Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Travel

    Yello Hotel Paskal, Bandung.

     

    Saat berlibur ke Bandung, kami mencoba hotel “baru” di wilayah Pasir Kaliki (Paskal) yang lokasinya persis menyatu dengan mall Paskal 23, Bandung 😀 Nama hotel ini “YELLO“. Kami mengambil kamar tanpa breakfast, mengingat posisi hotel yang persis menyatu dengan mall Paskal 23, jadi kami tinggal turun ke lobby cia terus masuk deh ke mall dan pilih sendiri “breakfast” yang ada di dalam mall hehe… (dalam hal ini baby M minta masuk ke Genki Sushi) 😛

     

    dinding intagram-able yang eye catching di lobby Yello Hotel

     

    Untuk mencapai Yello hotel ini perlu naik dua lift, cukup repot apalagi kalau antrian panjang, jadi butuh waktu ekstra untuk mencapai kamar kami yang terletak di lantai 9 😀  Akses Yello hotel ini tinggal masuk melalui lobby Cia di mall Paskal 23, disini kami disambut dengan usher dan petugas keamanan yang sangat ramah. Interior lobby pertama Yello hotel cocok banget buat para instagrammers – sayang saya kurang instagramable jadi langsung deh nyelonong ke lift yang terletak di ujung, untuk mencapai ke lobby utama Yello.

    Lobby “utama” tempat tamu di proses check in nya ada di lantai 4, begitu keluar lift langsung ada common room lengkap dengan kuda-kudaan, X-BOX, iPad, dan perlengkapan game lainnya. Berhubung saya kurang gamers, jadinya kami tidak terlalu menaruh perhatian dengan common room ini (yang tentunya ramai dengan anak- anak dan remaja 😀 )

    Proses check in terbilang cepat walaupun hanya satu reception yang buka (padahal ada dua meja nya), dan kami segera naik lift (lift lagi!) untuk menuju ke kamar. Berbeda dengan hotel kami satunya, kali ini di Yello kami mendapat pemandangan kota Bandung. Walau agak mendung, tapi it was such a nice one mengingat di hotel sebelumnya kami “cuma” dapat pemandangan tembok/jendela kamar lain tiap kali buka korden, hehehe.

     

    pemandangan kota Bandung yang mulai mendung dari kamar kami di lantai 9

     

    Satu hal yang kami notice dari Yello, adalah :  gilak staffnya ramah-ramah banget! Mereka gak akan sungkan untuk menyapa kita walau kita sudah belaga sibuk sendiri. Sambutan “selamat siang bu! Siang, pak!” udah biasa banget tiap kali kami bolak balik keluyuran di sekitar Yello. Untuk tamu dengan intorvert personalities kayaknya bakal jadi anxiety tersendiri, tapi saya selalu make sure untuk menyapa balik para staf ini.  Kelihatan banget staf yang “terpaksa” menyapa tamu karena SOP, dengan yang memang merasa bahwa hospitality merupakan bagian pekerjaan di hotel 🙂

    Saya pribadi sangat menyukai kamar kami di Yello. Sesuai namanya, interior kamar di dominasi putih dan tentunya kuning. Untuk yang suka selfie atau sekedar foto-foto instagram saya jamin betah, karena : LIGHTNING NYA BAGUS BANGET! Posisi kamar kami di tempat tinggi sehingga lightning alami dari jendela juga membantu, plus ada kaca full body untuk selfie OOTD , atau lampu di cermin kamar mandi yang tentunya cantik banget untuk foto-foto narsis :p

     

    isn’t it pretty??

    anti mainstream slippers 🙂
    eye catching things everywhere

     

    Kami tidak bisa berkomentar lebih banyak mengenai breakfast, karena kami memang tidak mengambil paket tersebut. Kalau dilihat sih restorannya kecil banget, entah bagaimana kalau pas high season / high occupancy apakah bisa menampung atau tidak? Saya pernah merasakan hotel-hotel besar bahkan hotel bintang lima yang kewalahan dalam manajemen breakfast ketika tingkat okupansi sedang tinggi-tingginya. Nah ini restorannya beneran mungil banget, lebih mirip coffee shop malah 😀

    Kolam renang Yello pun sangat mungil, ada kolam renang dewasa dan anak-anak. Suami saya sempat berenang pagi, tapi saya dan baby M memilih leha-leha nonton tv cabel dikamar, hehehe. Secara garis besar, hotel ini cukup value of money, apalagi terletak dekat banget sama stasiun Bandung. Saat check out kami memesan Grab dan hanya membayar Rp.10.000,- saja saking dekatnya!

