Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Travel

    SUMO Sushi Bar, Yogyakarta.

    Saya beberapa kali melihat media sosial SUMO Sushi Bar ini seliweran di feed instagram saya. Sebagai penggemar sushi, otomatis saya tertarik banget dan mencatat dalam hati kalo ke Yogyakarta saya harus coba Sumo sushi bar ini. Apalagi saat pembukaan Sumo Sushi ini heboh banget bok, sampe antriannya mengular berkilo-kilo meter *antara lebay dan tidak* ๐Ÿ˜€ No wonder ya kalo heboh, karena harganya pukul rata semua Rp.15.000,-! Murah banget kan :”)

    Sayangnya, ketika saya akhirnya berkesempatan mencicipi Sumo Sushi Bar saat ke Yogyakarta tahun lalu, saya kecewa banget sama sushinya. Memang, ada harga ada kualitas. Waktu itu saya pesan cukup satu piring sushi, sudah langsung enek saking nggak enaknya! Bah! Saya tanya, ada chawan mushi tidak? Pelayannya malah balik nanya, “Apaan tu ya chawan mushi?” pake bahasa jawa tentunya. Mereka gak sedia chawan mushi, dan akhirnya saat itu baby M saya pesankan rice bowl teriyaki atau semacamnya (lupa persisnya). Ini juga rasanya amburadul. Ketika itu saya kecewa berat dan pergi dengan hati dongkol.

    Oke, sekarang fast forward ke masa sekarang! ๐Ÿ˜€

    Ketika jalan-jalan ke Lippo Mall Yogya, saya iseng pengen kasih Sumo kesempatan kedua! Baby M dan papanya pergi main di lantai atas, sementara saya balik ke lantai dasar untuk kembali mencicipi sushi-sushi murah di Sumo.

    Disini ocha/teh jepangnya gratis, gelasnya sudah tersedia di meja. Oleh pelayan saya diberikan satu pucuk kantong teh. Hmmm… okay, saya pun celupin tu kantong “ocha” ke gelas dan mencet tombol dispenser. Nah disini mirip sama Genki Sushi ya, jadi ada dispenser air yang ter-attached di setiap meja. Saya sempat curiga tuh, kok gak ada uap yah layaknya air panas pada umumnya?

    Karena penasaran saya celupin ujung jari ke dalam gelas, dan ternyata… AIRNYA AIR DINGIN DONG :’) Luar biasa bah jadi gimana dong caranya tamu nyeduh tu ocha gratis, wahai Sumo sushi bar?? :’) Yasudahlah, mungkin belum jodoh sama ocha di sini, jadi minum air putih dingin saja hehehe.

    Saya sempet minta brosur menu, dimana tiap restoran sushi setau saya biasanya ada. Either untuk take away atau sekedar liat-liat menu yang di ambil dari sushi bar. Sayangnya, dijawab pelayan mereka gak punya menu atau brosur tentang sushinya. Hmm…. oke deh kalo gitu.

    Agak lama mengamat-amati piring sushi yang lenggak lenggok di belt, saya akirnya memberanikan diri untuk mengambil sushi pertama. Moment of truth…

    Sushi pertama yang saya jajal isinya salmon mentah dan slice mentimun. Di atas meja ada dua jenis kecap, saya tuang masing-masing ke mangkuk berbeda. Mungkin maksudnya ini kecap beda rasa (manis dan asin?) tapi di lidah saya, keduanya nyaris sama persis. Teksturnya pun sama-sama encer, berbeda dengan di Sushi Tei yang sama-sama kasih pilihan soy sauce tapi keduanya juga beda baik di rasa dan tekstur.

    Oke, lanjut… saya colek sushi tersebut ke soy sauce dan cabe tabur, lalu masukin ke mulut… Hmmm… ternyata rasanya sudah jauh acceptable daripada tahun lalu :’) daku terharu…

    kantong teh ocha dari Sumo, tapi air yang keluar dari dispenser ini air dingin… Jadi gimana dong nyeduh ocha nya? :’)

    Jujur saja, kalo makan sushi mentah di tempat sushi yang agak shady atau harga sushinya “bersahabat”, saya biasanya either kecewa atau pilih gak makan yang mentah sama sekali. Simply karena biasanya si sushi mentah sudah tidak fresh (ini bahaya banget karena bisa bikin keracunan makanan atau allergic reaction yang berakibat fatal).

    Entah apa yang bikin saya memutuskan untuk ambil sushi mentah dari Sumo sushi bar… penasaran, kayaknya ๐Ÿ˜€ Sekaligus juga setelah saya amat-amati, wujudnya terlihat masih wajar dan fresh. Saya akui rasanya memang tidak se-segar tempat sushi lain dengan harga lebih premium, tapi rasanya juga surprisingly tidak begitu buruk. Apakah Sumo sushi bar sudah belajar dari kesalahan yang lalu, alias tidak memperdulikan taste ? Entahlah, namun ternyata kesempatan kedua yang saya berikan untuk Sumo berakhir manis ๐Ÿ˜›

    Pilihan sushinya sendiri tidak banyak, dan beberapa saya lihat penampilannya “seadanya” alias tidak menggugah selera. Saya sendiri hanya mencicipi empat jenis sushi saja, karena sudah bingung mau mencicipi yang mana lagi. Ada beberapa suguhan gorengan (katsu) tapi terlihat tidak fresh or edible enough to me, karena kalau gorengan / deep fried sudah muter-muter lama di sushi belt biasanya sudah “masuk angin”.

