis kamu. Jangan pernah melakukan self diagnose.

    Pertemuan pertama dengan seorang Psikolog bisa menakutkan, bahkan menimbulkan anxiety attack. Ketika saya menutup telepon setelah saya akhirnya menjadwalkan pertemuan perdana di RSJ Dharmawangsa, saya menangis. Saya menangis karena akhirnya saya memberanikan diri untuk mencari pertolongan, terlepas dari stigma “RSJ”, “orang gila”, “orang egois” dan “orang toxic” yang selama ini saya pikul dan takutkan. Jangan berharap banyak akan langsung “sembuh” dengan satu kali konseling. Bagi beberapa orang, tergantung situasi dan kondisi yang bersangkutan, dibutuhkan terapi bertahun-tahun – beberapa kondisi bahkan membutuhkan pengobatan seumur hidup.

    Menemukan Psikolog yang cocok pun sama susahnya dengan cari jodoh 😀

    They might be a Clinical Psychologists, but they are human too, and human can be judging.

    Tidak perlu takut untuk trial and error, it is okay to do Psychologist shopping, dalam artian kalau kamu merasa tidak cocok atau tidak terbantu dengan Psikolog tertentu, selalu cari second opinion. Namun ketika kamu memutuskan untuk “menjadi orang kebanyakan” dan Psikologmu pun satu visi misi denganmu, stick with the therapy.

    I wish you all a healthy day.

  • Mental Health

    Bahagia Itu Sesederhana Tidak Peduli.

    Kalau kamu tidak paham dan takut akan orang dengan mental illness, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus paham dan tidak harus tidak takut.

     

    Kalau kamu tidak paham bagaimana orang bisa melukai dirinya sendiri dan kamu beranggapan orang itu hanya cari perhatian, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus melukai dirimu sendiri agar dapat merasakan sesuatu.

     

    Kalau kamu tidak mengerti kenapa seseorang tidak makan dan memilih untuk kelaparan, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus merasa lapar, dan sehat.

     

    Kalau kamu tidak mengerti kenapa orang mengurung diri, tidak bisa berkata-kata, atau mencari pertolongan, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kuharap kamu selalu punya seseorang, atau tempat untuk kamu berpaling dan bersandar saat kamu kesulitan dan membutuhkan.

     

    Kalau kamu tidak mengerti mengapa seseorang membutuhkan obat-obatan tertentu supaya mereka bisa berfungsi normal, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu “normal”, dan tidak membutuhkan obat untuk merasa “normal”.

     

    Kalau kamu tidak mengerti bagaimana seseorang bisa berpikir untuk menggantung lehernya, atau melompat dari gedung tinggi, atau memutuskan untuk menelan obat hingga over dosis, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus mengerti dan tidak mau mengerti.

     

    Kalau kamu tidak mengerti, tidak paham, itu bagus, karena kamu tidak diwajibkan untuk itu.

     

    Terimakasih untuk ketidakpedulian mu, itu sangat sehat untukmu.

    Terimakasih untuk ketidakpedulian mu, itu sangat bahagia untuk hidupmu.

  • Travel

    Grand Tjokro Hotel, Bandung.

    Lobby utama Grand Tjokro hotel Bandung. image source: www.booking.com

     

    We went to Bandung yesterday. It was supposed to be a university reunion for my husband, before the reunion committee canceled the event after we purchased our train tickets and hotels (very nice).

    Kami menemukan Grand Tjokro hotel setelah selama beberapa lama mencari hotel yang kids dan toddler friendly. Beberapa blog dan review yang kami temukan selalu nyebut Grand Tjokro Bandung sebagai hotel ramah anak (kids friendly hotel), sehingga kami akhirnya memutuskan tinggal di Grand Tjokro, sebelum malam terakhir pindah ke hotel yang lebih dekat ke stasiun Bandung.

