Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Thoughts

    Big Bad Wolf Jakarta 2019

    Kemarin saya iseng mengunjungi bazaar buku hits Big Bad Wolf (BBW) yang diadakan di Jakarta. Pameran buku ini lebih besar dari yang dulu diadakan Kompas Gramedia di tahun 90-an jaman saya masih kecil 😀 Berlokasi di ICE BSD, pameran diadakan sampai tanggal 11 Maret 2019 dan berlangsung selama 24 jam. Canggih bener ya?

    Tahun lalu saya juga datang langsung ke pameran BBW ini, selain tandem menggunakan jasa titip juga, karena para jastipers ini hampir gak ada yang bersedia cari selain buku anak. Sementara saya juga kan pengen indulge hobi saya yakni mengumpulkan buku, hehehe.. Nah pengalaman saya nanya-nanya dan gabung ke beberapa jastipers, mereka ini lebih suka belanjain buku anak-anak (yang memang bejibun bangeettt di BBW). Ada sih satu dua biji yang janjiin bakal liatin buku dewasa dan nonfiksi, tapi tetap saja kan gak seafdol kalo kita datang langsung dan ngubek-ngubek 😉

    Ada beberapa perbedaan antara BBW 2018 dengan 2019, salah satunya di BBW tahun ini ada playground berbayar dan isi food court nya lebih banyak daripada tahun lalu. Untuk buku-buku yang dijual di BBW sendiri, saya pribadi lebih senang dan lebih belanja banyak di BBW 2018 daripada yang sekarang. Bukannya gak bagus, tapi kebanyakan ngulang dari tahun lalu alias saya sudah liat yang itu-itu saja.

    Sayangnya ada penurunan yang cukup signifikan menurut saya di BBW tahun ini, yakni di segi human resource nya Para mbak dan mas alias kakak-kakak yang bertugas menurut saya kurang gesit dan terutama tidak tahu apa-apa soal buku/literatur. Kayaknya sih, ini hasil outsource alias bukan pegawai langsung dari penyelenggara BBW, hehe tebakan sotoy saya dan seorang teman yang tiap kali nanya atau ngobrol soal buku ke para mas/mbak ini mereka cuma melongo doang terus buru-buru kabur gak mau ngebantuin 🙁 Bahkan ada yang ngegerombol terus joget-joget deket speaker sponsor… yawla BBW kuharap kalian bisa memperbaiki human resource lebih oke lagi ya tahun depan.

    denah BBW 2019, kelihatan banget mereka sangat fokus di buku anak-anak 😉

    Harga makanan dan minuman yang tersedia di food court BBW 2019 sudah kena mark up semua, jadi buat yang mau berhemat bisa bawa cemilan sendiri. Harga sebotol aqua di area pameran dihargai Rp.10.000,- dan saya membeli soto mie seharga Rp.45.000,- yang isinya sudah agak dingin dan hanya tomat. Duh sedihnya. Mana penjualnya gak ramah, macam kecapean bergadang jualan soto 24 jam :p

    Satu hal yang mendingan daripada BBW tahun lalu adalah tahun ini pilihan makannya lebih banyak dan beragam, plus mereka informasikan toilet ada di dalam area pameran dan adanya playground, walau berbayar… hehehe. Harga playground ini menurut saya ajimumpung mahalnya, dan anak usia bawah tiga tahun yang masuk wajib pake pendamping dan si pendamping ini wajib bayar juga loh. Untuk mainannya sendiri saya tidak sempat foto, tapi baby M kurang menikmati playground tersebut 🙁 Mamak jadi sedih sudah keburu bayar mahal kan, hahahaha.

    area makan dan minum yang lebih besar daripada tahun lalu.

    Saya sengaja datang sore hari di hari kerja, maksud hati supaya tidak perlu berdesakan. Untungnya situasi dan kondisi BBW kala itu cukup kondusif. Beberapa teman saya sudah mengeluh kesal ke BBW karena harus rebutan atau tarik urat dengan pengunjung yang merupakan jastipers. Kayaknya para jastipers ini suka “ngeblok/ngeborong” buku-buku tertentu dan pengunjung lain dilarang ambil barang yang sama *entah apa maksudnya* dan kejadian keluhan seperti ini sering kali saya dengar dari beberapa teman yang memang datang untuk membeli buku anak. Rupanya, problema jastipers vs pengunjung ini belum bisa diselesaikan / ditangani dengan baik oleh penyelenggara BBW 2019 karena masih ada keluhan demikian… entah memang stok buku bagus berkurang, penyelenggara tutup mata, atau memang si jastipers ini perlu dibatasin ambil skian buku tertentu dalam troli (atau saat membayar)… semoga BBW tahun depan lebih baik lagi ya *puk puk*

    Hasil BBW 2019 🙂

    Kebetulan saya ke sana carinya di bagian sejarah dan non-fiksi, sehingga tidak mengalami harus mangkel-mangkelan rebutan buku anak… walau memang, saya lihat beberapa orang dalam satu troli ada puluhan barang yang sama dan troli tersebut di pegangin terus, macem takut di colong hehehe.

