Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Thoughts

    Black and White.

    “What now, what do you want?” ia bertanya.

    Do you even ready to hear the answer, to listen and understand my answer?

    I want to be loved, to be fight for; love me unconditionally, as I would do for you. I am fiercely loyal to those who are to me.

    Love me.

    Fight for me.

    Be there for me.

    As I would, for you, without a question.

    “Am I wrong? Did I scare people?” saya bertanya pada RD.

    Eyes with pity, met with eyes of rage and doubt.

    I just wanted to know what is happening to me.

  • Mental Health

    Darkness, My Old Friend.

    I can feel it coming, sometimes like a whirlwind; strong and fierce, swiping everything I hold dear.

    Sometimes, building slowly inside; brick, by brick, by brick. Like right now.

    Brick, by brick.

    My body would tensed; physically they could feel it coming. My heart, beating fast. My lungs, demanding more air. My head, light and dizzy… My legs, shaking. And sometimes my hands, cold and clutches each other. Throat gone dry like withered apple. They, too, could feel it coming.

    Brick, by brick. Today is not the whirlwind.

    Brick, by brick.

    I used to embraced it. I am afraid of it now. It cost me everything. It drifting me away, yet it protected me all these years.

    All these fucking years.

    Brick, by brick.

     He told me to give it a rest. Should I? Would I want that?

    Who am I then, if it was put to rest?

    My lurking shadow, my protector, my defender, half of me…

    It is approaching now.

    Slowly. Creeping, whispering.

    Brick, by brick.

    Swallowing.

  • Travel

    SUMO Sushi Bar, Yogyakarta.

    Saya beberapa kali melihat media sosial SUMO Sushi Bar ini seliweran di feed instagram saya. Sebagai penggemar sushi, otomatis saya tertarik banget dan mencatat dalam hati kalo ke Yogyakarta saya harus coba Sumo sushi bar ini. Apalagi saat pembukaan Sumo Sushi ini heboh banget bok, sampe antriannya mengular berkilo-kilo meter *antara lebay dan tidak* πŸ˜€ No wonder ya kalo heboh, karena harganya pukul rata semua Rp.15.000,-! Murah banget kan :”)

    Sayangnya, ketika saya akhirnya berkesempatan mencicipi Sumo Sushi Bar saat ke Yogyakarta tahun lalu, saya kecewa banget sama sushinya. Memang, ada harga ada kualitas. Waktu itu saya pesan cukup satu piring sushi, sudah langsung enek saking nggak enaknya! Bah! Saya tanya, ada chawan mushi tidak? Pelayannya malah balik nanya, “Apaan tu ya chawan mushi?” pake bahasa jawa tentunya. Mereka gak sedia chawan mushi, dan akhirnya saat itu baby M saya pesankan rice bowl teriyaki atau semacamnya (lupa persisnya). Ini juga rasanya amburadul. Ketika itu saya kecewa berat dan pergi dengan hati dongkol.

    Oke, sekarang fast forward ke masa sekarang! πŸ˜€

    Ketika jalan-jalan ke Lippo Mall Yogya, saya iseng pengen kasih Sumo kesempatan kedua! Baby M dan papanya pergi main di lantai atas, sementara saya balik ke lantai dasar untuk kembali mencicipi sushi-sushi murah di Sumo.

    Disini ocha/teh jepangnya gratis, gelasnya sudah tersedia di meja. Oleh pelayan saya diberikan satu pucuk kantong teh. Hmmm… okay, saya pun celupin tu kantong “ocha” ke gelas dan mencet tombol dispenser. Nah disini mirip sama Genki Sushi ya, jadi ada dispenser air yang ter-attached di setiap meja. Saya sempat curiga tuh, kok gak ada uap yah layaknya air panas pada umumnya?

    Karena penasaran saya celupin ujung jari ke dalam gelas, dan ternyata… AIRNYA AIR DINGIN DONG :’) Luar biasa bah jadi gimana dong caranya tamu nyeduh tu ocha gratis, wahai Sumo sushi bar?? :’) Yasudahlah, mungkin belum jodoh sama ocha di sini, jadi minum air putih dingin saja hehehe.