    Kalau ke depannya Sumo sushi bar bisa memberikan taste sushi yang baik dan layak (tidak ngasal), saya pikir ia bisa menjadi saingan tempat makan sushi di Yogyakarta. Beberapa kali saya mengunjungi kota kecil ini, dan saya belum menemukan tempat makan sushi yang cukup fresh dan edible enough. Okay, memang ada cabang Sushi Tei di kota ini. Namun saya pernah keracunan makan salmon mentah mereka yang sudah muter-muter lama di belt, dan menurut saya Sushi Tei cabang Yogyakarta ini salah satu cabang mereka yang terburuk (selain yang di Central Park, Jakarta, tentunya), baik dari segi rasa dan pelayanan.

    Makanya saya berani bilang, kalo saja Sumo sushi bisa lebih memperhatikan taste sushinya dan menu lain yang ia suguhkan, bisa saja jadi kuda hitam dalam permainan per-sushi-an di Yogya ๐Ÿ˜€ karena soal harga, sudah jelas Sumo ini gak ada lawannya. Kapan lagi bisa makan sushi dengan harga Rp.15.000,- sepiring?? Bahkan kemarin saat membayar pakai Go-pay, saya dapet diskon jadi per piring hanya di kenai Rp.13.000,- saja… gila kan?

    Oh ya… Sumo, saya beneran loh gak abis pikir itu nyeduh ocha nya gimana yak kalo yang keluar air dingin dari dispenser? Saya gagal paham untuk urusan ini :’)

    SUMO Sushi Bar (Lippo Mall Yogyakarta dan Hartono Mall)

    PROS

    + harga sushinya murah banget,

    + porsi okelah,

    + soal rasa……hmm okelah, sudah bisa diterima (better dari tahun lalu),

    CONS

    soy sauce nya butuh perbaikan,

    – beberapa sushi dan rice bowl nya kelihatan kurang edible,

    – pilihan menunya masih sedikit,

    – pelayan agak kurang wawasan soal makanan Jepang,

    – NGAPAIN KASIH TEH GRATIS KALO GAK ADA AIR UNTUK NYEDUH! (masih gak abis pikir sayaaa) ๐Ÿ˜€

     

    Have a good and healthy day!

  • Travel

    Iconic Kafe, Yogyakarta.

    Sore ini saya penasaran ingin mengunjungi salah satu kafe yang sering di datangi salah satu keponakan saya di Yogyakarta. Kafe yang terletak di Jalan Magelang KM 5,8 ini sebenernya sudah berada di luar kota Yogya sendiri, alias sudah masuk kabupaten. Posisinya persis depan belakang sama Jogja City Mall ๐Ÿ˜€

    Kalau dari namanya sendiri gak terlalu menggugah ya, karena simpel sekali. Nama Kafe yang bikin saya penasaran ini ICONIC.

    Lantas apa sih yang bikin saya penasaran tiap kali keponakan saya dan mamanya posting lagi main di sini?

    Kafe Iconic ini beda dari yang pernah saya datangi; emang gak banyak sih karena bukan tukang kongkow juga hehehe… Tapi, begitu menginjakkan kaki di Iconic, aduh saya bener-bener jatuh hati. Kafe ini sangat memperhatikan estetika arsitektur, interior dan terutama… BANYAK BANGET KOLEKSI ACTION FIGURE NYA! Gak heran kalo mereka mengklaim sebagai toys gallery!

    Saya jamin bagi pecinta action figure atau penggemar DC atau Marvel, bakal tergila-gila berada di kafe Iconic ini! Salah satu pemilik Kafe ini pasti seorang kolektor sejati. Saya belum pernah melihat koleksi yang begitu detail dan mendalam. Selain tokoh-tokoh DC, Marvel, juga sangat kentara sang pemilik fans berat Star Wars! Saya juga lihat ada The Lord of The Rings, Harry Potter universe, Terminator dan lain sebagainya. Sayang, sang kolektor tampaknya bukan fans Game of Thrones universe karena saya cuma spotting satu figurine iron throne saja ๐Ÿ˜€

    Secara garis besar, interior Iconic ini terbagi tiga: satu foyer untuk smoking area, ruang tengah yang full terisi action figure / figurine yang keren-keren, dan sisi paling depan Kafe tempat showcase gelato dan cakes mereka. Untuk harga makanan dan minumannya sendiri saya bilang sangat wajar untuk ambience dan situasi yang sangat nyaman! Saya salut banget sama seluruh pegawai Iconic yang gila sih ramah banget! Beneran loh, saya takjub, karena kayaknya seumur-umur saya baru kali ini masuk ke restoran/kafe yang 100% orang-orangnya ramah dan senyum serta berasa melayani tamu dari hati. Kudos to you, management Iconic! ๐Ÿ˜€

    Berhubung siang tadi saya kepengen banget ayam bakar nya Mbok Sabar, jadinya saya datang ke Iconic dalam keadaan sudah kenyang. Saya tidak sempat mencicipi makanannya, dan hanya memesan minuman namanya MOCKINGJAY. Saya pesan minuman ini karena teringat Katniss Everdeen idola saya dalam serial Hunger Games :p Entah bener atau gak kenapa di namain Mockingjay, yang pasti minuman ini jenis fusion dari jeruk yuzu, teh hitam, madu, dan soda. Rasanya? Hmmm saya sih cocok ya, dan mereka gak pelit kasih madu nya, harganya cukup dengan Rp.33.000,- saja… ah gilak, kayaknya saya bakal masukin Iconic ini sebagai tempat wajib dateng lagi setiap ke Yogyakarta deh…

    kita intip dulu yuk, menunya ๐Ÿ˜€ kira-kira cocok tidak?

    Tau ga sih apa yang bikin saya shock?

    Kayaknya si pemilik ini punya spot khusus untuk Star Wars.