    Saya cukup senang dengan ide pameran buku 24 jam nonstop ini, dan memang benar banyak buku bagus (terutama di kategori yang saya minati yakni non fiksi)… Semoga pihak penyelenggara BBW semakin baik lagi ke depannya dalam mempersiapkan dan mengeksekusi pameran.

    Kesimpulan berkunjung ke BBW 2019 :

    Plusnya

    + AC nya dingin, jadi nyaman,

    + Banyak toilet termasuk di dalam area pameran maupun di lobby,

    + area makan lebih luas dan beragam,

    + Ada playground.

    Minusnya

    -buku tidak sebagus tahun lalu (subyektif ya ini),

    -Harga playground terlalu matok mahal untuk waktu sebentar dan aturan yang ketat (tidak nyaman) dan mainan terbatas,

    -Harga makanan dan minuman di dalam sangat mahal,

    -Para mas/mbak petugas BBW tidak ada skill literatur/tidak paham buku,

    -Para mas/mbak petugas BBW tidak terlalu mau/tidak sabar membantu customer yang mencari buku tertentu (bahkan ditanya dimana area toilet di dalam area pameran saja ada yang tidak tahu).

    BBW 2019 di Jakarta masih berlangsung beberapa hari lagi, silahkan yang mau ke BBW segera menuju ke ICE BSD, 24 jam dan selamat berburu buku! 😀

  • Thoughts

    Black and White.

    “What now, what do you want?” ia bertanya.

    Do you even ready to hear the answer, to listen and understand my answer?

    I want to be loved, to be fight for; love me unconditionally, as I would do for you. I am fiercely loyal to those who are to me.

    Love me.

    Fight for me.

    Be there for me.

    As I would, for you, without a question.

    “Am I wrong? Did I scare people?” saya bertanya pada RD.

    Eyes with pity, met with eyes of rage and doubt.

    I just wanted to know what is happening to me.

  • Thoughts

    No, I am Not Okay.

    Saya baru saja selesai bertemu dengan RD, psikolog saya di Sanatorium Dharmawangsa. Saat menulis ini saya duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak beberapa meter dari Sanatorium. Namanya Escape Coffee. Tempatnya cukup nyaman, sejuk, tapi baristanya berisik dan minuman-minumannya (saya vow untuk mencicipi setiap menu minumannya, hehehe) sejauh ini belum ada yang cocok di lidah. Okay, mungkin cuban rum choco nya juara, tapi belum sampe bikin ketagihan 😛

    Selama saya duduk sendirian menghadapi laptop dan earphone yang sebenarnya tidak memutar lagu apa-apa (only to send the message: “Leave me be!”), saya kebetulan mendengar dua percakapan dari dua orang berbeda yang duduk dekat meja saya.

    Percakapan pertama, si nona meja sebelah memanggil barista dan minta segelas air lagi.

    Nona: Mas! Mas, sini. *masnya dateng* Bisa tolong isi air lagi gak?

    Barista: Baik, bu, sebentar ya. *gak lama balik dengan segelas air* Ini ya bu.

    Nona: Ya.

    Percakapan kedua, tante di seberang meja saya, mencicipi minuman yang baru diantar barista, lalu segera bangkit dari sofa dan menghampiri mas Barista ke counter.

    Tante: Mas, ini kemanisan, tolong dibuatkan lagi ya!

    Barista: Oh… iya, bu. *pasrah*

    Mendengar dan menyaksikan dua percakapan diatas, saya otomatis berpikir:

    1. Wah gila sih kagak ada makasih-makasihnya,
    2. Demanding amat bok.

    Kemudian saya berpikir…… sebagai person, apakah saya mungkin juga seperti dua poin saya diatas? Bahwa saya tidak tau terimakasih, dan seorang yang demanding? Saya sempat terdiam sejenak (walau memang diam aja sih, karena sendirian gak ada temen ngobrol hehehe), dan merefleksikan ke hidup saya beberapa waktu belakangan. Kebetulan kemarin saya sempat dihantui intrusive thoughts tentang seseorang. Sebut saja sahabat ini (atau lebih tepatnya, mantan sahabat) bernama A.