    Di Grand Tjokro kami berhasil check in tanpa kendala sekitar pukul 15.00 sore. Saya menemani anak bermain di playground area yang berlokasi di lobby, sementara suami mengurus kartu kamar. Kebetulan karena kami check in di hari Jumat, area tersebut kosong sehingga baby M langsung leluasa “menguasai” prosotan di area tersebut 🙂

    Playground di Lobby utama hotel. baby M langsung lari ke prosotan 🙂

     

    Saya sempat memperhatikan detail di playground. Sayangnya, Grand Tjokro lalai memberikan atensi kebersihan karena saya melihat banyak debu dan remahan kotoran / tai cicak di sudut prosotan. Bola-bola di arena sudah banyak yang penyok, dan malangnya ada vandalisme di dinding playground. Wajah-wajah lucu singa, beruang dan burung jadi “bertato”… Sepintas memang playground Grand Tjokro Bandung terlihat menarik namun saat diperhatikan benar-benar, justru tidak bersih dan terkesan “terbelangkalai” 🙁 Jujur saja, kami langsung kecewa, karena kami kan memang sengaja cari hotel yang ramah anak, tentunya kebersihan dan keamanan harus jadi faktor utama dong, kalo kita bawa anak? Apalagi hotel ini memang di gadang-gadang oleh banyak blog dan media massa lain sebagai “hotel ramah anak”…

    butuh dipinjemin Go-Clean nih hotelnya 😀 sadis banget kebersihannya tidak dijaga, dan properti mainannya amburadul tidak layak main.

    Gak kayak playground yang di gadang-gadang di media massa 🙁 kumuhhh 🙁

     

    Grand Tjokro Bandung punnya dua tower kamar hotel, kebetulan kamar kami terletak di Main Tower tepat diatas Lobby utama. Lokasi restoran tempat makan pagi juga di tower utama ini. Asiknya, di sini ada supermarket loh yang buka dari jam 08.00 pagi sampai dengan jam 21.00 malam – jadi kalo darurat butuh sesuatu bisa melipir ke North Tower. Di North Tower juga jadi lokasi rooftop cafe (yang pas saya sambangi ternyata tutup dong ya), spa, gym, playground lagi, kolam renang dan….. MINI ZOO~!

    Jujur saja, saya paling menantikan kayak apa sih mini zoo yang di taruh di lantai 10 north tower hotel Grand Tjokro ini??

    Setelah menaruh barang, ganti baju renang dan packing ransel kecil dengan minyak telon dan botol air, kami langsung pindah ke north tower untuk mengecek fasilitas Grand Tjokro 😀

    Untuk akses ke lantai kamar perlu kartu kamar, tapi setau kami untuk lift yang akan berhenti di public space seperti restoran dan kolam renang, justru tidak memerlukan kartu kamar. Agak nanggung ya, dari segi keamanannya. But moving on, kami mendapati puas bangeeet sama mini zoo besutan Grand Tjokro Bandung! 😀

    Isinya ternyata cukup lengkap, ada kuda poni (bisa ditunggangin, bayar Rp.25.000,- saja), kelinci, kalkun, marmut/hamster, soang, kambing, ikan, iguana, dll… Hewan-hewan ini bisa loh kita suapin wortel, jagung atau minumin susu… semuanya tinggal bayar sekitar Rp.10.000,- sampai dengan Rp.25.000,- saja. Baby M masih takut kalo tralu deket hewan, ketauan nih orang tuanya gak terlalu suka hewan makanya jarang banget baby M “diberi akses” deket-deket hewan huhuhu… Penjaga yang standby di sana ramah-ramah, dan asiknya lagi karena kami tiba weekday maka kami bisa menikmati mini zoo dan kebun di Lt 10 dengan leluasa. Hewannya kelihatan terawat dengan baik, dan terlihat cukup sehat bagi saya. Jujur saja awalnya saya agak sangsi mengenai mini zoo Grand Tjokro… bukannya kenapa, tapi males banget kalo pas dateng kotor dan hewannya kurus, keliatan takut dan gak hepi. Untungnya sih kesangsian saya segera musnah 😀

    Ohya, ada bibit tanaman dijual juga loh, dan rangkaian kebun berisi tomat, sayur mayur berjejer-jejer termasuk yang di tanam secara hidroponik. Seger banget berada di Lt.10 sambil sesekali melongok memandang kota Bandung yang mulai mendung, hehehe.

     

    monggo yang suka berkebun 😀

     

    Untuk kolam renangnya, dibedakan ada kolam renang anak dan kolam renang dewasa. Airnya dingiiiinn, gak ada penghangat, jadi siap-siap minyak telon yang banyak kalau berenang 😀 Disediakan prosotan juga di kolam renang anak, sayangnya sesuka nya Baby M sama prosotan ternyata doi masih takut nyemplung ke kolam renang :’)