    Doi sampe bela-belain bikin replika pesawatnya Darth Vader bok! Sayangnya saya gak terlalu ngikutin Star Wars, cuma tau sepotong-sepotong aja. Nah kita bisa temuin replika pesawat si om Darth ini sebagai jalur penghubung dari main dining room ke ruang makan kedua yang full di isi koleksi figurine. Gilanya lagi, ni owner/collector gak setengah-setengah bikin tu replika. Why? Simply karena lengkap sama pintunya dong! Jadi ni pintu otomatis bakal kebuka ala pesawat gitu! Beneran deh, buat kalian yang fans berat Star Wars bae-bae ke Iconic ini, di jamin sange! ๐Ÿ˜€

    ini loh pintu otomatis yang saya maksud, jadi pintunya kebuka otomatis ke ruang makan kedua. Ciamik banget bok di buat kayak pintu pesawat. Salut! Abaikan ada photobomb dari mas di samping, hehehe
    Baby M ga suka sama Master Yoda ๐Ÿ™

    Figurine ini bikin saya sedih ๐Ÿ™

    Tau ga ini diorama 3D apa? Ini adegan pertempuran di film Iron Man 3!! WAGELASEHHHHHH ๐Ÿ˜€

    Sebenernya saya pengen banget fotoin satu-satu figurine di toys gallery Iconic… tapi oh tapiii… selain waktu dan tentunya kuota dalam meng-upload gambar serta semya foto di journal saya ini cuma di ambil pake Iphone, jadi monmaap sangat seadanya ๐Ÿ˜€ Buat yang udah sange pengen liat Iconic buruan dateng ke Yogyakarta, pake Waze/Google Maps masukin “ICONIC” pasti ketemu, atau pakeย  JOGJA CITY MALL ๐Ÿ˜€

    Baby M masih terlalu kecil untuk ngerti kenapa mamanya heboh banget masuk ke sini, hahaha… Bahkan bapaknya baby M yang nggak se-nerd istrinya aja sampe keliatan cukup amazed pas masuk ke area makan di toys gallery. Someday, my son, Mommy will teach you all about muggles, the one ring to rule them all, and why winter is coming :p

    Diorama Bat Cave!
    and when you tried to lure your son to the dark force :p

    ICONIC CAFE, Yogyakarta.

    Jalan Magelang KM 5,8 persis depannya Jogja City Mall.

    PROS

    + tempatnya bersih, cahaya bagus, instagramable,

    + harganya menurut saya masih wajar dan porsinya juga wajar,

    + gila pelayannya semuanya ramah banget!,

    + ada baby chair lengkap dengan seat belt,

    + dari ujung ke ujung semua figurine bersih gak ada debu, raknya juga sama,

    + rasa minumannya sih enak (next balik pengen coba gelato sama makanannya),

    + koleksi mainannya gak main-main!

    + liat dari media sosialnya sih mereka kreatif bangetttt gilaakk…

    CONS

    Saat ini belum ada, tapi rencana dalam waktu dekat mau liburan lagi ke Yogya. Nah mau balik lagi ke Iconic… apakah saat itu Iconic tetap mempertahankan kemumpunian nya, ataukah menurun? We shall see… ๐Ÿ˜›

    I wish you all a good and healthy day!

  • Travel

    Chin-Ma-Ya Ramen, Serpong.

     

    Saya tidak sengaja menemukan restoran ramen ini ketika pulang dari Q-Big, setelah membawa main baby M dan keponakan saya baby AA. Entah apa yang membuat sahabat saya memutar kemudi ke arah restoran ini, karena lokasinya menurut saya lumayan terpencil ๐Ÿ˜€ Rukonya cuma terdiri dari si restoran ramen dan Indomaret saja. Sekelilingnya masih lapangan luas, belum ada bangunan berarti.

    Sebagai penggemar pork, kami excited juga karena Chin-Ma-Ya menggunakan kaldu tonkotsu (pork bone broth). Sahabat saya, C, bahkan berani bilang kuah ramen Chin-Ma-Ya lebih enak dari Ippudo. Walau memang selera setiap orang berbeda, karena setelah bersantap malam dengan sahabat-sahabat saya, saat tahun baru saya mengajak keluarga untuk lunch disini. Nah, adik saya bilang dia sih lebih suka Ippudo ๐Ÿ˜€

    Interior dan eksterior Chin-Ma-Ya ini persis banget kayak di Jepang. Sebenarnya saya ingin mencoba bersantap di patio nya, tapi kebetulan rombongan kami agak full dan ada anak kecil, sehingga kami akhirnya duduk di lantai dua. Setiap sudut restoran bener-bener instagramable menurut saya. Para stafnya juga ramah dan mengakomodir tamu. Mereka menyediakan ruangan VIP menggunakan tatami dengan minimal order Rp.500.000,- cuma karena tempat duduknya gak ada senderan, jadinya kami pilih di kursi konvensional saja.

    keliatan nyaman banget kan…

    lantai dua tempat kami bersantap masih dalam suasana Natal. Naik tangganya lumayan juga ๐Ÿ˜€

    Harga makanannya tidak terlalu mahal dan ukuran mangkuk ramennya dibedakan per size. Saya selalu memesan ukuran small/regular, tidak pernah yang jumbo, dan rasanya kenyang-kenyang saja. Mereka juga menyediakan alkohol walau kayaknya tidak lengkap. Botol sake sih berjajar, tapi menu sake nya tidak ada di daftar menu. Selain ramen, juga ada hidangan pembuka seperti miso soup, edamame, ubur-ubur, dan salad.ย 