    Saya sempet minta brosur menu, dimana tiap restoran sushi setau saya biasanya ada. Either untuk take away atau sekedar liat-liat menu yang di ambil dari sushi bar. Sayangnya, dijawab pelayan mereka gak punya menu atau brosur tentang sushinya. Hmm…. oke deh kalo gitu.

    Agak lama mengamat-amati piring sushi yang lenggak lenggok di belt, saya akirnya memberanikan diri untuk mengambil sushi pertama. Moment of truth…

    Sushi pertama yang saya jajal isinya salmon mentah dan slice mentimun. Di atas meja ada dua jenis kecap, saya tuang masing-masing ke mangkuk berbeda. Mungkin maksudnya ini kecap beda rasa (manis dan asin?) tapi di lidah saya, keduanya nyaris sama persis. Teksturnya pun sama-sama encer, berbeda dengan di Sushi Tei yang sama-sama kasih pilihan soy sauce tapi keduanya juga beda baik di rasa dan tekstur.

    Oke, lanjut… saya colek sushi tersebut ke soy sauce dan cabe tabur, lalu masukin ke mulut… Hmmm… ternyata rasanya sudah jauh acceptable daripada tahun lalu :’) daku terharu…

    kantong teh ocha dari Sumo, tapi air yang keluar dari dispenser ini air dingin… Jadi gimana dong nyeduh ocha nya? :’)

    Jujur saja, kalo makan sushi mentah di tempat sushi yang agak shady atau harga sushinya “bersahabat”, saya biasanya either kecewa atau pilih gak makan yang mentah sama sekali. Simply karena biasanya si sushi mentah sudah tidak fresh (ini bahaya banget karena bisa bikin keracunan makanan atau allergic reaction yang berakibat fatal).

    Entah apa yang bikin saya memutuskan untuk ambil sushi mentah dari Sumo sushi bar… penasaran, kayaknya πŸ˜€ Sekaligus juga setelah saya amat-amati, wujudnya terlihat masih wajar dan fresh. Saya akui rasanya memang tidak se-segar tempat sushi lain dengan harga lebih premium, tapi rasanya juga surprisingly tidak begitu buruk. Apakah Sumo sushi bar sudah belajar dari kesalahan yang lalu, alias tidak memperdulikan taste ? Entahlah, namun ternyata kesempatan kedua yang saya berikan untuk Sumo berakhir manis πŸ˜›

    Pilihan sushinya sendiri tidak banyak, dan beberapa saya lihat penampilannya “seadanya” alias tidak menggugah selera. Saya sendiri hanya mencicipi empat jenis sushi saja, karena sudah bingung mau mencicipi yang mana lagi. Ada beberapa suguhan gorengan (katsu) tapi terlihat tidak fresh or edible enough to me, karena kalau gorengan / deep fried sudah muter-muter lama di sushi belt biasanya sudah “masuk angin”.

    Kalau ke depannya Sumo sushi bar bisa memberikan taste sushi yang baik dan layak (tidak ngasal), saya pikir ia bisa menjadi saingan tempat makan sushi di Yogyakarta. Beberapa kali saya mengunjungi kota kecil ini, dan saya belum menemukan tempat makan sushi yang cukup fresh dan edible enough. Okay, memang ada cabang Sushi Tei di kota ini. Namun saya pernah keracunan makan salmon mentah mereka yang sudah muter-muter lama di belt, dan menurut saya Sushi Tei cabang Yogyakarta ini salah satu cabang mereka yang terburuk (selain yang di Central Park, Jakarta, tentunya), baik dari segi rasa dan pelayanan.

