Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Thoughts

Hari Terakhir di Tahun 2018.

image source: Pinterest

Akhir tahun selalu bittersweet untuk saya. Di satu sisi saya bersyukur akan menutup tahun di belakang saya, tapi di sisi lain saya takut akan apa yang tahun baru bawa… Happiness? Misery? Fear? Hopes? Another abandonment? Kita tidak bisa menerka masa depan, hanya bisa berharap yang terbaik dan dikuatkan untuk melewati yang terburuk. Saya juga masih menata hati dari sakit dan hinaan yang saya terima beberapa saat lalu, mengenai kondisi saya. Trigger seperti ucapan yang diakhiri dengan “…semoga lebih bahagia blablabla…” membawa pisau tersendiri di hati saya. Kenapa orang suka sekali berbasa-basi remeh temeh yang sebenarnya kosong? Sungguh mudah sekali kita mengumbar doa — karena kita merasa dengan “mendoakan” saja cukup, atau dengan “kata-kata indah”… terkadang yang seseorang butuhkan hanyalah bukti bahwa your words meant something. Not that I say praying (if you do truly pray) is wrong.

Tapi mengapa sebagian besar dari kita hanya pandai menguntai kata, tetapi isinya nihil?

Mengapa mudah sekali bagi seseorang untuk mengatakan hal-hal indah tetapi tidak ada perbuatan untuk membuktikannya?

Hari terakhir di tahun 2018 ini saya lalui tanpa ada yang terasa spesial, cenderung sepi malah. Keluarga saya tipe yang sibuk masing-masing dan bukan tipe keluarga yang hangat atau fungsional. Suami saya berada di kota lain. Saya punya satu hari penuh, sebelum kembang api mulai mewarnai langit nanti malam, untuk melihat ke belakang. Tahun ini tahun yang cukup berat untuk saya; sekaligus juga tahun yang menjadi awakening.

Nothing lasts forever.

Tahun ini saya mengucapkan selamat tinggal pada beberapa hal yang menjadi sumber kekuatan saya dahulu. Tahun ini saya juga menyapa hal-hal baru dan keinginan lama yang ingin saya wujudkan. I learnt a lot this year; some things don’t always turn the way we planned, or the way they should. I learnt that friends of decades can be fake and hurtful and left you at your darkest moment; I learnt that those who can truly accept and love us are not always of our blood, or our “best Friends”. At times it can be shocking how your world fell into pieces but everything and everyone around us carry on with life. It makes you think, whether your presence in this world mattered or not.

But I am proud that I finally seek help for myself, this year.

I am grateful that I also started to write again.

I am happy that my eyes were opened to the harsh truth that people who truly loves you for who you are (not only the “you” when you are healthy) is the one worth sticking your energy with. Value those who asks, “are you okay?” in your darkest moment, and not judging you. Trust me in this.

Some things I might not talk about, because I am too lost in words… and some things I write to make me carry on with life, hopes, anger, and fear.

a kind reminder. thank you for the most valuable lesson about this, 2018!. image source: Pinterest

 

Saya tidak pernah membuat resolusi tahun baru. Mungkin seharusnya saya mulai berpikir resolusi apa untuk tahun 2019… but mostly my mind is blank… Saya hanya bersyukur diberi kesehatan dan berkat agar bisa jadi berkat bagi orang lain selama saya berjuang untuk hidup di dunia fana ini. Tahun 2019 saya berharap saya dapat menjadi sahabat bagi siapapun yang membutuhkan saya, saya harap saya diberikan kesempatan untuk dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan orang lain. Let me help people. Let me also healed from feeling anger and abandonment. I want, and I will be healthier this year. And please let George R.R. Martin published The Winds of Winter… 😀

 

I wish you all a good and healthy new year  🙂