Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Thoughts

No, I am Not Okay.

Saya baru saja selesai bertemu dengan RD, psikolog saya di Sanatorium Dharmawangsa. Saat menulis ini saya duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak beberapa meter dari Sanatorium. Namanya Escape Coffee. Tempatnya cukup nyaman, sejuk, tapi baristanya berisik dan minuman-minumannya (saya vow untuk mencicipi setiap menu minumannya, hehehe) sejauh ini belum ada yang cocok di lidah. Okay, mungkin cuban rum choco nya juara, tapi belum sampe bikin ketagihan ­čśŤ

Selama saya duduk sendirian menghadapi laptop dan earphone yang sebenarnya tidak memutar lagu apa-apa (only to send the message: “Leave me be!”), saya kebetulan mendengar dua percakapan dari dua orang berbeda yang duduk dekat meja saya.

Percakapan pertama, si nona meja sebelah memanggil barista dan minta segelas air lagi.

Nona: Mas! Mas, sini. *masnya dateng* Bisa tolong isi air lagi gak?

Barista: Baik, bu, sebentar ya. *gak lama balik dengan segelas air* Ini ya bu.

Nona: Ya.

Percakapan kedua, tante di seberang meja saya, mencicipi minuman yang baru diantar barista, lalu segera bangkit dari sofa dan menghampiri mas Barista ke counter.

Tante: Mas, ini kemanisan, tolong dibuatkan lagi ya!

Barista: Oh… iya, bu. *pasrah*

Mendengar dan menyaksikan dua percakapan diatas, saya otomatis berpikir:

  1. Wah gila sih kagak ada makasih-makasihnya,
  2. Demanding amat bok.

Kemudian saya berpikir…… sebagai person, apakah saya mungkin juga seperti dua poin saya diatas? Bahwa saya tidak tau terimakasih, dan seorang yang demanding? Saya sempat terdiam sejenak (walau memang diam aja sih, karena sendirian gak ada temen ngobrol hehehe), dan merefleksikan ke hidup saya beberapa waktu belakangan. Kebetulan kemarin saya sempat dihantui intrusive thoughts tentang seseorang. Sebut saja sahabat ini (atau lebih tepatnya, mantan sahabat) bernama A.

Dahulu semasa kami masih berteman sangat erat, saya type yang akan melakukan segala hal dalam kemampuan saya, semaksimal mungkin, untuk sahabat-sahabat circle one saya–termasuk si A ini. Ada suatu momen dimana saya khawatir akan diri A, walau tampaknya A sendiri tidak masalah dengan kondisinya, dan saya berusaha me-level-up-kan A.Saya berusaha memperbaiki penampilan A dan membantunya menemukan seorang pendamping. Saya bahkan marah bila ada orang yang menyinggung single life A, saya tidak suka A di sindir. Yes, I am that protective, and maybe I was wrong.┬áMungkin saya keterlaluan? Apakah saya menyinggung A? Saya tidak tau, karena kami tidak lagi bicara, dan saya shut people out ketika saya berada di jurang terdalam depresi. She did not bother to reach out to me when I am in my deepest shit, to ask whether I am okay or not, am I still alive and well, until this day, and I guess that was it.

Intrusive thoughts yang menghantui saya beberapa hari ini adalah perasaan kosong karena saya merasa di buang. Akhirnya A menemukan pendamping, dan ketika saya shut people out, ia tidak bother untuk reach out menanyakan keadaan saya langsung. I feel betrayed.

She (finally) found a guy, and she “dumped” me. Saya merasa seperti sampah. Benar-benar seperti sampah, yang dibuang dan tidak dipedulikan ketika orang sudah mendapatkan yang lain dan lebih baik. Apakah saya sejelek itu? Apakah saya sehina itu?

Apakah saya seperti dua perempuan yang saya saksikan di coffee shop ini?

Apakah saya orang yang demanding?

Saya banyak mengkritik diri saya sendiri, dan RD berulang kali mengingatkan untuk me-manage anger yang saya rasakan melalui terapi-terapinya.

Terkadang sebagai manusia yang kita butuhkan hanya tangan yang terulur dan kata-kata menyejukkan seperti, “Hey, are you okay?” Sebab hanya orang tertentu dengan┬á kemampuan extra ordinary untuk dapat melakukan hal sesimpel menanyakan keadaan orang lain. Then i realised, my circle one whom I have known for 15 years as we grew up together, did not bother to ask this. One of them even being judgemental, and the other said I am a toxic person.

Apakah saya benar demikian?

Apakah saya memang layak dibuang?

Apakah semua yang saya lakukan untuk “kami” tidak se-berharga itu?

Ketika saya masuk ke ruangannya dan RD (selalu!) bertanya: How are you feeling?, sesungguhnya ada beberapa momen ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis atau menghantam meja atau menarik rambut saya–yang tidak saya lakukan karena decent people don’t do such thing (walau kalaupun saya kelepasan, saya yakin beliau maklum). Sebuah kalimat simple, tapi tidak semua orang (selain psikolog dan psikiater, tampaknya) bisa mengucapkannya dan really meant it.

Saya belajar untuk mengingat kalimat tersebut, dan ketika mengucapkannya, saya harap saya bisa membantu orang lain. Saya tidak perlu doa dan wish omong kosong yang orang ucapkan ketika Natal/Tahun Baru, kata-kata kosong seperti “semoga blablabla” what the fuck, kalau orang yang mengetiknya tidak tulus? Bahkan tidak ada dan tidak peduli ketika orang yang ia klaim “doakan dan wish-kan” sebenarnya ingin mati? Dan bila benar orang itu mati, bukankah si “pemberi wish dan doa” (yang justru kehadirannya hanya omong kosong belaka) justru menanggung dosa akan nyawa yang melayang tersebut?

Banyak orang mengklaim ini itu, tapi  ketika waktunya pembuktian, semuanya berlomba-lomba melarikan diri dengan berbagai alasan. Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya harap saya diberikan courage untuk berada bersama orang yang mempercayakan saya their darkest moments. Saya harap saya bisa membantu mereka semaksimal mungkin.

Saya membawa banyak luka dan kekecewaan di tahun baru ini. Saya berusaha menjadi normal.

Kalau ada dari kalian, my circle one, yang membaca ini, I am sorry, I truly am, for what I have done. Thank your for not reaching out to me in my darkest shit, thank you for running away when I need you the most. Thank you for saying that I should said please and beg. Thank you for reminding me that I am a toxic person. Thank you for the lesson, thank you for fifteen years we have been through.

I understand if you were all not comfortable with me being sick, and I cannot force you to understand either, because you girls are not willing to understand.

Thank you for breaking my heart, and leaving me when I need you girls the most. My only support system.

I am sorry I left without explanation, I wish I had, but I could not because, hey, I am toxic and crazy, right. I tried to opened up and reveal my vulnerable side, but I only got judgement. I am afraid and I am full of anger. I knew I am sick, and I am sorry. I wish I was a good friend, and once I believed I had one.

I let go.

I wish you all a good and healthy day.