    Makanya saya berani bilang, kalo saja Sumo sushi bisa lebih memperhatikan taste sushinya dan menu lain yang ia suguhkan, bisa saja jadi kuda hitam dalam permainan per-sushi-an di Yogya πŸ˜€ karena soal harga, sudah jelas Sumo ini gak ada lawannya. Kapan lagi bisa makan sushi dengan harga Rp.15.000,- sepiring?? Bahkan kemarin saat membayar pakai Go-pay, saya dapet diskon jadi per piring hanya di kenai Rp.13.000,- saja… gila kan?

    Oh ya… Sumo, saya beneran loh gak abis pikir itu nyeduh ocha nya gimana yak kalo yang keluar air dingin dari dispenser? Saya gagal paham untuk urusan ini :’)

    SUMO Sushi Bar (Lippo Mall Yogyakarta dan Hartono Mall)

    PROS

    + harga sushinya murah banget,

    + porsi okelah,

    + soal rasa……hmm okelah, sudah bisa diterima (better dari tahun lalu),

    CONS

    soy sauce nya butuh perbaikan,

    – beberapa sushi dan rice bowl nya kelihatan kurang edible,

    – pilihan menunya masih sedikit,

    – pelayan agak kurang wawasan soal makanan Jepang,

    – NGAPAIN KASIH TEH GRATIS KALO GAK ADA AIR UNTUK NYEDUH! (masih gak abis pikir sayaaa) πŸ˜€

     

    Have a good and healthy day!

  • Travel

    Iconic Kafe, Yogyakarta.

    Sore ini saya penasaran ingin mengunjungi salah satu kafe yang sering di datangi salah satu keponakan saya di Yogyakarta. Kafe yang terletak di Jalan Magelang KM 5,8 ini sebenernya sudah berada di luar kota Yogya sendiri, alias sudah masuk kabupaten. Posisinya persis depan belakang sama Jogja City Mall πŸ˜€

    Kalau dari namanya sendiri gak terlalu menggugah ya, karena simpel sekali. Nama Kafe yang bikin saya penasaran ini ICONIC.

    Lantas apa sih yang bikin saya penasaran tiap kali keponakan saya dan mamanya posting lagi main di sini?

    Kafe Iconic ini beda dari yang pernah saya datangi; emang gak banyak sih karena bukan tukang kongkow juga hehehe… Tapi, begitu menginjakkan kaki di Iconic, aduh saya bener-bener jatuh hati. Kafe ini sangat memperhatikan estetika arsitektur, interior dan terutama… BANYAK BANGET KOLEKSI ACTION FIGURE NYA! Gak heran kalo mereka mengklaim sebagai toys gallery!

    Saya jamin bagi pecinta action figure atau penggemar DC atau Marvel, bakal tergila-gila berada di kafe Iconic ini! Salah satu pemilik Kafe ini pasti seorang kolektor sejati. Saya belum pernah melihat koleksi yang begitu detail dan mendalam. Selain tokoh-tokoh DC, Marvel, juga sangat kentara sang pemilik fans berat Star Wars! Saya juga lihat ada The Lord of The Rings, Harry Potter universe, Terminator dan lain sebagainya. Sayang, sang kolektor tampaknya bukan fans Game of Thrones universe karena saya cuma spotting satu figurine iron throne saja πŸ˜€

    Secara garis besar, interior Iconic ini terbagi tiga: satu foyer untuk smoking area, ruang tengah yang full terisi action figure / figurine yang keren-keren, dan sisi paling depan Kafe tempat showcase gelato dan cakes mereka. Untuk harga makanan dan minumannya sendiri saya bilang sangat wajar untuk ambience dan situasi yang sangat nyaman! Saya salut banget sama seluruh pegawai Iconic yang gila sih ramah banget! Beneran loh, saya takjub, karena kayaknya seumur-umur saya baru kali ini masuk ke restoran/kafe yang 100% orang-orangnya ramah dan senyum serta berasa melayani tamu dari hati. Kudos to you, management Iconic! πŸ˜€