    Saya sempat menanyakan apakah mereka menyediakan chawan mushi yang jadi favorit baby M, namun rupanya spesialisasi mereka memang sebatas ramen saja. Sushi, dan kebanyakan makanan Jepang lainnya tidak ada. Favorit saya di sini adalah shoyu ramen nya, enak banget! ๐Ÿ˜€

    restoran ini gak halal ya, sodara-sodara! Tapi enaaaak ๐Ÿ™‚

    Ngintip menunya dulu, yuk… walau saya gak sempat untuk fotoin setiap lembarnya huhuhu maaf yaa, tapi pasti banyak kok informasinya di internet ๐Ÿ™‚

     

    Menariknya, konon kokinya sih orang Jepang ya, cuma saya lupa nanya langsung ke waiter ๐Ÿ™ Mereka juga buka 24 jam lho! Gileee…kalo tinggal sekitaran Serpong,ย  kayaknya malem-malem enak nih mamam ramen panas di sini ๐Ÿ˜€ duh sayang kami tidak tinggal dekat area Chin-Ma-Ya, kalo nggak kayaknya bakal kesini terus, hehehe.

    Oya bagi yang menggunakan Waze atau Google Maps, kami sempat nyasar karena tanpa melihat alamat jelas Chin-Ma-Ya langsung masukin keyword. Ujung-ujungnya kami diarahkan ke lokasi lama Chin-Ma-Ya, dan untuk muter balik ke Ruko South Goldfinch itu lumayan jauh bok. Jadi sebelum pede jaya masukin keyword restoran ini ke GPS, di cek dulu ya itu diarahin ke alamat yang mana.

    Kesimpulan saya :

    CHIN-MA-YA Ramen (Non Halal)

    Springs Boulevard, Ruko South Goldfinch blok E1 – 5 Gading Serpong.

    + Harga cukup ramah di kantong,

    + Staff sigap dan ramah,

    + Lokasi bersih,

    + Menyediakan baby chair dengan seatbelt! (penting nih buat ibu-ibu dengan toddler),

    + Porsi makanan wajar (gak terlalu sedikit, juga tidak terlalu banyak),

    + Parkir luas dan ada satpamnya,

    + Dekorasi interior dan eksterior nyaman dan instagramable,

    + AC nya dingin banget, siap-siap pesen ocha hangat dan pake kardigan!

    Kekurangannya cuma satu…. Gak sedia chawan mushi ๐Ÿ˜›

     

    I wish you all a good and healthy day, Happy New Year!

  • Travel

    Grand Tjokro Hotel, Bandung.

    Lobby utama Grand Tjokro hotel Bandung. image source: www.booking.com

     

    We went to Bandung yesterday. It was supposed to be a university reunion for my husband, before the reunion committee canceled the event after we purchased our train tickets and hotels (very nice).

    Kami menemukan Grand Tjokro hotel setelah selama beberapa lama mencari hotel yang kids dan toddler friendly. Beberapa blog dan review yang kami temukan selalu nyebut Grand Tjokro Bandung sebagai hotel ramah anak (kids friendly hotel), sehingga kami akhirnya memutuskan tinggal di Grand Tjokro, sebelum malam terakhir pindah ke hotel yang lebih dekat ke stasiun Bandung.

    Di Grand Tjokro kami berhasil check in tanpa kendala sekitar pukul 15.00 sore. Saya menemani anak bermain di playground area yang berlokasi di lobby, sementara suami mengurus kartu kamar. Kebetulan karena kami check in di hari Jumat, area tersebut kosong sehingga baby M langsung leluasa “menguasai” prosotan di area tersebut ๐Ÿ™‚

    Playground di Lobby utama hotel. baby M langsung lari ke prosotan ๐Ÿ™‚

     

    Saya sempat memperhatikan detail di playground. Sayangnya, Grand Tjokro lalai memberikan atensi kebersihan karena saya melihat banyak debu dan remahan kotoran / tai cicak di sudut prosotan. Bola-bola di arena sudah banyak yang penyok, dan malangnya ada vandalisme di dinding playground. Wajah-wajah lucu singa, beruang dan burung jadi “bertato”… Sepintas memang playground Grand Tjokro Bandung terlihat menarik namun saat diperhatikan benar-benar, justru tidak bersih dan terkesan “terbelangkalai” ๐Ÿ™ Jujur saja, kami langsung kecewa, karena kami kan memang sengaja cari hotel yang ramah anak, tentunya kebersihan dan keamanan harus jadi faktor utama dong, kalo kita bawa anak? Apalagi hotel ini memang di gadang-gadang oleh banyak blog dan media massa lain sebagai “hotel ramah anak”…

    butuh dipinjemin Go-Clean nih hotelnya ๐Ÿ˜€ sadis banget kebersihannya tidak dijaga, dan properti mainannya amburadul tidak layak main.

    Gak kayak playground yang di gadang-gadang di media massa ๐Ÿ™ kumuhhh ๐Ÿ™

     

    Grand Tjokro Bandung punnya dua tower kamar hotel, kebetulan kamar kami terletak di Main Tower tepat diatas Lobby utama. Lokasi restoran tempat makan pagi juga di tower utama ini. Asiknya, di sini ada supermarket loh yang buka dari jam 08.00 pagi sampai dengan jam 21.00 malam – jadi kalo darurat butuh sesuatu bisa melipir ke North Tower. Di North Tower juga jadi lokasi rooftop cafe (yang pas saya sambangi ternyata tutup dong ya), spa, gym, playground lagi, kolam renang dan….. MINI ZOO~!

    Jujur saja, saya paling menantikan kayak apa sih mini zoo yang di taruh di lantai 10 north tower hotel Grand Tjokro ini??

