Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Mental Health

    Suffocate.

    I don’t think I’ve been this low, or this afraid in my life. And I have to bear it, alone. Don’t show it, don’t let people now. Trust no one with your health-issues. Afraid. Very afraid. If I tell, people will judged, and I will be invalidated all over again.

    I am afraid for my sanity, for my well-being; and with it on the stakes are my son, and my personal relationships. I think I am fading away.

    RD dan saya tidak compatible; dalam artian, he thinks I am okay now, or at least feeling better. But I am not. I feel it inside me, I am not okay.

    Dan saya merasa ditinggalkan. Abandoned, like people from my past did.Β 

    Saya merasa bodoh sekali dan seharusnya mungkin saya sudah merasakannya sejak lama. Entahlah. Saya merasa beberapa hari ini saya semakin sakit, namun saya tidak bisa kembali. Intrusive thoughts dan anxiety saya, dicampur dengan abandonment issues berkata, “Hey, bodoh! Dia tidak dapat menolongmu! Dia menyuruhmu pergi! HORSEHIT!”

    My head is my enemy.

    Sejauh ini saya sudah menemui tiga psikolog; RW (didn’t think I have any issues at all), AD (just met for a second opinion once, when I got panic attack. Decent and okay, but not so available to my needs/liking), andΒ RD (thinks I am better and sent me away). Saya akan menemui psikolog ke-empat minggu depan, setelah menunggu dua minggu. Saya punya doubt tersendiri dengan calon psikolog ini, karena ternyata ia punya beberapa mutual friends dengan saya.

    I wanted to scream, please fucking help me, but I can’t. Fucking can’t.

    I am toxic, she said. I am hateful. I am a freak, I am sad and I am full of anger. My fucking life is a fucking joke. I feel so evil, I am broken. But I will do another leap of faith. When I wanna kill myself, I look upon my son. He needs me now. But I am afraid when he is older, and when my intrusive thoughts saying he does not need me anymore.

  • Mental Health

    Alone.

    My health is declining. The past week, I’ve been hearing my thoughts whispering mean things. I have no one. I am so full of anger, resentment, and fear. Even my therapist forsaken me.

  • Mental Health

    Finding Oxytocin.

    RD, my psychologist/therapist, prescribed me chocolates today.

    My polished manner laughed politely and nodded, the demon inside me scoffed.

    I did walk into the supermarket, purchasing chocolates. If I gain weight or pimples started to decorate my face, I blame you, RD.

    I wish he prescribed me wine.

    Goddamn oxytocin.

  • Travel

    Hotel Grand Karlita, Purwokerto.

    kamar kami di lantai 7 (non smoking floor) yang mengarah langsung ke Gunung Slamet dan kota Purwokerto.

    Dalam rangka menghadiri perkawinan sepupu suami yang diadakan di Purwokerto, lebih tepatnya di Ballroom Diamond nya Hotel Grand Karlita, kami sekeluarga pun berangkat ke kota mendoan ini πŸ™‚ Perjalanan dengan mobil dari Yogyakarta ke Purwokerto makan waktu sekitar 3 sampai 4 jam, kami berjalan cukup santai sambil sesekali berhenti menikmati sawah. Sesuatu yang “agak jarang” ditemukan di ibukota πŸ˜€

    Hotel ini terletak di jalan utama kota Purwokerto, kalo gak salah di Jalan S Parman. Bangunannya yang langsing di cat merah dan hitam cukup mencolok dari kejauhan. Posisinya juga enak karena di jalan utama, dan menurut suami saya cukup dekat ke beberapa lokasi yang kami kunjungi di kota ini. Kami memesan kamar dengan double bed dan selalu minta ditempatkan di kamar non smoking. 

    Kesan pertama saat memasuki lobi hotel Grand Karlita adalah Wow luas dan bersih!