    Dahulu semasa kami masih berteman sangat erat, saya type yang akan melakukan segala hal dalam kemampuan saya, semaksimal mungkin, untuk sahabat-sahabat circle one saya–termasuk si A ini. Ada suatu momen dimana saya khawatir akan diri A, walau tampaknya A sendiri tidak masalah dengan kondisinya, dan saya berusaha me-level-up-kan A.Saya berusaha memperbaiki penampilan A dan membantunya menemukan seorang pendamping. Saya bahkan marah bila ada orang yang menyinggung single life A, saya tidak suka A di sindir. Yes, I am that protective, and maybe I was wrong. Mungkin saya keterlaluan? Apakah saya menyinggung A? Saya tidak tau, karena kami tidak lagi bicara, dan saya shut people out ketika saya berada di jurang terdalam depresi. She did not bother to reach out to me when I am in my deepest shit, to ask whether I am okay or not, am I still alive and well, until this day, and I guess that was it.

    Intrusive thoughts yang menghantui saya beberapa hari ini adalah perasaan kosong karena saya merasa di buang. Akhirnya A menemukan pendamping, dan ketika saya shut people out, ia tidak bother untuk reach out menanyakan keadaan saya langsung. I feel betrayed.

    She (finally) found a guy, and she “dumped” me. Saya merasa seperti sampah. Benar-benar seperti sampah, yang dibuang dan tidak dipedulikan ketika orang sudah mendapatkan yang lain dan lebih baik. Apakah saya sejelek itu? Apakah saya sehina itu?

    Apakah saya seperti dua perempuan yang saya saksikan di coffee shop ini?

    Apakah saya orang yang demanding?

    Saya banyak mengkritik diri saya sendiri, dan RD berulang kali mengingatkan untuk me-manage anger yang saya rasakan melalui terapi-terapinya.

    Terkadang sebagai manusia yang kita butuhkan hanya tangan yang terulur dan kata-kata menyejukkan seperti, “Hey, are you okay?” Sebab hanya orang tertentu dengan  kemampuan extra ordinary untuk dapat melakukan hal sesimpel menanyakan keadaan orang lain. Then i realised, my circle one whom I have known for 15 years as we grew up together, did not bother to ask this. One of them even being judgemental, and the other said I am a toxic person.

    Apakah saya benar demikian?

    Apakah saya memang layak dibuang?

    Apakah semua yang saya lakukan untuk “kami” tidak se-berharga itu?

    Ketika saya masuk ke ruangannya dan RD (selalu!) bertanya: How are you feeling?, sesungguhnya ada beberapa momen ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis atau menghantam meja atau menarik rambut saya–yang tidak saya lakukan karena decent people don’t do such thing (walau kalaupun saya kelepasan, saya yakin beliau maklum). Sebuah kalimat simple, tapi tidak semua orang (selain psikolog dan psikiater, tampaknya) bisa mengucapkannya dan really meant it.

    Saya belajar untuk mengingat kalimat tersebut, dan ketika mengucapkannya, saya harap saya bisa membantu orang lain. Saya tidak perlu doa dan wish omong kosong yang orang ucapkan ketika Natal/Tahun Baru, kata-kata kosong seperti “semoga blablabla” what the fuck, kalau orang yang mengetiknya tidak tulus? Bahkan tidak ada dan tidak peduli ketika orang yang ia klaim “doakan dan wish-kan” sebenarnya ingin mati? Dan bila benar orang itu mati, bukankah si “pemberi wish dan doa” (yang justru kehadirannya hanya omong kosong belaka) justru menanggung dosa akan nyawa yang melayang tersebut?

    Banyak orang mengklaim ini itu, tapi  ketika waktunya pembuktian, semuanya berlomba-lomba melarikan diri dengan berbagai alasan. Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya harap saya diberikan courage untuk berada bersama orang yang mempercayakan saya their darkest moments. Saya harap saya bisa membantu mereka semaksimal mungkin.

    Saya membawa banyak luka dan kekecewaan di tahun baru ini. Saya berusaha menjadi normal.

    Kalau ada dari kalian, my circle one, yang membaca ini, I am sorry, I truly am, for what I have done. Thank your for not reaching out to me in my darkest shit, thank you for running away when I need you the most. Thank you for saying that I should said please and beg. Thank you for reminding me that I am a toxic person. Thank you for the lesson, thank you for fifteen years we have been through.