    Berhubung siang tadi saya kepengen banget ayam bakar nya Mbok Sabar, jadinya saya datang ke Iconic dalam keadaan sudah kenyang. Saya tidak sempat mencicipi makanannya, dan hanya memesan minuman namanya MOCKINGJAY. Saya pesan minuman ini karena teringat Katniss Everdeen idola saya dalam serial Hunger Games :p Entah bener atau gak kenapa di namain Mockingjay, yang pasti minuman ini jenis fusion dari jeruk yuzu, teh hitam, madu, dan soda. Rasanya? Hmmm saya sih cocok ya, dan mereka gak pelit kasih madu nya, harganya cukup dengan Rp.33.000,- saja… ah gilak, kayaknya saya bakal masukin Iconic ini sebagai tempat wajib dateng lagi setiap ke Yogyakarta deh…

    kita intip dulu yuk, menunya πŸ˜€ kira-kira cocok tidak?

    Tau ga sih apa yang bikin saya shock?

    Kayaknya si pemilik ini punya spot khusus untuk Star Wars.

    Doi sampe bela-belain bikin replika pesawatnya Darth Vader bok! Sayangnya saya gak terlalu ngikutin Star Wars, cuma tau sepotong-sepotong aja. Nah kita bisa temuin replika pesawat si om Darth ini sebagai jalur penghubung dari main dining room ke ruang makan kedua yang full di isi koleksi figurine. Gilanya lagi, ni owner/collector gak setengah-setengah bikin tu replika. Why? Simply karena lengkap sama pintunya dong! Jadi ni pintu otomatis bakal kebuka ala pesawat gitu! Beneran deh, buat kalian yang fans berat Star Wars bae-bae ke Iconic ini, di jamin sange! πŸ˜€

    ini loh pintu otomatis yang saya maksud, jadi pintunya kebuka otomatis ke ruang makan kedua. Ciamik banget bok di buat kayak pintu pesawat. Salut! Abaikan ada photobomb dari mas di samping, hehehe

    Baby M ga suka sama Master Yoda πŸ™

    Figurine ini bikin saya sedih πŸ™

    Tau ga ini diorama 3D apa? Ini adegan pertempuran di film Iron Man 3!! WAGELASEHHHHHH πŸ˜€

    Sebenernya saya pengen banget fotoin satu-satu figurine di toys gallery Iconic… tapi oh tapiii… selain waktu dan tentunya kuota dalam meng-upload gambar serta semya foto di journal saya ini cuma di ambil pake Iphone, jadi monmaap sangat seadanya πŸ˜€ Buat yang udah sange pengen liat Iconic buruan dateng ke Yogyakarta, pake Waze/Google Maps masukin “ICONIC” pasti ketemu, atau pakeΒ  JOGJA CITY MALL πŸ˜€

    Baby M masih terlalu kecil untuk ngerti kenapa mamanya heboh banget masuk ke sini, hahaha… Bahkan bapaknya baby M yang nggak se-nerd istrinya aja sampe keliatan cukup amazed pas masuk ke area makan di toys gallery. Someday, my son, Mommy will teach you all about muggles, the one ring to rule them all, and why winter is coming :p

    Diorama Bat Cave!

    and when you tried to lure your son to the dark force :p

    ICONIC CAFE, Yogyakarta.

    Jalan Magelang KM 5,8 persis depannya Jogja City Mall.

    PROS

    + tempatnya bersih, cahaya bagus, instagramable,

    + harganya menurut saya masih wajar dan porsinya juga wajar,

    + gila pelayannya semuanya ramah banget!,

    + ada baby chair lengkap dengan seat belt,

    + dari ujung ke ujung semua figurine bersih gak ada debu, raknya juga sama,

    + rasa minumannya sih enak (next balik pengen coba gelato sama makanannya),

    + koleksi mainannya gak main-main!

    + liat dari media sosialnya sih mereka kreatif bangetttt gilaakk…

    CONS

    Saat ini belum ada, tapi rencana dalam waktu dekat mau liburan lagi ke Yogya. Nah mau balik lagi ke Iconic… apakah saat itu Iconic tetap mempertahankan kemumpunian nya, ataukah menurun? We shall see… πŸ˜›

    I wish you all a good and healthy day!