    Untuk menuju kamar diperlukan kartu tamu sehingga aksesnya aman dan terjaga, plus CCTV yang kami lihat bertebaran di area hotel. Begitu memasuki kamar kami di lantai 7, kami puas sekali dengan akomodasinya. Bahkan selama tinggal dan menikmati kamar di Grand Karlita selama empat hari tiga malam, saya berani bilang kalo kamar di hotel ini salah satu kamar hotel ternyaman yang pernah saya huni!

    Ada jendela besar (favorit saya) yang mengarah ke gunung Slamet dan kota Purwokerto. Bagusnya lagi, jendela ini dibuat merefleksikan dalam kamar alias cermin yang bisa buat ngaca itu loh… Jadi indah sekali kalo malam, saya buka jendela kamar (tidak perlu takut diintip karena tidak ada bangunan lebih tinggi daripada si Karlita hehehe) dan puas memandang lampu-lampu kota sambil…ngaca! Narsis :p

    berdiri di pagi hari memandang kota Purwokerto
    malam hari

    Salah satu favorit saya juga cermin di kamar mandi yang ada lampu dibelakangnya. Bikin kegiatan memakai skin care dan makeup lebih enak :p Untuk house keeping nya juga kami acungi jempol; kamar kami selalu rapi dan berbagai alat kosmetik saya yang bertebaran di kamar mandi tidak bergeser sesenti pun (kadang saya sengaja taruh banyak benda, ingin tau bagaimana house keeping meng-handle kerapihan dan discreetness). Fasilitas dalam kamar yang kami nikmati adalah meminjam pengering rambut dan alat sterika untuk menyetrika gaun dan jas kami sebelum acara.

    Ini loh, ada cahaya lampu gitu dibelakang cermin nya πŸ˜€
    Grand Ballroom Diamond, tempat resepsi sepupu kami dilangsungkan. Luas dan megah.

    Sayangnya ada satu hal cukup mengganggu yang saya dan suami nilai (dan juga mertua saya), terutama karena kami menginap lebih dari smalam. Yakni: MAKANANNYA GAK ENAK!

    Aduh ini parah sekali, sampai suami saya ingin buru-buru pulang karena tersiksa makan pagi sangat tidak enak. Untunglah ada restoran Cahaya Mas hasil rekomendasi sepupu yang cukup “mengobati” lidah suami sama makanan edible.

    Tidak hanya di segi breakfast saja yang sangat kurang tapi juga saat resepsi, beberapa menu tidak bisa dimakan. Bahkan ada satu menu yang saat dibawa ke meja kami sudah berbau anyir dan saat dicicipi sangat tidak enak seperti hampir basi -__- Tentunya saya tidak tau apakah sepupu kami yang punya hajat kala itu menyampaikan ke pihak manajemen atau tidak, namun kalo saya dan suami (dan mertua) jelas-jelas kapok sama makanannya. Sempat memperhatikan sih koki yang keluar untuk meninjau tiap makan pagi tampaknya masih sangat muda bahkan mungkin anak magang dari sekolah perhotelan? Entahlah. Semoga kelak berkesempatan menginap di Grand Karlita Purwokerto lagi dan makanannya sudah lebih edible πŸ™‚

    wah ada live music ketika makan pagi di hari Minggu πŸ™‚

    Oya kami membayar sekitar Rp.550.000,- per malam untuk kamar superior. Untuk hotel bintang 4 dengan kamar dan pelayanan house keeping seperti Grand Karlita sih sangat oke dan ramah dikantong, walau suami saya sampai detik ini masih “traumatis” dengan kondisi makanannya.