    Setelah menaruh barang, ganti baju renang dan packing ransel kecil dengan minyak telon dan botol air, kami langsung pindah ke north tower untuk mengecek fasilitas Grand Tjokro ๐Ÿ˜€

    Untuk akses ke lantai kamar perlu kartu kamar, tapi setau kami untuk lift yang akan berhenti di public space seperti restoran dan kolam renang, justru tidak memerlukan kartu kamar. Agak nanggung ya, dari segi keamanannya. But moving on, kami mendapati puas bangeeet sama mini zoo besutan Grand Tjokro Bandung! ๐Ÿ˜€

    Isinya ternyata cukup lengkap, ada kuda poni (bisa ditunggangin, bayar Rp.25.000,- saja), kelinci, kalkun, marmut/hamster, soang, kambing, ikan, iguana, dll… Hewan-hewan ini bisa loh kita suapin wortel, jagung atau minumin susu… semuanya tinggal bayar sekitar Rp.10.000,- sampai dengan Rp.25.000,- saja. Baby M masih takut kalo tralu deket hewan, ketauan nih orang tuanya gak terlalu suka hewan makanya jarang banget baby M “diberi akses” deket-deket hewan huhuhu… Penjaga yang standby di sana ramah-ramah, dan asiknya lagi karena kami tiba weekday maka kami bisa menikmati mini zoo dan kebun di Lt 10 dengan leluasa. Hewannya kelihatan terawat dengan baik, dan terlihat cukup sehat bagi saya. Jujur saja awalnya saya agak sangsi mengenai mini zoo Grand Tjokro… bukannya kenapa, tapi males banget kalo pas dateng kotor dan hewannya kurus, keliatan takut dan gak hepi. Untungnya sih kesangsian saya segera musnah ๐Ÿ˜€

    Ohya, ada bibit tanaman dijual juga loh, dan rangkaian kebun berisi tomat, sayur mayur berjejer-jejer termasuk yang di tanam secara hidroponik. Seger banget berada di Lt.10 sambil sesekali melongok memandang kota Bandung yang mulai mendung, hehehe.

     

    monggo yang suka berkebun ๐Ÿ˜€

     

    Untuk kolam renangnya, dibedakan ada kolam renang anak dan kolam renang dewasa. Airnya dingiiiinn, gak ada penghangat, jadi siap-siap minyak telon yang banyak kalau berenang ๐Ÿ˜€ Disediakan prosotan juga di kolam renang anak, sayangnya sesuka nya Baby M sama prosotan ternyata doi masih takut nyemplung ke kolam renang :’)

    Pas masuk area kolam renang tinggal sebutin nomer kamar, kami langsung diberikan dua buah handuk besar berwarna biru. Disini anak-anak tidak boleh pinjam ban renang, bolehnya sewa seharga Rp.50.000,- per 30 menit. Lumayan mahal sih menurut saya. Ala agak nanggung gitu, mo jadi hotel ramah anak tapi untuk ban renang aja kudu sewa bok. Tapi ini opini pribadi ya…

    body emak-emak sudah bleberean kemana-mana ๐Ÿ˜€
    area playground kedua yang terletak di Lt.10 north towernya Grand Tjokro Bandung. image source: www.archipelagos.id

    ada sanbox dilengkapi shower untuk membersihkan diri sehabis main pasir ๐Ÿ˜€

     

    Ketika kami tinggal di Grand Tjokro Bandung, ternyata pas apes mereka lagi host beberapa event. Selain banyak orang lalu lalang, juga besokan nya saat breakfast kapasitas restoran gak bisa nampung semua tamu ๐Ÿ™ Jeleknya sistem manajemen restoran Grand Tjokro adalah, saat kami tiba di restoran untuk breakfast (sekitar pk.08.00 pagi), dua orang usher dipintu masuk cuma nanya kami dari kamar nomor berapa. Setelah nomor kamar di catat kami dipersilahkan masuk. Padahal seharusnya kalo kapasitas ruang makan full, manajemen harus mengantisipasi dengan memberlakukan “buka tutup” atau antrian masuk ke restoran harus di hitung. Jadi tamu yang dipersilahkan masuk adalah tamu dengan jumlah pax yang sudah ada tempat duduknya di dalam! Ini sistem manajemen restoran yang diberlakukan oleh Mulia Hotel Nusa Dua Bali saat kami menginap di sana tahun lalu. Gunanya untukย  mencegah tamu wandering around di dalam area makan buat nyari-nyari tempat duduk yang gak ada karena full. Apalagi ini kan menggadang kata-kata hotel ramah anak ya, seharusnya paham dong kalo orang tua nenteng-nenteng anak toddler sambil muterin ruang makan berkali-kali tapi gak dapet meja makan bakal jadi emosi senggol bacok? ๐Ÿ˜€

    Untuk menu sarapannya sih kami cukup puas ya, lengkap mulai dari masakan tradisional (ketan, bubur, sayur asem), western (lasagna, potato wedges, greek salads), chinese (chasiu) sampai japanese (miso, sushi)… dijamin perut kenyang dan puas. Eskrim pun banyak pilihan rasa, monggo di pilih dan diambil berkali-kali gak akan di plototin sama petugas ramah yang dinas di bagian eskrim kok ๐Ÿ˜€

    Selama dua kali makan pagi di sini kami selalu dapat babychair/kursi makan anak yang lengkap dengan seatbelt nya. Ini penting banget loh, karena menurut saya percuma deh nyediain kursi makan anak tapi gak ada seatbeltnya. Dalam hal ini Grand Tjokro menang sedikit daripada Padma hotel Bandung yang sekalipun harga menginap lebih mahal, tapi kursi makan anak dikasi dalam keadaan kotor dan gak ada seatbelt :’) Trauma dot com hehehe.