  • Thoughts

    No, I am Not Okay.

    Saya baru saja selesai bertemu dengan RD, psikolog saya di Sanatorium Dharmawangsa. Saat menulis ini saya duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak beberapa meter dari Sanatorium. Namanya Escape Coffee. Tempatnya cukup nyaman, sejuk, tapi baristanya berisik dan minuman-minumannya (saya vow untuk mencicipi setiap menu minumannya, hehehe) sejauh ini belum ada yang cocok di lidah. Okay, mungkin cuban rum choco nya juara, tapi belum sampe bikin ketagihan πŸ˜›

    Selama saya duduk sendirian menghadapi laptop dan earphone yang sebenarnya tidak memutar lagu apa-apa (only to send the message: “Leave me be!”), saya kebetulan mendengar dua percakapan dari dua orang berbeda yang duduk dekat meja saya.

    Percakapan pertama, si nona meja sebelah memanggil barista dan minta segelas air lagi.

    Nona: Mas! Mas, sini. *masnya dateng* Bisa tolong isi air lagi gak?

    Barista: Baik, bu, sebentar ya. *gak lama balik dengan segelas air* Ini ya bu.

    Nona: Ya.

    Percakapan kedua, tante di seberang meja saya, mencicipi minuman yang baru diantar barista, lalu segera bangkit dari sofa dan menghampiri mas Barista ke counter.

    Tante: Mas, ini kemanisan, tolong dibuatkan lagi ya!

    Barista: Oh… iya, bu. *pasrah*

    Mendengar dan menyaksikan dua percakapan diatas, saya otomatis berpikir:

    1. Wah gila sih kagak ada makasih-makasihnya,
    2. Demanding amat bok.

    Kemudian saya berpikir…… sebagai person, apakah saya mungkin juga seperti dua poin saya diatas? Bahwa saya tidak tau terimakasih, dan seorang yang demanding? Saya sempat terdiam sejenak (walau memang diam aja sih, karena sendirian gak ada temen ngobrol hehehe), dan merefleksikan ke hidup saya beberapa waktu belakangan. Kebetulan kemarin saya sempat dihantui intrusive thoughts tentang seseorang. Sebut saja sahabat ini (atau lebih tepatnya, mantan sahabat) bernama A.

    Dahulu semasa kami masih berteman sangat erat, saya type yang akan melakukan segala hal dalam kemampuan saya, semaksimal mungkin, untuk sahabat-sahabat circle one saya–termasuk si A ini. Ada suatu momen dimana saya khawatir akan diri A, walau tampaknya A sendiri tidak masalah dengan kondisinya, dan saya berusaha me-level-up-kan A.Saya berusaha memperbaiki penampilan A dan membantunya menemukan seorang pendamping. Saya bahkan marah bila ada orang yang menyinggung single life A, saya tidak suka A di sindir. Yes, I am that protective, and maybe I was wrong.Β Mungkin saya keterlaluan? Apakah saya menyinggung A? Saya tidak tau, karena kami tidak lagi bicara, dan saya shut people out ketika saya berada di jurang terdalam depresi. She did not bother to reach out to me when I am in my deepest shit, to ask whether I am okay or not, am I still alive and well, until this day, and I guess that was it.

    Intrusive thoughts yang menghantui saya beberapa hari ini adalah perasaan kosong karena saya merasa di buang. Akhirnya A menemukan pendamping, dan ketika saya shut people out, ia tidak bother untuk reach out menanyakan keadaan saya langsung. I feel betrayed.

    She (finally) found a guy, and she “dumped” me. Saya merasa seperti sampah. Benar-benar seperti sampah, yang dibuang dan tidak dipedulikan ketika orang sudah mendapatkan yang lain dan lebih baik. Apakah saya sejelek itu? Apakah saya sehina itu?

    Apakah saya seperti dua perempuan yang saya saksikan di coffee shop ini?

    Apakah saya orang yang demanding?