    Pas masuk area kolam renang tinggal sebutin nomer kamar, kami langsung diberikan dua buah handuk besar berwarna biru. Disini anak-anak tidak boleh pinjam ban renang, bolehnya sewa seharga Rp.50.000,- per 30 menit. Lumayan mahal sih menurut saya. Ala agak nanggung gitu, mo jadi hotel ramah anak tapi untuk ban renang aja kudu sewa bok. Tapi ini opini pribadi ya…

    body emak-emak sudah bleberean kemana-mana 😀
    area playground kedua yang terletak di Lt.10 north towernya Grand Tjokro Bandung. image source: www.archipelagos.id

    ada sanbox dilengkapi shower untuk membersihkan diri sehabis main pasir 😀

     

    Ketika kami tinggal di Grand Tjokro Bandung, ternyata pas apes mereka lagi host beberapa event. Selain banyak orang lalu lalang, juga besokan nya saat breakfast kapasitas restoran gak bisa nampung semua tamu 🙁 Jeleknya sistem manajemen restoran Grand Tjokro adalah, saat kami tiba di restoran untuk breakfast (sekitar pk.08.00 pagi), dua orang usher dipintu masuk cuma nanya kami dari kamar nomor berapa. Setelah nomor kamar di catat kami dipersilahkan masuk. Padahal seharusnya kalo kapasitas ruang makan full, manajemen harus mengantisipasi dengan memberlakukan “buka tutup” atau antrian masuk ke restoran harus di hitung. Jadi tamu yang dipersilahkan masuk adalah tamu dengan jumlah pax yang sudah ada tempat duduknya di dalam! Ini sistem manajemen restoran yang diberlakukan oleh Mulia Hotel Nusa Dua Bali saat kami menginap di sana tahun lalu. Gunanya untuk  mencegah tamu wandering around di dalam area makan buat nyari-nyari tempat duduk yang gak ada karena full. Apalagi ini kan menggadang kata-kata hotel ramah anak ya, seharusnya paham dong kalo orang tua nenteng-nenteng anak toddler sambil muterin ruang makan berkali-kali tapi gak dapet meja makan bakal jadi emosi senggol bacok? 😀

    Untuk menu sarapannya sih kami cukup puas ya, lengkap mulai dari masakan tradisional (ketan, bubur, sayur asem), western (lasagna, potato wedges, greek salads), chinese (chasiu) sampai japanese (miso, sushi)… dijamin perut kenyang dan puas. Eskrim pun banyak pilihan rasa, monggo di pilih dan diambil berkali-kali gak akan di plototin sama petugas ramah yang dinas di bagian eskrim kok 😀

    Selama dua kali makan pagi di sini kami selalu dapat babychair/kursi makan anak yang lengkap dengan seatbelt nya. Ini penting banget loh, karena menurut saya percuma deh nyediain kursi makan anak tapi gak ada seatbeltnya. Dalam hal ini Grand Tjokro menang sedikit daripada Padma hotel Bandung yang sekalipun harga menginap lebih mahal, tapi kursi makan anak dikasi dalam keadaan kotor dan gak ada seatbelt :’) Trauma dot com hehehe.

    suasana ramai ruang makan di pagi hari
    kenikmatan sushi dinilai dari berasnya dan bahan di dalam balutan sushi. Dalam hal ini sushi Grand Tjokro nilainya 6,5 dari 10
    Kid’s Corner terletak di luar restoran persis. Ada juga mini cinema, tapi kami tidak sempat mencoba

    Cookie gajah ini bisa di hias, ambil sprinkle dan dough dari kid’s corner. Tapi biar baby M gak kena gula pagi-pagi, jadinya makan polos saja ya, nak 😀

     

    Kalo dirinci satu-satu ada menu apa saja, post ini bakalan berjilid-jilid macem demo 212 😀 Pokoknnya kalo dalam hal menu makanan breakfast sih kami puas banget deh, gak akan nyesel kayak pas liat playground nya hehehe… Rasanya juga cocok di lidah saya dan suami. Oh ya, pas kami (akhirnya!) duduk, ada pelayan nanya, “Pak, Bu, mau teh atau kopi?” suami saya bilang “kopi”, sementara saya berbisik skeptis di telinga suami, “ih pasti basa basi deh kagak dianter! Kan lagi rame, pasti lupa”… ini gara-gara pengalaman di Padma hotel Bandung dimana kami dihadapkan oleh pertanyaan yang sama, dijawab, dan minumannya gak dianter sodara-sodara 😀

    Suami cuma senyum tipis, dan beberapa saat kemudian… pelayan yang sama nongol menuangkan kopi ke cangkir putih. Oke, daku sudah seuzon :’)

    hari kedua saat sarapan pagi, kaget juga ada kayak ginian. Bagus banget nih sebagai reminder kami para tamu, supaya gak buang-buang makanan. Ambillah secukupnya ya pakbapak buibuk.