    suasana ramai ruang makan di pagi hari
    kenikmatan sushi dinilai dari berasnya dan bahan di dalam balutan sushi. Dalam hal ini sushi Grand Tjokro nilainya 6,5 dari 10
    Kid’s Corner terletak di luar restoran persis. Ada juga mini cinema, tapi kami tidak sempat mencoba

    Cookie gajah ini bisa di hias, ambil sprinkle dan dough dari kid’s corner. Tapi biar baby M gak kena gula pagi-pagi, jadinya makan polos saja ya, nak ๐Ÿ˜€

     

    Kalo dirinci satu-satu ada menu apa saja, post ini bakalan berjilid-jilid macem demo 212 ๐Ÿ˜€ Pokoknnya kalo dalam hal menu makanan breakfast sih kami puas banget deh, gak akan nyesel kayak pas liat playground nya hehehe… Rasanya juga cocok di lidah saya dan suami. Oh ya, pas kami (akhirnya!) duduk, ada pelayan nanya, “Pak, Bu, mau teh atau kopi?” suami saya bilang “kopi”, sementara saya berbisik skeptis di telinga suami, “ih pasti basa basi deh kagak dianter! Kan lagi rame, pasti lupa”… ini gara-gara pengalaman di Padma hotel Bandung dimana kami dihadapkan oleh pertanyaan yang sama, dijawab, dan minumannya gak dianter sodara-sodara ๐Ÿ˜€

    Suami cuma senyum tipis, dan beberapa saat kemudian… pelayan yang sama nongol menuangkan kopi ke cangkir putih. Oke, daku sudah seuzon :’)

    hari kedua saat sarapan pagi, kaget juga ada kayak ginian. Bagus banget nih sebagai reminder kami para tamu, supaya gak buang-buang makanan. Ambillah secukupnya ya pakbapak buibuk.

     

    Oh ya, kami juga cukup kecewa ya sama Grand Tjokro Bandung karena kamar kami kelihatan banget gak terawat. Ini ditandai dengan dinding yang terkelupas dan “keliatan berjamur”, dan sofa sobek. Kesannya jadi kayak losmen, bukannya hotel yang smalam minta Rp.750.000+ kan…

    —–

    Kesimpulan menginap selama tiga hari dua malam di hotel Grand Tjokro Bandung:

    PROS:

    + Banyak tempat permainan anak (dua playground), mini zoo, dll.

    + Spa nya buka sampai jam 23.00 wib loh :’) lumayan banget abis pulang muterin Bandung langsung aja ke Lt.10 untuk spa dulu hehehe,

    + Menu makanan paginya lengkap dan enak,

    + Pelayan di ruang makan cukup nice, gak bakal diplototin atau di manyun-in kalo nambah terus terutama minta eskrim terus ๐Ÿ˜€

    + Mini zoo nya bersih!

    + Ada supermarket di area Hotel, jadi gak perlu capek-capek nyebrang,

    + Posisi hotel di tengah kota Bandung, kemana-mana deket,

    + Ada kulkas di dalam kamar! Yeay!

    + Kursi makan anak sejauh ini selalu dapet yang ada seatbelt nya.

     

    CONS:

    – Kamarnya kotor,

    House keeping gak nyediain cukup tisu, sudah mo abis ya dibiarinin aja,

    Safety box di dalam kamar gak bisa dipakai,

    Playground nya kotor banget terutama yang di area lobi utama,

    – Manajemen ruang makan jelek, siap-siap keliling begok kalo lagi full capacity,

    – Beberapa properti di dalam kamar sudah rusak (sofa di kamar sudah jebol dan sobek, dinding di kamar dekat kasur sudah “berjamur”dan cat terkelupas”), jadi terkesan jorok dan gak serius dalam mengurus hotel,

    – Kurang dapet kesan “ramah anak” karena kebanyakan kotor, dan rusak (kecuali ruang makan dan mini zoo ya…) jadinya agak kecewa sih.

     

    Have a good and healthy day! ๐Ÿ™‚

     

  • Travel

    Yello Hotel Paskal, Bandung.

     

    Saat berlibur ke Bandung, kami mencoba hotel “baru” di wilayah Pasir Kaliki (Paskal) yang lokasinya persis menyatu dengan mall Paskal 23, Bandung ๐Ÿ˜€ Nama hotel ini “YELLO“. Kami mengambil kamar tanpa breakfast, mengingat posisi hotel yang persis menyatu dengan mall Paskal 23, jadi kami tinggal turun ke lobby cia terus masuk deh ke mall dan pilih sendiri “breakfast” yang ada di dalam mall hehe… (dalam hal ini baby M minta masuk ke Genki Sushi) ๐Ÿ˜›

     

    dinding intagram-able yang eye catching di lobby Yello Hotel

     

    Untuk mencapai Yello hotel ini perlu naik dua lift, cukup repot apalagi kalau antrian panjang, jadi butuh waktu ekstra untuk mencapai kamar kami yang terletak di lantai 9 ๐Ÿ˜€ย  Akses Yello hotel ini tinggal masuk melalui lobby Cia di mall Paskal 23, disini kami disambut dengan usher dan petugas keamanan yang sangat ramah. Interior lobby pertama Yello hotel cocok banget buat para instagrammers – sayang saya kurang instagramable jadi langsung deh nyelonong ke lift yang terletak di ujung, untuk mencapai ke lobby utama Yello.