    Saya sendiri sempat turun untuk mencoba bar nya, tapi sayang bar terletak di outdoor yang untuk saya tidak nyaman karena kota Purwokerto lagi panas-panasnya. Saya sempat tanya apakah mereka menyediakan wine by glass di bar, tapi ternyata tidak. Oke, saya tanya apakah ada Corona? Ternyata habis. Err-oke deh, mungkin belum jodoh. Saya akirnya duduk di restorannya (yang mungil sekali!) dan memesan lime & honey (enak, komposisi pas) dan walau pengen ngemil tapi… aduh beneran deh, Karlita, kalau kalian baca ini, plis plis plis perbaikin tingkat kondisi dan rasa makanan kalian :’)

    Saya sampai lupa foto kondisi restoran yang seadanya, tapi kelihatannya cukup banyak bertebaran di internet kok πŸ™‚ Bagi yang suka makan, tampaknya gak bisa berharap banyak deh untuk makan pagi kenyang dan enak di sini, karena memang cuma seadanya. Sedih akutu. Tapi di kota ini ada Go-Food kok :p Walau drivernya lumayan nyebelin, ngorder KFC aja banyak ngoceh lama dan jauh -__- Apa kabar kalo jadi driver Gojek di ibukota ya Pak? πŸ™‚

    Kesimpulan menginap empat hari tiga malam di GRAND KARLITA PURWOKERTO:

    (+) Kamarnya NYAMAN dan BERSIH! One of the most comfortable room I’ve ever slept in!  Bahkan lebih nyaman jauh daripada hotel lain dengan bitang setara/lebih tiinggi. Bravo untuk tim desain dan interior Grand Karlita Purwokerto!

    (+) Kamar mandinya bersih dan stok tisu toilet selalu full mungkin karena tidak ada selang ya di klosetnya :p

    (+) Para pelayannya ramah-ramah dan ngebantu banget (walau memang as expected since they are a four-stars hotel) ,

    (+) Untuk menuju kamar diperlukan kartu akses/kartu kamar, sehingga kami merasa aman dan nyaman terutama untuk keluarga dengan anak-anak,

    (+) Ada Wi-Fi gratis dan kencang! Yeay untuk orang yang dinas atau wisata kemari! Wi-Fi nya baik di kamar dan area kolam renang kenceng! Happy!

    (+) Ada kulkas di dalam kamar! Yeayy!

    (+) Ini penting untuk keluarga dengan anak dibawah lima tahun: KAMARNYA CUKUP SOUND PROOF! Saya paling sebel nginep di hotel bintang empat ke atas tapi dindingnya gak tebel macem hotel esek-esek dimana suara orang jalan di lorong aja kedengeran. Kan anak saya jadi gak bisa istirahat, dan mama papanya juga teler gak bisa quality rest. Untungnya di Grand Karlita kami puas banget deh kalo ngomong soal kamar :p

    Namun………. ;

    ( – ) Makanannya sangat amat butuh perbaikan, segera! GAK ENAK. And I’m not only talking about their breakfast, but also from a wedding held there. I mean they served an indible foods WTF… if not shocking, it also outrageous. Their cooks needs to upgrade ASAP! ,

    ( – ) Kolam renang nya gede banget TAPI tempat duduknya dikit. Dan untuk akhir minggu dimana tingkat okupansi cukup tinggi, kasian beberapa keluarga yang dateng ke kolam sudah tidak kebagian tempat duduk πŸ™

    Gimana, sudah siapkah untuk berlibur di Grand Karlita di Purwokerto? Kalau kelak kami berkesempatan ke kota mendoan ini lagi kami akan menginap disini lagi, dengan harapan…. makanannya tolong diperbaiki… hehehe.

    I wish you all a good and healthy day! πŸ˜€

  • Mental Health

    Pandora Box.

    I met with RD today and I impulsively told him something I shouldn’t.

    I told him I wanted someone dead, and RD suggested we do more clinical tests. Genius me, shit.

    I think I am going to be crazy.

    I feel so awful, I feel so mean.

    RD asked me do I want to know whats inside the Pandora box? He even put the box right before my eyes. The fucking pandora box.

    Yes, I want to.

    “I am afraid.” was my answer.