    Interior kamar dan segala pernak pernik di dalamnya pun semua bagus, gres, bersih pula. Kami harap Yello mempertahankan hal-hal yang baik bahkan kalau bisa ditingkatkan di kemudian hari, karena kami pasti kembali ke Yello hotel Paskal kalau berlibur ke Bandung lagi 😀

    ————

    Berdasarkan pengalaman kami di Yello Hotel Paskal, Bandung :

    PROS

    + Kamar di Yello masih bersih dan rapi (ini penting banget buat saya yang bawa anak usia dua tahun!),

    + Perlengkapan kamar lengkap, dalam artian house keeping did their job nicely (tisu toilet dipastikan ada! Simple tapi saya sering kali terganggu dengan house keeping yang malas, kalau tisu toilet sudah mau habis bukannya diganti tapi “dibiarkan” saja sehingga tamu tidak nyaman dan harus menelepon reception untuk diantarkan tisu yang baru),

    +View nya kota Bandung,

    + Staf-stafnya ramah banget dan akomodir tamu,

    + Ada safety box di dalam kamar,

    + VALUE OF MONEY (kami menginap semalam kena harga Rp.320.000,- saja, tapi non breakfast ya),

    + Kaca kamar mandi ada built-in lampu 😀

     

    CONS

    – Kolam renangnya kecil, saat kami datang sudah ramai sehingga tidak nyaman,

    Dining hall nya kecil (mengkhawatirkan kalo nginep pas high season, mending cari makan langsung di mall Paskal),

    – Untuk mencapai kamar capek harus melewati banyak lift :’)

    – Gak cocok untuk staycation karena gak banyak yang bisa di tawarkan oleh hotel sendiri dalam hal entertainment.

    – Di  kamar gak ada kulkas (maklum sih sebenernya karena ini kan budget hotel itungannya. Tapi kalo ada bakal perfect buangettt *makmak style)

     

    Have a good and healthy day, people! 🙂

  • Travel

    Naik Kereta Api ke Bandung.

    Kereta Api Parahyangan jurusan Jakarta Gambir – Bandung.

     

    Beberapa minggu sebelum saya dan suami mengajak baby M jalan-jalan ke Bandung, kami sudah memperlihatkan gambar/foto kereta api ke baby M. Ini sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali akan membawa anak bepergian terutama bila perjalanan lebih dari dua jam (Jakarta – Bandung menaiki kereta api ditempuh selama tiga jam lima belas menit), guna menghindari anak rewel di jalan akibat bosan, takut, dan lain sebagainya. Perlengkapan seperti popok disposable, air minum + sedotan, susu UHT, mainan, jaket, pakaian ganti, juga tak ketinggalan di packing dalam tas.

    Kami juga selalu memilih jam travel dimana dekat jam tidur anak, sehingga tak lama setelah kereta bergerak dari stasiun Gambir, anak sudah terlelap. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak baby M travelling ke China (dua belas jam penerbangan, termasuk transit di Hong Kong) dan ke Bali (dua jam perjalanan). Bahkan saat ke Yogyakarta (satu jam perjalanan) pun tak luput dari pemilihan jam traveling saat waktu tidur, hehehe. Ini karena baby M sangat aktif (ever heard about that “terrible two”?) sehingga demi kenyamanan dan keamanan bersama serta pihak-pihak dalam moda transportasi publik, sebaiknya baby M tak lama setelah duduk di pesawat/kereta langsung bablas tidur hehehe…

    Tiket kereta kami berangkat pukul 10.00 WIB dari stasiun Gambir, Jakarta. Baby M sudah bangun dari jam 07.00 pagi. Wah, sudah pas nih waktunya, pikir saya. Sekitar pk.11.00 WIB pasti anak saya ini sudah siap-siap minta nemplok tidur siang… Tentunya para orang tua yang paling mengenal sifat/karakter serta jam tidur anak ya, sehingga tips saya untuk travelling parents baiknya menyesuaikan dengan jam tidur anak. Kalau saya dan suami lebih nyaman anak tidur di perjalanan 🙂 Selain tidak mengganggu penumpang lain, saat tiba di tujuan pun anak sudah well rested.

     

    senangnya kereta api sekarang jarak dekat maupun jauh sudah ada soket listrik. Nonton HBO GO pun leluasa 🙂

     

    Dahulu jaman saya masih SD, orang tua saya kalau naik kereta api ke Jawa pasti nge-pack banyak sekali makanan: nasi, lauk, serta berbotol-botol minuman. Saya dan adik saya sampai kesal karena harus menggotong ekstra barang 🙂 Alasan mereka kala itu klasik sekali, “Kalau beli makanan di kereta mahal!”

    Lantas, bagaimana sekarang??

    Ohoho, saya senang sekali mengetahui bahwa sekarang haus dan lapar tidak perlu khawatir, apalagi sampai menggotong berkotak-kotak bekal! Restoran Kereta Api (“RESKA”) sekarang sudah bagus banget, dan terutama harganya tidak boleh mencekik leher orang yang lapar dan haus 😀 Harganya sangat bersahabat di kantong! Okelah mungkin ada perbedaan seribu atau lima ribu dengan di Alfamart (tergantung produknya), tapi menurut saya masih sangat masuk akal.