    Lobby “utama” tempat tamu di proses check in nya ada di lantai 4, begitu keluar lift langsung ada common room lengkap dengan kuda-kudaan, X-BOX, iPad, dan perlengkapan game lainnya. Berhubung saya kurang gamers, jadinya kami tidak terlalu menaruh perhatian dengan common room ini (yang tentunya ramai dengan anak- anak dan remaja ๐Ÿ˜€ )

    Proses check in terbilang cepat walaupun hanya satu reception yang buka (padahal ada dua meja nya), dan kami segera naik lift (lift lagi!) untuk menuju ke kamar. Berbeda dengan hotel kami satunya, kali ini di Yello kami mendapat pemandangan kota Bandung. Walau agak mendung, tapi it was such a nice one mengingat di hotel sebelumnya kami “cuma” dapat pemandangan tembok/jendela kamar lain tiap kali buka korden, hehehe.

     

    pemandangan kota Bandung yang mulai mendung dari kamar kami di lantai 9

     

    Satu hal yang kami notice dari Yello, adalah :ย  gilak staffnya ramah-ramah banget! Mereka gak akan sungkan untuk menyapa kita walau kita sudah belaga sibuk sendiri. Sambutan “selamat siang bu! Siang, pak!” udah biasa banget tiap kali kami bolak balik keluyuran di sekitar Yello. Untuk tamu dengan intorvert personalities kayaknya bakal jadi anxiety tersendiri, tapi saya selalu make sure untuk menyapa balik para staf ini.ย  Kelihatan banget staf yang “terpaksa” menyapa tamu karena SOP, dengan yang memang merasa bahwa hospitality merupakan bagian pekerjaan di hotel ๐Ÿ™‚

    Saya pribadi sangat menyukai kamar kami di Yello. Sesuai namanya, interior kamar di dominasi putih dan tentunya kuning. Untuk yang suka selfie atau sekedar foto-foto instagram saya jamin betah, karena : LIGHTNING NYA BAGUS BANGET! Posisi kamar kami di tempat tinggi sehingga lightning alami dari jendela juga membantu, plus ada kaca full body untuk selfie OOTD , atau lampu di cermin kamar mandi yang tentunya cantik banget untuk foto-foto narsis :p

     

    isn’t it pretty??

    anti mainstream slippers ๐Ÿ™‚
    eye catching things everywhere

     

    Kami tidak bisa berkomentar lebih banyak mengenai breakfast, karena kami memang tidak mengambil paket tersebut. Kalau dilihat sih restorannya kecil banget, entah bagaimana kalau pas high season / high occupancy apakah bisa menampung atau tidak? Saya pernah merasakan hotel-hotel besar bahkan hotel bintang lima yang kewalahan dalam manajemen breakfast ketika tingkat okupansi sedang tinggi-tingginya. Nah ini restorannya beneran mungil banget, lebih mirip coffee shop malah ๐Ÿ˜€

    Kolam renang Yello pun sangat mungil, ada kolam renang dewasa dan anak-anak. Suami saya sempat berenang pagi, tapi saya dan baby M memilih leha-leha nonton tv cabel dikamar, hehehe. Secara garis besar, hotel ini cukup value of money, apalagi terletak dekat banget sama stasiun Bandung. Saat check out kami memesan Grab dan hanya membayar Rp.10.000,- saja saking dekatnya!

    Interior kamar dan segala pernak pernik di dalamnya pun semua bagus, gres, bersih pula. Kami harap Yello mempertahankan hal-hal yang baik bahkan kalau bisa ditingkatkan di kemudian hari, karena kami pasti kembali ke Yello hotel Paskal kalau berlibur ke Bandung lagi ๐Ÿ˜€

    ————

    Berdasarkan pengalaman kami di Yello Hotel Paskal, Bandung :

    PROS

    + Kamar di Yello masih bersih dan rapi (ini penting banget buat saya yang bawa anak usia dua tahun!),

    + Perlengkapan kamar lengkap, dalam artian house keeping did their job nicely (tisu toilet dipastikan ada! Simple tapi saya sering kali terganggu dengan house keeping yang malas, kalau tisu toilet sudah mau habis bukannya diganti tapi “dibiarkan” saja sehingga tamu tidak nyaman dan harus menelepon reception untuk diantarkan tisu yang baru),

    +View nya kota Bandung,

    + Staf-stafnya ramah banget dan akomodir tamu,

    + Ada safety box di dalam kamar,

    + VALUE OF MONEY (kami menginap semalam kena harga Rp.320.000,- saja, tapi non breakfast ya),

    + Kaca kamar mandi ada built-in lampu ๐Ÿ˜€

     

    CONS

    – Kolam renangnya kecil, saat kami datang sudah ramai sehingga tidak nyaman,

    Dining hall nya kecil (mengkhawatirkan kalo nginep pas high season, mending cari makan langsung di mall Paskal),

    – Untuk mencapai kamar capek harus melewati banyak lift :’)

    – Gak cocok untuk staycation karena gak banyak yang bisa di tawarkan oleh hotel sendiri dalam hal entertainment.

    – Diย  kamar gak ada kulkas (maklum sih sebenernya karena ini kan budget hotel itungannya. Tapi kalo ada bakal perfect buangettt *makmak style)

     

    Have a good and healthy day, people! ๐Ÿ™‚

  • Travel

    Naik Kereta Api ke Bandung.

    Kereta Api Parahyangan jurusan Jakarta Gambir – Bandung.

     

    Beberapa minggu sebelum saya dan suami mengajak baby M jalan-jalan ke Bandung, kami sudah memperlihatkan gambar/foto kereta api ke baby M. Ini sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali akan membawa anak bepergian terutama bila perjalanan lebih dari dua jam (Jakarta – Bandung menaiki kereta api ditempuh selama tiga jam lima belas menit), guna menghindari anak rewel di jalan akibat bosan, takut, dan lain sebagainya. Perlengkapan seperti popok disposable, air minum + sedotan, susu UHT, mainan, jaket, pakaian ganti, juga tak ketinggalan di packing dalam tas.