  • Thoughts

    Big Bad Wolf Jakarta 2019

    Kemarin saya iseng mengunjungi bazaar buku hits Big Bad Wolf (BBW) yang diadakan di Jakarta. Pameran buku ini lebih besar dari yang dulu diadakan Kompas Gramedia di tahun 90-an jaman saya masih kecil πŸ˜€ Berlokasi di ICE BSD, pameran diadakan sampai tanggal 11 Maret 2019 dan berlangsung selama 24 jam. Canggih bener ya?

    Tahun lalu saya juga datang langsung ke pameran BBW ini, selain tandem menggunakan jasa titip juga, karena para jastipers ini hampir gak ada yang bersedia cari selain buku anak. Sementara saya juga kan pengen indulge hobi saya yakni mengumpulkan buku, hehehe.. Nah pengalaman saya nanya-nanya dan gabung ke beberapa jastipers, mereka ini lebih suka belanjain buku anak-anak (yang memang bejibun bangeettt di BBW). Ada sih satu dua biji yang janjiin bakal liatin buku dewasa dan nonfiksi, tapi tetap saja kan gak seafdol kalo kita datang langsung dan ngubek-ngubek πŸ˜‰

    Ada beberapa perbedaan antara BBW 2018 dengan 2019, salah satunya di BBW tahun ini ada playground berbayar dan isi food court nya lebih banyak daripada tahun lalu. Untuk buku-buku yang dijual di BBW sendiri, saya pribadi lebih senang dan lebih belanja banyak di BBW 2018 daripada yang sekarang. Bukannya gak bagus, tapi kebanyakan ngulang dari tahun lalu alias saya sudah liat yang itu-itu saja.

    Sayangnya ada penurunan yang cukup signifikan menurut saya di BBW tahun ini, yakni di segi human resource nya Para mbak dan mas alias kakak-kakak yang bertugas menurut saya kurang gesit dan terutama tidak tahu apa-apa soal buku/literatur. Kayaknya sih, ini hasil outsource alias bukan pegawai langsung dari penyelenggara BBW, hehe tebakan sotoy saya dan seorang teman yang tiap kali nanya atau ngobrol soal buku ke para mas/mbak ini mereka cuma melongo doang terus buru-buru kabur gak mau ngebantuin πŸ™ Bahkan ada yang ngegerombol terus joget-joget deket speaker sponsor… yawla BBW kuharap kalian bisa memperbaiki human resource lebih oke lagi ya tahun depan.

    denah BBW 2019, kelihatan banget mereka sangat fokus di buku anak-anak πŸ˜‰

    Harga makanan dan minuman yang tersedia di food court BBW 2019 sudah kena mark up semua, jadi buat yang mau berhemat bisa bawa cemilan sendiri. Harga sebotol aqua di area pameran dihargai Rp.10.000,- dan saya membeli soto mie seharga Rp.45.000,- yang isinya sudah agak dingin dan hanya tomat. Duh sedihnya. Mana penjualnya gak ramah, macam kecapean bergadang jualan soto 24 jam :p

    Satu hal yang mendingan daripada BBW tahun lalu adalah tahun ini pilihan makannya lebih banyak dan beragam, plus mereka informasikan toilet ada di dalam area pameran dan adanya playground, walau berbayar… hehehe. Harga playground ini menurut saya ajimumpung mahalnya, dan anak usia bawah tiga tahun yang masuk wajib pake pendamping dan si pendamping ini wajib bayar juga loh. Untuk mainannya sendiri saya tidak sempat foto, tapi baby M kurang menikmati playground tersebut πŸ™ Mamak jadi sedih sudah keburu bayar mahal kan, hahahaha.

    area makan dan minum yang lebih besar daripada tahun lalu.