    Bahkan seluruh staf dan pegawai KAI menurut saya sudah banyak perubahan sikap. Semenjak kami turun di stasiun Gambir dan stasiun Bandung, kesemuanya sangat ramah dan membantu. Porter pun tidak memaksa dan tidak tersinggung bila ditolak (monmaap ya pak…) sementara saya ingat dahulu porter akan memaksa bahkan dengan lancang langsung menggotong barang kita bak maling aja… KAI rupanya sudah membenahi diri, dan kami sangat senang sekali menggunakan jasa KAI sekarang. Kiranya dipertahankan dan makin di tingkatkan, karena satu-satunya yang masih membuat saya enek kalau naik kereta adalah : TOILETNYA! :’)

     

    sebelumnya monmaap kuku belum kena menicure 😀 ini coklat panas seharga Rp.10.000,- yang saya beli dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta 🙂
    baby M awalnya takut saat baru masuk ke gerbong, tapi setelah beberapa saat jalan-jalan “mengenal” isi gerbong, mulai tenang dan minta duduk sendiri 😀 Untung saja kursi ini kosong jadi baby M sempat “merasakan” duduk ala-ala 😀

     

    Oya, bagi orang tua dan balita yang travelling menggunakan kereta api, di stasiun Gambir dan stasiun Bandung saya lihat ada area playground juga untuk anak-anak. Sepintas saya juga lihat nursery / ruang menyusui, tapi saya tidak sempat mengintip ke dalam apakah terawat/tidak?

    Kalau untuk area playground di stasiun Gambir, karpetnya kotor dan butuh perhatian khusus, tapi mainannya cukup rapi 😀 Sementara area yang di stasiun Bandung jujur saja saya tidak sempat memperhatikan, karena sudah buru-buru di jemput.

    Sejak saya punya anak, saya sangat merasakan pentingnya nursery (tempat untuk menyusui dan ganti popok anak) dan playground area. Bukan tugas mudah lho, bepergian dengan anak-anak apalagi yang masih kecil. Kalau sudah bosan wah itu bahaya buibuk pakbapak. That’s why saya seringkali browsing dulu hotel mana yang ramah anak? Apakah brand transportasi yang akan kami pilih ramah anak?

    Terlihat simpel, tapi penting banget. Bagaimanapun kalau anak happy orang tuanya pasti juga ikut happy dan perjalanan lancar, serta tidak “mengganggu” pihak-pihak/penumpang lain 😀

    asyik mandangin kereta lalu lalang di stasiun, lalu dadah-dadah sendiri ke kereta lewat 🙂

     

    Terimakasih KAI, sampai jumpa di perjalanan berikutnya 😀

  • Mental Health

    Darkness and The Light.

    image source: Pinterest

     

    Have you ever felt so overwhelm, as if  four walls closing in; or feeling like drowning,  suffocating and your body trembling?

    Have you ever lie on your bed and think, I am not belong here.

    Or you thought to yourself that I cannot take it anymore.

    Have you got so anxious that even the smallest memory or the tiniest hint of a sound scare you as fuck, you almost vomit?

    And then when you look around there is no help.

    All you see are fingers, pointing madly at you.

    YOU, they whispered. YOU.

    Judging with their eyes, with their voices and all of their foul souls.

     

    But YOU MATTERED.

    One or two person does not define your light. They did forged darkness to you, but darkness is needed to make light appreciated.

    And, my darling, YOU ARE THE LIGHT.

    #AnxietyBlob of Pinterest

     

  • Uncategorized

    Hello!

    So.

    I decided to write again.

    A little background, I used to write. Like, a lot, in my younger times. I even had a blog contained my short stories and poem (good times, Friendster, thanks) and another in Blogspot served as an online journal. I ditched writing for quite some time, gave all my time, energy and writing “skills” into my job (I am a licensed Legal Advocate).

    Then one day, 14 November 2018, I woke up and realized I need to write again, for the sake of my sanity. Since I have my son (now 22 months old, that little ass kicker <3) I now rarely represent clients in Courts. I become a stay-at-home-mum, with all its glory and sleep deprivations (husband live in another city, but thats another story).

    Fast forward 24 hours since that “awakening”, I purchased a domain. Which should be named “Binge Theraphy” but yeay me didn’t check the right spelling, and at the end of check-out I cannot used “Binge Theraphy” as it is not the right spelling, and “Binge Therapy” already got an owner. So bye. I looked around my messy desk, and thought, heck, I drink green tea every morning for my skin (it helps, truly), let’s name this online Journal green tea for my soul!

    Then i purchased the domain, with the help of my more tech-savvy brother. So thank you, Brother. This first post is for you! 😉 (well, after i rant about myself tho)

    I knew I won’t be writing about lifestyles unless it include dirty diapers, potty training in near future, or beauty (hormonal acne loves me), no. I write what I love, I share what I need to share. I write for my own mental health since everyone deserve a healthy mind and healthy body. In the end, I hope if you ever find this online journal and (maybe–hopefully)  relate to my bubble, I wish you too a healthy mind and body.

    Thank you, Bro, you helped your technology illiterate sister to set up this online journal.