Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Mental Health

    Suffocate.

    I don’t think I’ve been this low, or this afraid in my life. And I have to bear it, alone. Don’t show it, don’t let people now. Trust no one with your health-issues. Afraid. Very afraid. If I tell, people will judged, and I will be invalidated all over again.

    I am afraid for my sanity, for my well-being; and with it on the stakes are my son, and my personal relationships. I think I am fading away.

    RD dan saya tidak compatible; dalam artian, he thinks I am okay now, or at least feeling better. But I am not. I feel it inside me, I am not okay.

    Dan saya merasa ditinggalkan. Abandoned, like people from my past did.Β 

    Saya merasa bodoh sekali dan seharusnya mungkin saya sudah merasakannya sejak lama. Entahlah. Saya merasa beberapa hari ini saya semakin sakit, namun saya tidak bisa kembali. Intrusive thoughts dan anxiety saya, dicampur dengan abandonment issues berkata, “Hey, bodoh! Dia tidak dapat menolongmu! Dia menyuruhmu pergi! HORSEHIT!”

    My head is my enemy.

    Sejauh ini saya sudah menemui tiga psikolog; RW (didn’t think I have any issues at all), AD (just met for a second opinion once, when I got panic attack. Decent and okay, but not so available to my needs/liking), andΒ RD (thinks I am better and sent me away). Saya akan menemui psikolog ke-empat minggu depan, setelah menunggu dua minggu. Saya punya doubt tersendiri dengan calon psikolog ini, karena ternyata ia punya beberapa mutual friends dengan saya.

    I wanted to scream, please fucking help me, but I can’t. Fucking can’t.

    I am toxic, she said. I am hateful. I am a freak, I am sad and I am full of anger. My fucking life is a fucking joke. I feel so evil, I am broken. But I will do another leap of faith. When I wanna kill myself, I look upon my son. He needs me now. But I am afraid when he is older, and when my intrusive thoughts saying he does not need me anymore.

  • Mental Health

    Alone.

    My health is declining. The past week, I’ve been hearing my thoughts whispering mean things. I have no one. I am so full of anger, resentment, and fear. Even my therapist forsaken me.

  • Mental Health

    Finding Oxytocin.

    RD, my psychologist/therapist, prescribed me chocolates today.

    My polished manner laughed politely and nodded, the demon inside me scoffed.

    I did walk into the supermarket, purchasing chocolates. If I gain weight or pimples started to decorate my face, I blame you, RD.

    I wish he prescribed me wine.

    Goddamn oxytocin.

  • Mental Health

    Pandora Box.

    I met with RD today and I impulsively told him something I shouldn’t.

    I told him I wanted someone dead, and RD suggested we do more clinical tests. Genius me, shit.

    I think I am going to be crazy.

    I feel so awful, I feel so mean.

    RD asked me do I want to know whats inside the Pandora box? He even put the box right before my eyes. The fucking pandora box.

    Yes, I want to.

    “I am afraid.” was my answer.

  • Mental Health

    Darkness, My Old Friend.

    I can feel it coming, sometimes like a whirlwind; strong and fierce, swiping everything I hold dear.

    Sometimes, building slowly inside; brick, by brick, by brick. Like right now.

    Brick, by brick.

    My body would tensed; physically they could feel it coming. My heart, beating fast. My lungs, demanding more air. My head, light and dizzy… My legs, shaking. And sometimes my hands, cold and clutches each other. Throat gone dry like withered apple. They, too, could feel it coming.

    Brick, by brick. Today is not the whirlwind.

    Brick, by brick.

    I used to embraced it. I am afraid of it now. It cost me everything. It drifting me away, yet it protected me all these years.

    All these fucking years.

    Brick, by brick.

     He told me to give it a rest. Should I? Would I want that?

    Who am I then, if it was put to rest?

    My lurking shadow, my protector, my defender, half of me…

    It is approaching now.

    Slowly. Creeping, whispering.

    Brick, by brick.

    Swallowing.

  • Mental Health

    Berobat Ke Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa.

    Beberapa waktu lalu saya mengalami relapse parah, bisa dibilang yang paling parah selama tiga dekade saya hidup di dunia. Sebelumnya, apa sih relapse itu? Saya jelaskan dahulu, menurut Wikipedia relapse adalah kambuhnya suatu kondisi masa lalu yang biasanya medis setelah dormant (“tertidur”) cukup lama. Kalau menurut kamus Cambridge online, relapse itu kembali sakit atau berlaku tidak normal lagi setelah sempat membaik. Saya pikir relapse itu bahasa awamnya ya “kambuh” πŸ˜€

    Dahulu saya cope dengan kondisi saya yang kata psikolog “hitam dan putih” dengan menyakiti diri sendiri (dan mungkin orang lain?), but thats another story in another time, I guess. Sekarang saya punya anak batita yang membutuhkan perhatian dan kehidupan saya, sehingga saya “cukup sadar” untuk tidak berbuat nekad. Intrusive thoughts itu sering muncul, dan dua bulan belakangan benar-benar memborbardir saya sampai titik penghabisan. Beberapa malam saya berbaring di kamar, saat anak saya sudah terlelap, dan saya menangis tanpa suara. Ada kalanya saya ingin menyerah.