    Saya banyak mengkritik diri saya sendiri, dan RD berulang kali mengingatkan untuk me-manage anger yang saya rasakan melalui terapi-terapinya.

    Terkadang sebagai manusia yang kita butuhkan hanya tangan yang terulur dan kata-kata menyejukkan seperti, “Hey, are you okay?” Sebab hanya orang tertentu denganΒ  kemampuan extra ordinary untuk dapat melakukan hal sesimpel menanyakan keadaan orang lain. Then i realised, my circle one whom I have known for 15 years as we grew up together, did not bother to ask this. One of them even being judgemental, and the other said I am a toxic person.

    Apakah saya benar demikian?

    Apakah saya memang layak dibuang?

    Apakah semua yang saya lakukan untuk “kami” tidak se-berharga itu?

    Ketika saya masuk ke ruangannya dan RD (selalu!) bertanya: How are you feeling?, sesungguhnya ada beberapa momen ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis atau menghantam meja atau menarik rambut saya–yang tidak saya lakukan karena decent people don’t do such thing (walau kalaupun saya kelepasan, saya yakin beliau maklum). Sebuah kalimat simple, tapi tidak semua orang (selain psikolog dan psikiater, tampaknya) bisa mengucapkannya dan really meant it.

    Saya belajar untuk mengingat kalimat tersebut, dan ketika mengucapkannya, saya harap saya bisa membantu orang lain. Saya tidak perlu doa dan wish omong kosong yang orang ucapkan ketika Natal/Tahun Baru, kata-kata kosong seperti “semoga blablabla” what the fuck, kalau orang yang mengetiknya tidak tulus? Bahkan tidak ada dan tidak peduli ketika orang yang ia klaim “doakan dan wish-kan” sebenarnya ingin mati? Dan bila benar orang itu mati, bukankah si “pemberi wish dan doa” (yang justru kehadirannya hanya omong kosong belaka) justru menanggung dosa akan nyawa yang melayang tersebut?

    Banyak orang mengklaim ini itu, tapiΒ  ketika waktunya pembuktian, semuanya berlomba-lomba melarikan diri dengan berbagai alasan. Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya harap saya diberikan courage untuk berada bersama orang yang mempercayakan saya their darkest moments. Saya harap saya bisa membantu mereka semaksimal mungkin.

    Saya membawa banyak luka dan kekecewaan di tahun baru ini. Saya berusaha menjadi normal.

    Kalau ada dari kalian,Β my circle one, yang membaca ini, I am sorry, I truly am, for what I have done. Thank your for not reaching out to me in my darkest shit, thank you for running away when I need you the most. Thank you for saying that I should said please and beg. Thank you for reminding me that I am a toxic person. Thank you for the lesson, thank you for fifteen years we have been through.

    I understand if you were all not comfortable with me being sick, and I cannot force you to understand either, because you girls are not willing to understand.

    Thank you for breaking my heart, and leaving me when I need you girls the most. My only support system.

    I am sorry I left without explanation, I wish I had, but I could not because, hey, I am toxic and crazy, right. I tried to opened up and reveal my vulnerable side, but I only got judgement. I am afraid and I am full of anger. I knew I am sick, and I am sorry. I wish I was a good friend, and once I believed I had one.

    I let go.

    I wish you all a good and healthy day.

  • Travel

    Chin-Ma-Ya Ramen, Serpong.

     

    Saya tidak sengaja menemukan restoran ramen ini ketika pulang dari Q-Big, setelah membawa main baby M dan keponakan saya baby AA. Entah apa yang membuat sahabat saya memutar kemudi ke arah restoran ini, karena lokasinya menurut saya lumayan terpencil πŸ˜€ Rukonya cuma terdiri dari si restoran ramen dan Indomaret saja. Sekelilingnya masih lapangan luas, belum ada bangunan berarti.