    Saya sengaja datang sore hari di hari kerja, maksud hati supaya tidak perlu berdesakan. Untungnya situasi dan kondisi BBW kala itu cukup kondusif. Beberapa teman saya sudah mengeluh kesal ke BBW karena harus rebutan atau tarik urat dengan pengunjung yang merupakan jastipers. Kayaknya para jastipers ini suka “ngeblok/ngeborong” buku-buku tertentu dan pengunjung lain dilarang ambil barang yang sama *entah apa maksudnya* dan kejadian keluhan seperti ini sering kali saya dengar dari beberapa teman yang memang datang untuk membeli buku anak. Rupanya, problema jastipers vs pengunjung ini belum bisa diselesaikan / ditangani dengan baik oleh penyelenggara BBW 2019 karena masih ada keluhan demikian… entah memang stok buku bagus berkurang, penyelenggara tutup mata, atau memang si jastipers ini perlu dibatasin ambil skian buku tertentu dalam troli (atau saat membayar)… semoga BBW tahun depan lebih baik lagi ya *puk puk*

    Hasil BBW 2019 πŸ™‚

    Kebetulan saya ke sana carinya di bagian sejarah dan non-fiksi, sehingga tidak mengalami harus mangkel-mangkelan rebutan buku anak… walau memang, saya lihat beberapa orang dalam satu troli ada puluhan barang yang sama dan troli tersebut di pegangin terus, macem takut di colong hehehe.

    Saya cukup senang dengan ide pameran buku 24 jam nonstop ini, dan memang benar banyak buku bagus (terutama di kategori yang saya minati yakni non fiksi)… Semoga pihak penyelenggara BBW semakin baik lagi ke depannya dalam mempersiapkan dan mengeksekusi pameran.

    Kesimpulan berkunjung ke BBW 2019 :

    Plusnya

    + AC nya dingin, jadi nyaman,

    + Banyak toilet termasuk di dalam area pameran maupun di lobby,

    + area makan lebih luas dan beragam,

    + Ada playground.

    Minusnya

    -buku tidak sebagus tahun lalu (subyektif ya ini),

    -Harga playground terlalu matok mahal untuk waktu sebentar dan aturan yang ketat (tidak nyaman) dan mainan terbatas,

    -Harga makanan dan minuman di dalam sangat mahal,

    -Para mas/mbak petugas BBW tidak ada skill literatur/tidak paham buku,

    -Para mas/mbak petugas BBW tidak terlalu mau/tidak sabar membantu customer yang mencari buku tertentu (bahkan ditanya dimana area toilet di dalam area pameran saja ada yang tidak tahu).

    BBW 2019 di Jakarta masih berlangsung beberapa hari lagi, silahkan yang mau ke BBW segera menuju ke ICE BSD, 24 jam dan selamat berburu buku! πŸ˜€

  • Thoughts

    Black and White.

    “What now, what do you want?” ia bertanya.

    Do you even ready to hear the answer, to listen and understand my answer?

    I want to be loved, to be fight for; love me unconditionally, as I would do for you. I am fiercely loyal to those who are to me.

    Love me.

    Fight for me.

    Be there for me.

    As I would, for you, without a question.

    “Am I wrong? Did I scare people?” saya bertanya pada RD.

    Eyes with pity, met with eyes of rage and doubt.

    I just wanted to know what is happening to me.

  • Mental Health

    Darkness, My Old Friend.

    I can feel it coming, sometimes like a whirlwind; strong and fierce, swiping everything I hold dear.

    Sometimes, building slowly inside; brick, by brick, by brick. Like right now.

    Brick, by brick.

    My body would tensed; physically they could feel it coming. My heart, beating fast. My lungs, demanding more air. My head, light and dizzy… My legs, shaking. And sometimes my hands, cold and clutches each other. Throat gone dry like withered apple. They, too, could feel it coming.

    Brick, by brick. Today is not the whirlwind.

    Brick, by brick.

    I used to embraced it. I am afraid of it now. It cost me everything. It drifting me away, yet it protected me all these years.

    All these fucking years.

    Brick, by brick.

     He told me to give it a rest. Should I? Would I want that?

    Who am I then, if it was put to rest?