    I understand if you were all not comfortable with me being sick, and I cannot force you to understand either, because you girls are not willing to understand.

    Thank you for breaking my heart, and leaving me when I need you girls the most. My only support system.

    I am sorry I left without explanation, I wish I had, but I could not because, hey, I am toxic and crazy, right. I tried to opened up and reveal my vulnerable side, but I only got judgement. I am afraid and I am full of anger. I knew I am sick, and I am sorry. I wish I was a good friend, and once I believed I had one.

    I let go.

    I wish you all a good and healthy day.

  • Thoughts

    Hari Terakhir di Tahun 2018.

    image source: Pinterest

    Akhir tahun selalu bittersweet untuk saya. Di satu sisi saya bersyukur akan menutup tahun di belakang saya, tapi di sisi lain saya takut akan apa yang tahun baru bawa… Happiness? Misery? Fear? Hopes? Another abandonment? Kita tidak bisa menerka masa depan, hanya bisa berharap yang terbaik dan dikuatkan untuk melewati yang terburuk. Saya juga masih menata hati dari sakit dan hinaan yang saya terima beberapa saat lalu, mengenai kondisi saya. Trigger seperti ucapan yang diakhiri dengan “…semoga lebih bahagia blablabla…” membawa pisau tersendiri di hati saya. Kenapa orang suka sekali berbasa-basi remeh temeh yang sebenarnya kosong? Sungguh mudah sekali kita mengumbar doa — karena kita merasa dengan “mendoakan” saja cukup, atau dengan “kata-kata indah”… terkadang yang seseorang butuhkan hanyalah bukti bahwa your words meant something. Not that I say praying (if you do truly pray) is wrong.

    Tapi mengapa sebagian besar dari kita hanya pandai menguntai kata, tetapi isinya nihil?

    Mengapa mudah sekali bagi seseorang untuk mengatakan hal-hal indah tetapi tidak ada perbuatan untuk membuktikannya?

    Hari terakhir di tahun 2018 ini saya lalui tanpa ada yang terasa spesial, cenderung sepi malah. Keluarga saya tipe yang sibuk masing-masing dan bukan tipe keluarga yang hangat atau fungsional. Suami saya berada di kota lain. Saya punya satu hari penuh, sebelum kembang api mulai mewarnai langit nanti malam, untuk melihat ke belakang. Tahun ini tahun yang cukup berat untuk saya; sekaligus juga tahun yang menjadi awakening.

    Nothing lasts forever.

    Tahun ini saya mengucapkan selamat tinggal pada beberapa hal yang menjadi sumber kekuatan saya dahulu. Tahun ini saya juga menyapa hal-hal baru dan keinginan lama yang ingin saya wujudkan. I learnt a lot this year; some things don’t always turn the way we planned, or the way they should. I learnt that friends of decades can be fake and hurtful and left you at your darkest moment; I learnt that those who can truly accept and love us are not always of our blood, or our “best Friends”. At times it can be shocking how your world fell into pieces but everything and everyone around us carry on with life. It makes you think, whether your presence in this world mattered or not.

    But I am proud that I finally seek help for myself, this year.

    I am grateful that I also started to write again.

    I am happy that my eyes were opened to the harsh truth that people who truly loves you for who you are (not only the “you” when you are healthy) is the one worth sticking your energy with. Value those who asks, “are you okay?” in your darkest moment, and not judging you. Trust me in this.

    Some things I might not talk about, because I am too lost in words… and some things I write to make me carry on with life, hopes, anger, and fear.

    a kind reminder. thank you for the most valuable lesson about this, 2018!. image source: Pinterest

     

    Saya tidak pernah membuat resolusi tahun baru. Mungkin seharusnya saya mulai berpikir resolusi apa untuk tahun 2019… but mostly my mind is blank… Saya hanya bersyukur diberi kesehatan dan berkat agar bisa jadi berkat bagi orang lain selama saya berjuang untuk hidup di dunia fana ini. Tahun 2019 saya berharap saya dapat menjadi sahabat bagi siapapun yang membutuhkan saya, saya harap saya diberikan kesempatan untuk dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan orang lain. Let me help people. Let me also healed from feeling anger and abandonment. I want, and I will be healthier this year. And please let George R.R. Martin published The Winds of Winter… 😀

     

    I wish you all a good and healthy new year  🙂