    Sebagai penggemar pork, kami excited juga karena Chin-Ma-Ya menggunakan kaldu tonkotsu (pork bone broth). Sahabat saya, C, bahkan berani bilang kuah ramen Chin-Ma-Ya lebih enak dari Ippudo. Walau memang selera setiap orang berbeda, karena setelah bersantap malam dengan sahabat-sahabat saya, saat tahun baru saya mengajak keluarga untuk lunch disini. Nah, adik saya bilang dia sih lebih suka Ippudo πŸ˜€

    Interior dan eksterior Chin-Ma-Ya ini persis banget kayak di Jepang. Sebenarnya saya ingin mencoba bersantap di patio nya, tapi kebetulan rombongan kami agak full dan ada anak kecil, sehingga kami akhirnya duduk di lantai dua. Setiap sudut restoran bener-bener instagramable menurut saya. Para stafnya juga ramah dan mengakomodir tamu. Mereka menyediakan ruangan VIP menggunakan tatami dengan minimal order Rp.500.000,- cuma karena tempat duduknya gak ada senderan, jadinya kami pilih di kursi konvensional saja.

    keliatan nyaman banget kan…

    lantai dua tempat kami bersantap masih dalam suasana Natal. Naik tangganya lumayan juga πŸ˜€

    Harga makanannya tidak terlalu mahal dan ukuran mangkuk ramennya dibedakan per size. Saya selalu memesan ukuran small/regular, tidak pernah yang jumbo, dan rasanya kenyang-kenyang saja. Mereka juga menyediakan alkohol walau kayaknya tidak lengkap. Botol sake sih berjajar, tapi menu sake nya tidak ada di daftar menu. Selain ramen, juga ada hidangan pembuka seperti miso soup, edamame, ubur-ubur, dan salad.Β 

    Saya sempat menanyakan apakah mereka menyediakan chawan mushi yang jadi favorit baby M, namun rupanya spesialisasi mereka memang sebatas ramen saja. Sushi, dan kebanyakan makanan Jepang lainnya tidak ada. Favorit saya di sini adalah shoyu ramen nya, enak banget! πŸ˜€

    restoran ini gak halal ya, sodara-sodara! Tapi enaaaak πŸ™‚

    Ngintip menunya dulu, yuk… walau saya gak sempat untuk fotoin setiap lembarnya huhuhu maaf yaa, tapi pasti banyak kok informasinya di internet πŸ™‚

     

    Menariknya, konon kokinya sih orang Jepang ya, cuma saya lupa nanya langsung ke waiter πŸ™ Mereka juga buka 24 jam lho! Gileee…kalo tinggal sekitaran Serpong,Β  kayaknya malem-malem enak nih mamam ramen panas di sini πŸ˜€ duh sayang kami tidak tinggal dekat area Chin-Ma-Ya, kalo nggak kayaknya bakal kesini terus, hehehe.

    Oya bagi yang menggunakan Waze atau Google Maps, kami sempat nyasar karena tanpa melihat alamat jelas Chin-Ma-Ya langsung masukin keyword. Ujung-ujungnya kami diarahkan ke lokasi lama Chin-Ma-Ya, dan untuk muter balik ke Ruko South Goldfinch itu lumayan jauh bok. Jadi sebelum pede jaya masukin keyword restoran ini ke GPS, di cek dulu ya itu diarahin ke alamat yang mana.

    Kesimpulan saya :

    CHIN-MA-YA Ramen (Non Halal)

    Springs Boulevard, Ruko South Goldfinch blok E1 – 5 Gading Serpong.

    + Harga cukup ramah di kantong,

    + Staff sigap dan ramah,

    + Lokasi bersih,

    + Menyediakan baby chair dengan seatbelt! (penting nih buat ibu-ibu dengan toddler),

    + Porsi makanan wajar (gak terlalu sedikit, juga tidak terlalu banyak),

    + Parkir luas dan ada satpamnya,

    + Dekorasi interior dan eksterior nyaman dan instagramable,

    + AC nya dingin banget, siap-siap pesen ocha hangat dan pake kardigan!

    Kekurangannya cuma satu…. Gak sedia chawan mushi πŸ˜›

     

    I wish you all a good and healthy day, Happy New Year!