    Saya sadar saya butuh bantuan profesional.

    Sayangnya sebelum bantuan itu datang, ada kejadian yang membuat saya makin terjun dalam jurang gelap — relapse saya makin parah karena kejadian ini. Trust saya hilang, total. Saya kehilangan semua support system selama lima belas tahun. Well, all but only one who stay, and she has stayed on many times I relapsed when we were younger (I didn’t know and didn’t suspect I have issues, back then).

    Saya memilih mencari pertolongan ke Sanatorium Dharmawangsa, karena faktor cukup dekat dari rumah dan harga konseling dengan Psikolog di Sanatorium Dharmawangsa cukup dengan harga Rp.400.000,-/jam. Saya sudah mencari kemana-mana soal biaya konseling ini, mulai dari Kassandra & Associates yang hits (minta Rp.1.000.000,-/jam), Yayasan Psikolog Indonesia (Rp.700.000,-/90 menit) sampai ke Yayasan Pulih (start dari Rp.250.000,-/jam). Oleh satu dan lain hal akhirnya saya memutuskan ke Sanatorium Dharmawangsa. Total yang saya bayar setiap konseling di Sanatorium Dharmawangsa adalah Rp.440.000,- dengan perhitungan Rp.400.000,- biaya konseling satu jam dan Rp.40.000,- biaya administrasi. Sayangnya Sanatorium Dharmawangsa (kini juga disebut Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa) belum menerima pasien dengan BPJS.

    Saya menantikan pertemuan pertama dan perdana saya dengan Psikolog (perempuan di usia akhir 70 tahun, dengan inisial “RW”) dan ketika hari itu datang, saya sangat anxious sampai ingin muntah. Jujur, saya merasa malu sekali menemui Psikolog. Selama sekian tahun ibu saya selalu taunted how broken I am and that I need to “fix” myself up with Psychologists.

    Ketika saya masuk ke ruangannya, RW menyapa saya dan pertanyaan pertama adalah, “Apa yang bisa saya bantu?”

    Saya sungguh berharap dapat memberikan review yang bagus akan Psikolog ini, yang sebenarnya cukup simpatik, tetapi Beliau tampaknya lebih ke arah psikologi perusahaan atau semacamnya, dan bukan klinis. Satu hal yang saya perhatikan adalah, Beliau tidak menulis apapun di rekam medis saya. Oke, red flag pertama. Yang kedua adalah Beliau tampaknya tidak menganggap “permasalahan” saya cukup serius karena ia hanya mengatakan saya hanya butuh channeling my emotions. Pada faktanya, saya juga paham harus channeling (menyalurkan), dalam hal ini saya memilih media menulis.

    I left her office, more broken and angrier than before I entered.

    I booked another meeting with another Psychologist right after I paid her fees.

    Psikolog kedua saya, laki-laki lebih muda dua tahun dari saya berdasarkan profil LinkedIin nya (saya tidak masalah, selama dapat menolong saya), menanyakan hal yang serupa ketika saya duduk di hadapannya, tiga hari setelah sesi pertama saya dengan RW yang berantakan. Kali ini saya dijadwalkan untuk menjalani serangkaian tes klinis.

    Perjalanan saya masih jauh, dan Psikolog ini (“RD”) juga menyatakan bahwa proses menuju kesembuhan/menjadi “normal”/ bahasa Beliau “untuk menjadi sama seperti orang kebanyakan”, tidaklah mudah. Sesaat saya merenungkannya, dan saya merenungkannya kembali di mobil dalam perjalan pulang, dan kembali merenungkan kata-katanya sesampainya saya di rumah.

    “Apa itu normal? Apa itu waras? Pandangan saya dan kamu akan normal dan waras berbeda. Satu hal yang kamu cari adalah bagaimana kamu bisa menjadi seperti orang kebanyakan. Disini kita tidak ada kamusnya normal dan waras.”

    Fuck unique, I am done being “unique”.

    Saya ingin menjadi orang kebanyakan.

    Ya, saya letih, saya tidak mau jadi berbeda. If this is my curse, please take it from me.

     

    RSJ Dharmawangsa juga menyediakan rawat inap (selain rawat jalan) di bagian Psikiatri dan Psikologinya. Ada layanan antar jemput πŸ™‚

    suasana agak gelap dan lumayan kuno.

     

    Lokasi RSJ Dharmawangsa ini sebenarnya strategis, persis di seberangnya Plataran Dharmawangsa dan Dharmawangsa Square. Agak nyempil sedikit di apit perumahan, dan jalan raya yang hanya bisa dilalui sekedarnya oleh dua mobil. Bagi mata yang tidak awas atau tidak memakai GPS mungkin agak kesulitan spotting posisinya πŸ˜€

    Interiornya pun agak kuno, tidak seberapa terang, dan saya sejauh ini tidak melihat tempat parkir yang memadai selain di lingkungan jalan raya perumahan itu tadi (yang bikin jadi sempit untuk dilalui dua mobil). Tenang saja, kami pasien poli Psikologi dipisahkan kok dari poli Kejiwaan/Psikiatri. Poli Psikiatri dijaga ketat oleh seorang satpam yang siaga di depan sebuah pintu yang “harus selalu terkunci” πŸ™‚ Wah, agak seram ya… tapi percayalah, aslinya tidak seseram itu.