    Kami juga selalu memilih jam travel dimana dekat jam tidur anak, sehingga tak lama setelah kereta bergerak dari stasiun Gambir, anak sudah terlelap. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak baby M travelling ke China (dua belas jam penerbangan, termasuk transit di Hong Kong) dan ke Bali (dua jam perjalanan). Bahkan saat ke Yogyakarta (satu jam perjalanan) pun tak luput dari pemilihan jam traveling saat waktu tidur, hehehe. Ini karena baby M sangat aktif (ever heard about that “terrible two”?) sehingga demi kenyamanan dan keamanan bersama serta pihak-pihak dalam moda transportasi publik, sebaiknya baby M tak lama setelah duduk di pesawat/kereta langsung bablas tidur hehehe…

    Tiket kereta kami berangkat pukul 10.00 WIB dari stasiun Gambir, Jakarta. Baby M sudah bangun dari jam 07.00 pagi. Wah, sudah pas nih waktunya, pikir saya. Sekitar pk.11.00 WIB pasti anak saya ini sudah siap-siap minta nemplok tidur siang… Tentunya para orang tua yang paling mengenal sifat/karakter serta jam tidur anak ya, sehingga tips saya untuk travelling parents baiknya menyesuaikan dengan jam tidur anak. Kalau saya dan suami lebih nyaman anak tidur di perjalanan ๐Ÿ™‚ Selain tidak mengganggu penumpang lain, saat tiba di tujuan pun anak sudah well rested.

     

    senangnya kereta api sekarang jarak dekat maupun jauh sudah ada soket listrik. Nonton HBO GO pun leluasa ๐Ÿ™‚

     

    Dahulu jaman saya masih SD, orang tua saya kalau naik kereta api ke Jawa pasti nge-pack banyak sekali makanan: nasi, lauk, serta berbotol-botol minuman. Saya dan adik saya sampai kesal karena harus menggotong ekstra barang ๐Ÿ™‚ Alasan mereka kala itu klasik sekali, “Kalau beli makanan di kereta mahal!”

    Lantas, bagaimana sekarang??

    Ohoho, saya senang sekali mengetahui bahwa sekarang haus dan lapar tidak perlu khawatir, apalagi sampai menggotong berkotak-kotak bekal! Restoran Kereta Api (“RESKA”) sekarang sudah bagus banget, dan terutama harganya tidak boleh mencekik leher orang yang lapar dan haus ๐Ÿ˜€ Harganya sangat bersahabat di kantong! Okelah mungkin ada perbedaan seribu atau lima ribu dengan di Alfamart (tergantung produknya), tapi menurut saya masih sangat masuk akal.

    Bahkan seluruh staf dan pegawai KAI menurut saya sudah banyak perubahan sikap. Semenjak kami turun di stasiun Gambir dan stasiun Bandung, kesemuanya sangat ramah dan membantu. Porter pun tidak memaksa dan tidak tersinggung bila ditolak (monmaap ya pak…) sementara saya ingat dahulu porter akan memaksa bahkan dengan lancang langsung menggotong barang kita bak maling aja… KAI rupanya sudah membenahi diri, dan kami sangat senang sekali menggunakan jasa KAI sekarang. Kiranya dipertahankan dan makin di tingkatkan, karena satu-satunya yang masih membuat saya enek kalau naik kereta adalah : TOILETNYA! :’)

     

    sebelumnya monmaap kuku belum kena menicure ๐Ÿ˜€ ini coklat panas seharga Rp.10.000,- yang saya beli dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta ๐Ÿ™‚
    baby M awalnya takut saat baru masuk ke gerbong, tapi setelah beberapa saat jalan-jalan “mengenal” isi gerbong, mulai tenang dan minta duduk sendiri ๐Ÿ˜€ Untung saja kursi ini kosong jadi baby M sempat “merasakan” duduk ala-ala ๐Ÿ˜€

     

    Oya, bagi orang tua dan balita yang travelling menggunakan kereta api, di stasiun Gambir dan stasiun Bandung saya lihat ada area playground juga untuk anak-anak. Sepintas saya juga lihat nursery / ruang menyusui, tapi saya tidak sempat mengintip ke dalam apakah terawat/tidak?

    Kalau untuk area playground di stasiun Gambir, karpetnya kotor dan butuh perhatian khusus, tapi mainannya cukup rapi ๐Ÿ˜€ Sementara area yang di stasiun Bandung jujur saja saya tidak sempat memperhatikan, karena sudah buru-buru di jemput.

    Sejak saya punya anak, saya sangat merasakan pentingnya nursery (tempat untuk menyusui dan ganti popok anak) dan playground area. Bukan tugas mudah lho, bepergian dengan anak-anak apalagi yang masih kecil. Kalau sudah bosan wah itu bahaya buibuk pakbapak. That’s why saya seringkali browsing dulu hotel mana yang ramah anak? Apakah brand transportasi yang akan kami pilih ramah anak?

    Terlihat simpel, tapi penting banget. Bagaimanapun kalau anak happy orang tuanya pasti juga ikut happy dan perjalanan lancar, serta tidak “mengganggu” pihak-pihak/penumpang lain ๐Ÿ˜€

    asyik mandangin kereta lalu lalang di stasiun, lalu dadah-dadah sendiri ke kereta lewat ๐Ÿ™‚

     

    Terimakasih KAI, sampai jumpa di perjalanan berikutnya ๐Ÿ˜€