    My lurking shadow, my protector, my defender, half of me…

    It is approaching now.

    Slowly. Creeping, whispering.

    Brick, by brick.

    Swallowing.

  • Travel

    SUMO Sushi Bar, Yogyakarta.

    Saya beberapa kali melihat media sosial SUMO Sushi Bar ini seliweran di feed instagram saya. Sebagai penggemar sushi, otomatis saya tertarik banget dan mencatat dalam hati kalo ke Yogyakarta saya harus coba Sumo sushi bar ini. Apalagi saat pembukaan Sumo Sushi ini heboh banget bok, sampe antriannya mengular berkilo-kilo meter *antara lebay dan tidak* πŸ˜€ No wonder ya kalo heboh, karena harganya pukul rata semua Rp.15.000,-! Murah banget kan :”)

    Sayangnya, ketika saya akhirnya berkesempatan mencicipi Sumo Sushi Bar saat ke Yogyakarta tahun lalu, saya kecewa banget sama sushinya. Memang, ada harga ada kualitas. Waktu itu saya pesan cukup satu piring sushi, sudah langsung enek saking nggak enaknya! Bah! Saya tanya, ada chawan mushi tidak? Pelayannya malah balik nanya, “Apaan tu ya chawan mushi?” pake bahasa jawa tentunya. Mereka gak sedia chawan mushi, dan akhirnya saat itu baby M saya pesankan rice bowl teriyaki atau semacamnya (lupa persisnya). Ini juga rasanya amburadul. Ketika itu saya kecewa berat dan pergi dengan hati dongkol.

    Oke, sekarang fast forward ke masa sekarang! πŸ˜€

    Ketika jalan-jalan ke Lippo Mall Yogya, saya iseng pengen kasih Sumo kesempatan kedua! Baby M dan papanya pergi main di lantai atas, sementara saya balik ke lantai dasar untuk kembali mencicipi sushi-sushi murah di Sumo.

    Disini ocha/teh jepangnya gratis, gelasnya sudah tersedia di meja. Oleh pelayan saya diberikan satu pucuk kantong teh. Hmmm… okay, saya pun celupin tu kantong “ocha” ke gelas dan mencet tombol dispenser. Nah disini mirip sama Genki Sushi ya, jadi ada dispenser air yang ter-attached di setiap meja. Saya sempat curiga tuh, kok gak ada uap yah layaknya air panas pada umumnya?

    Karena penasaran saya celupin ujung jari ke dalam gelas, dan ternyata… AIRNYA AIR DINGIN DONG :’) Luar biasa bah jadi gimana dong caranya tamu nyeduh tu ocha gratis, wahai Sumo sushi bar?? :’) Yasudahlah, mungkin belum jodoh sama ocha di sini, jadi minum air putih dingin saja hehehe.

    Saya sempet minta brosur menu, dimana tiap restoran sushi setau saya biasanya ada. Either untuk take away atau sekedar liat-liat menu yang di ambil dari sushi bar. Sayangnya, dijawab pelayan mereka gak punya menu atau brosur tentang sushinya. Hmm…. oke deh kalo gitu.

    Agak lama mengamat-amati piring sushi yang lenggak lenggok di belt, saya akirnya memberanikan diri untuk mengambil sushi pertama. Moment of truth…

    Sushi pertama yang saya jajal isinya salmon mentah dan slice mentimun. Di atas meja ada dua jenis kecap, saya tuang masing-masing ke mangkuk berbeda. Mungkin maksudnya ini kecap beda rasa (manis dan asin?) tapi di lidah saya, keduanya nyaris sama persis. Teksturnya pun sama-sama encer, berbeda dengan di Sushi Tei yang sama-sama kasih pilihan soy sauce tapi keduanya juga beda baik di rasa dan tekstur.