     

    Oh ya, kami juga cukup kecewa ya sama Grand Tjokro Bandung karena kamar kami kelihatan banget gak terawat. Ini ditandai dengan dinding yang terkelupas dan “keliatan berjamur”, dan sofa sobek. Kesannya jadi kayak losmen, bukannya hotel yang smalam minta Rp.750.000+ kan…

    —–

    Kesimpulan menginap selama tiga hari dua malam di hotel Grand Tjokro Bandung:

    PROS:

    + Banyak tempat permainan anak (dua playground), mini zoo, dll.

    + Spa nya buka sampai jam 23.00 wib loh :’) lumayan banget abis pulang muterin Bandung langsung aja ke Lt.10 untuk spa dulu hehehe,

    + Menu makanan paginya lengkap dan enak,

    + Pelayan di ruang makan cukup nice, gak bakal diplototin atau di manyun-in kalo nambah terus terutama minta eskrim terus 😀

    + Mini zoo nya bersih!

    + Ada supermarket di area Hotel, jadi gak perlu capek-capek nyebrang,

    + Posisi hotel di tengah kota Bandung, kemana-mana deket,

    + Ada kulkas di dalam kamar! Yeay!

    + Kursi makan anak sejauh ini selalu dapet yang ada seatbelt nya.

     

    CONS:

    – Kamarnya kotor,

    House keeping gak nyediain cukup tisu, sudah mo abis ya dibiarinin aja,

    Safety box di dalam kamar gak bisa dipakai,

    Playground nya kotor banget terutama yang di area lobi utama,

    – Manajemen ruang makan jelek, siap-siap keliling begok kalo lagi full capacity,

    – Beberapa properti di dalam kamar sudah rusak (sofa di kamar sudah jebol dan sobek, dinding di kamar dekat kasur sudah “berjamur”dan cat terkelupas”), jadi terkesan jorok dan gak serius dalam mengurus hotel,

    – Kurang dapet kesan “ramah anak” karena kebanyakan kotor, dan rusak (kecuali ruang makan dan mini zoo ya…) jadinya agak kecewa sih.

     

    Have a good and healthy day! 🙂

     

  • Motherhood

    Softplay Funworld, Taman Anggrek Mall.

     

    Saya rutin mengajak baby M main ke playground, dulu malah terjadwal seminggu sekali pasti kami menyambangi beberapa playground seputaran Jakarta Barat. Selain untuk mengusir kebosanan, juga supaya baby M bisa “learnt something” yang dia gak dapet kalo cuma mendem di rumah saja; seperti bersosialisasi (gak takutan kalo ketemu orang), kepercayaan diri (mencoba permainan baru), termasuk manner (harus antrian sebelum masuk arena) 🙂

    Saat ini saya dan baby M lagi suka ke arena soft play nya FUNWORLD yang terletak di Taman Anggrek Mall, lantai 3. Namun saat kami datang, ternyata ada sedikit perubahan di arena soft play, yakni ditambah area untuk pesta ulang tahun anak. Demi adanya area ulang tahun ini rupanya ada satu permainan yang “dikorbanin”, yaitu kastil-kastilan dan bricks susun yang terbuat dari bantal.

    Untuk bisa masuk ke permaian soft play semua anak dan pendampingnya wajib memakai kaus kaki. Biaya sudah include satu pendamping per satu anak, enaknya di sini ada pilihan waktu berapa lama kita mau main di area soft play. Pilihannya untuk week day adalah Rp. 69.000,- untuk 60 menit waktu bermain, atau Rp. 99.000,- untuk sepuasnya (menurut penjaga soft play nya Funworld, yang sepuasnya ini boleh keluar masuk untuk makan/ganti popok, selama wrist band anak dan pendamping belum di copot). Menurut saya harganya terbilang oke di kantong, dan permainannya juga lumayan 😀 Bayarnya nanti pakai kartu Funworld, buat yang gak punya bisa sekalian dapetin si kartu saat top up, kartunya gratis 😀

    Saya top up langsung Rp.250.000,- di berikan cashback 20% plus vocer diskon kalau mau beli popcorn. Lumayan dot com hehehe.