    Kalau kamu merasa butuh bantuan, kalau kamu merasa tidak sanggup lagi untuk “terus berjuang”… kalau kamu merasa dunia mu runtuh, carilah pertolongan secepatnya. Saya beruntung mempunyai seorang anak yang dapat saya perjuangkan, dimana saat intrusive thoughts dan paranoia mulai kembali, saya masih bisa berpikir “jernih” bahwa anak saya membutuhkan saya. When I drift away, my son is my anchor.

    Dan bagi kamu yang saat ini mengkhawatirkan seseorang, please be a friend for him/her. Ask them how are they feeling, don’t be afraid. Your ignorance can cost someone’s life. Ajak mereka yang kamu khawatirkan untuk mencari pertolongan profesional.

    Beda Psikolog dengan Psikiater adalah,

    Psikiater memulai pendidikan dengan gelar kedokteran. Selulus dokter umum, mereka ambil spesifikasi S2 Kejiwaan, sehingga karena basic nya sudah dokter, para Psikiater diperbolehkan untuk meresepkan obat.

    Psikolog di sisi lain memulai pendidikan dengan gelar sarjana psikologi. Selulus sarjana psikologi, mereka ambil spesifikasi S2 Klinis, sehingga mereka dapat mendiagnosis “apa yang salah” dalam diri kita, tetapi mereka tidak bisa dan tidak diperbolehkan meresepkan obat karena bukan dokter.

    Apabila kamu merasa membutuhkan bantuan, carilah dahulu Psikolog Klinis. Kalau dirasa perlu, Beliau akan me-refer kamu ke Psikiater untuk di takar dan di resepkan obat antipsikosis sesuai dengan diagnosis kamu. Jangan pernah melakukan self diagnose.

    Pertemuan pertama dengan seorang Psikolog bisa menakutkan, bahkan menimbulkan anxiety attack. Ketika saya menutup telepon setelah saya akhirnya menjadwalkan pertemuan perdana di RSJ Dharmawangsa, saya menangis. Saya menangis karena akhirnya saya memberanikan diri untuk mencari pertolongan, terlepas dari stigma “RSJ”, “orang gila”, “orang egois” dan “orang toxic” yang selama ini saya pikul dan takutkan. Jangan berharap banyak akan langsung “sembuh” dengan satu kali konseling. Bagi beberapa orang, tergantung situasi dan kondisi yang bersangkutan, dibutuhkan terapi bertahun-tahun – beberapa kondisi bahkan membutuhkan pengobatan seumur hidup.

    Menemukan Psikolog yang cocok pun sama susahnya dengan cari jodoh πŸ˜€

    They might be a Clinical Psychologists, but they are human too, and human can be judging.

    Tidak perlu takut untuk trial and error, it is okay to do Psychologist shopping, dalam artian kalau kamu merasa tidak cocok atau tidak terbantu dengan Psikolog tertentu, selalu cari second opinion. Namun ketika kamu memutuskan untuk “menjadi orang kebanyakan” dan Psikologmu pun satu visi misi denganmu, stick with the therapy.

    I wish you all a healthy day.

  • Mental Health

    Bahagia Itu Sesederhana Tidak Peduli.

    Kalau kamu tidak paham dan takut akan orang dengan mental illness, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus paham dan tidak harus tidak takut.

     

    Kalau kamu tidak paham bagaimana orang bisa melukai dirinya sendiri dan kamu beranggapan orang itu hanya cari perhatian, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus melukai dirimu sendiri agar dapat merasakan sesuatu.

     

    Kalau kamu tidak mengerti kenapa seseorang tidak makan dan memilih untuk kelaparan, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus merasa lapar, dan sehat.

     

    Kalau kamu tidak mengerti kenapa orang mengurung diri, tidak bisa berkata-kata, atau mencari pertolongan, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kuharap kamu selalu punya seseorang, atau tempat untuk kamu berpaling dan bersandar saat kamu kesulitan dan membutuhkan.

     

    Kalau kamu tidak mengerti mengapa seseorang membutuhkan obat-obatan tertentu supaya mereka bisa berfungsi normal, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu “normal”, dan tidak membutuhkan obat untuk merasa “normal”.

     

    Kalau kamu tidak mengerti bagaimana seseorang bisa berpikir untuk menggantung lehernya, atau melompat dari gedung tinggi, atau memutuskan untuk menelan obat hingga over dosis, bersyukurlah.

    Bersyukurlah karena kamu tidak harus mengerti dan tidak mau mengerti.

     

    Kalau kamu tidak mengerti, tidak paham, itu bagus, karena kamu tidak diwajibkan untuk itu.

     

    Terimakasih untuk ketidakpedulian mu, itu sangat sehat untukmu.

    Terimakasih untuk ketidakpedulian mu, itu sangat bahagia untuk hidupmu.