    Oke, lanjut… saya colek sushi tersebut ke soy sauce dan cabe tabur, lalu masukin ke mulut… Hmmm… ternyata rasanya sudah jauh acceptable daripada tahun lalu :’) daku terharu…

    kantong teh ocha dari Sumo, tapi air yang keluar dari dispenser ini air dingin… Jadi gimana dong nyeduh ocha nya? :’)

    Jujur saja, kalo makan sushi mentah di tempat sushi yang agak shady atau harga sushinya “bersahabat”, saya biasanya either kecewa atau pilih gak makan yang mentah sama sekali. Simply karena biasanya si sushi mentah sudah tidak fresh (ini bahaya banget karena bisa bikin keracunan makanan atau allergic reaction yang berakibat fatal).

    Entah apa yang bikin saya memutuskan untuk ambil sushi mentah dari Sumo sushi bar… penasaran, kayaknya πŸ˜€ Sekaligus juga setelah saya amat-amati, wujudnya terlihat masih wajar dan fresh. Saya akui rasanya memang tidak se-segar tempat sushi lain dengan harga lebih premium, tapi rasanya juga surprisingly tidak begitu buruk. Apakah Sumo sushi bar sudah belajar dari kesalahan yang lalu, alias tidak memperdulikan taste ? Entahlah, namun ternyata kesempatan kedua yang saya berikan untuk Sumo berakhir manis πŸ˜›

    Pilihan sushinya sendiri tidak banyak, dan beberapa saya lihat penampilannya “seadanya” alias tidak menggugah selera. Saya sendiri hanya mencicipi empat jenis sushi saja, karena sudah bingung mau mencicipi yang mana lagi. Ada beberapa suguhan gorengan (katsu) tapi terlihat tidak fresh or edible enough to me, karena kalau gorengan / deep fried sudah muter-muter lama di sushi belt biasanya sudah “masuk angin”.

    Kalau ke depannya Sumo sushi bar bisa memberikan taste sushi yang baik dan layak (tidak ngasal), saya pikir ia bisa menjadi saingan tempat makan sushi di Yogyakarta. Beberapa kali saya mengunjungi kota kecil ini, dan saya belum menemukan tempat makan sushi yang cukup fresh dan edible enough. Okay, memang ada cabang Sushi Tei di kota ini. Namun saya pernah keracunan makan salmon mentah mereka yang sudah muter-muter lama di belt, dan menurut saya Sushi Tei cabang Yogyakarta ini salah satu cabang mereka yang terburuk (selain yang di Central Park, Jakarta, tentunya), baik dari segi rasa dan pelayanan.

    Makanya saya berani bilang, kalo saja Sumo sushi bisa lebih memperhatikan taste sushinya dan menu lain yang ia suguhkan, bisa saja jadi kuda hitam dalam permainan per-sushi-an di Yogya πŸ˜€ karena soal harga, sudah jelas Sumo ini gak ada lawannya. Kapan lagi bisa makan sushi dengan harga Rp.15.000,- sepiring?? Bahkan kemarin saat membayar pakai Go-pay, saya dapet diskon jadi per piring hanya di kenai Rp.13.000,- saja… gila kan?

    Oh ya… Sumo, saya beneran loh gak abis pikir itu nyeduh ocha nya gimana yak kalo yang keluar air dingin dari dispenser? Saya gagal paham untuk urusan ini :’)

    SUMO Sushi Bar (Lippo Mall Yogyakarta dan Hartono Mall)

    PROS

    + harga sushinya murah banget,

    + porsi okelah,

    + soal rasa……hmm okelah, sudah bisa diterima (better dari tahun lalu),

    CONS

    soy sauce nya butuh perbaikan,

    – beberapa sushi dan rice bowl nya kelihatan kurang edible,

    – pilihan menunya masih sedikit,

    – pelayan agak kurang wawasan soal makanan Jepang,

    – NGAPAIN KASIH TEH GRATIS KALO GAK ADA AIR UNTUK NYEDUH! (masih gak abis pikir sayaaa) πŸ˜€

     

    Have a good and healthy day!