     

    cekidot daftar harganya ya bun, kami datang di bulan November 2018
    kartu untuk dipakai bermain di seluruh area Funworld Taman Anggrek, termasuk kalau mau bawa anak main di area soft play 🙂

    baby M gak sabar mo masuk ke soft play, jadinya wrist band di tempel di punggung aja, gak mau dipake di tangan 😀

     

    Berhubung saya sudah gak kerja lagi (selain freelance), saya dan baby M kebanyakan pergi jalan-jalan kalau weekday. Selain tentunya lebih sepi, juga harganya lebih murah (emak-emak style amat yaa)…

    Namun sayangnya, soft play di Funworld Taman Anggrek berantakan bangett sekalipun saat itu tidak banyak toddlers/anak-anak yang berada di area. Saya lihat ada dua atau tiga petugas yang berjaga di area, tapi mereka sama sekali tidak ada inisiatif merapikan permainan. Semuanya buyar, terutama di bagian role playing area. Sudah gak jelas semua mainan campur aduk, kotor dan nyelip-nyelip, sampai saya gemas ngeliatnya. Ini petugas kok santai-santai makan gaji buta, gak seperti playground saingan di mall yang sama, yang petugasnya sigap banget di setiap area bermain untuk ngerapiin beberes dll. Anak-anak dan para pendamping yang akan menggunakan properti pun senang kan, kalau rapi 🙁

    area role playing yang isinya berantakan banget dan pada kotor 🙁 semua properti di bagian cafe dan mechanical sudah gak tau lagi kemana….sediiih..
    kondisi paling “mending” yang saya temukan. Bagian role playing lain, waduh beneran kacau acak kadut 😀
    mau main di role playing mechaning, tapi kok….. semua properti mainan nya ilang? Bagaimana ini Funworld Taman Anggrek.. 🙁

     

    Untuk luasnya sendiri sebenarnya gak luas-luas amat, tapi saya dan baby M cukup nyaman. Berhubung anak saya laki-laki, doyanan nya mainan mobil. Nah di sini mobil-mobilannya ada banyak, kalo gak salah saya lihat ada empat, plus ada bagian untuk tracking segala. Ini penting banget, untuk toddler boy yang emang pasti carinya mobil-mobilan. Dulu saya pernah ke playground di salah satu Mall kelas atas yang terletak di Jakarta Pusat, tapi malah gak invest di mobil-mobilan (dia cuma punya satu, sehingga beberapa toddler harus rebutan untuk bermain). Walau memang, masih kalah sedikit investasi mobil-mobilan nya sama playground tetangga yang terletak di lantai 02 😀

    Kolam bola Funworld termasuk bersih, ada banyak prosotan sehingga anak-anak tidak perlu rebutan, cukup diajari antri pasti mereka sudah bisa bermain dengan aman dan leluasa 😀

    Ini penting menurut saya, karena beberapa kali saya perhatikan orang tua “lalai” tidak mengajarkan anak hal sesimpel MENGANTRI. Anak yang sudah meluncur dari prosotan, misalnya, kalo gak diajarin antri dan naik lewat tangga pasti maunya “potong jalur” manjat lagi  lewat sluncuran. Bayangkan bila ada anak lain yang sudah di posisi meluncur… apa gak bahaya… dan semuanya ini berawal dari ajaran kita sebagai orang tua untuk selalu punya manner yang baik di tempat umum.

     

    playground adalah tempat anak belajar bersosialisasi, serta menerapkan manner sederhana 😀

    —–

    Kesimpulan saya tentang arena soft play di FUNWORLD Taman Anggrek Mall:

    PROS:

    1. Harganya wajar dan ada pilihan waktu (60  menit, atau sepuasnya),

    2. Anak diperbolehkan keluar masuk arena untuk makan/ganti popok karena mereka memang tidak menyediakan nursing/changing pod di dalam Funworld,

    3. Prosotannya ada banyak!,

    4. Mobil-mobilannya lebih dari tiga (penting, bagi yang punya anak demen mobil hehehe),

    5. Ada loker yang dilengkapi kunci untuk barang bawaan pendamping, sehingga menghindarkan dari hal-hal tidak menyenangkan seperti kasus ibu di playground PI yang sepatunya diambil orang…

     

    CONS:

    1. BERANTAKAN BANGET untuk area role playing nya,

    2. Petugas yang berjaga di arena soft play kelihatan malas, tidak ada inisiatif sama sekali,

    3. Ada beberapa bagian yang kotor (berdebu),

    4. Tidak ada aktifitas sensory play sama sekali.

     

    Have a good and healthy day, people! 🙂