Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
  • Mental Health

    Pandora Box.

    I met with RD today and I impulsively told him something I shouldn’t.

    I told him I wanted someone dead, and RD suggested we do more clinical tests. Genius me, shit.

    I think I am going to be crazy.

    I feel so awful, I feel so mean.

    RD asked me do I want to know whats inside the Pandora box? He even put the box right before my eyes. The fucking pandora box.

    Yes, I want to.

    “I am afraid.” was my answer.

  • Thoughts

    Big Bad Wolf Jakarta 2019

    Kemarin saya iseng mengunjungi bazaar buku hits Big Bad Wolf (BBW) yang diadakan di Jakarta. Pameran buku ini lebih besar dari yang dulu diadakan Kompas Gramedia di tahun 90-an jaman saya masih kecil 😀 Berlokasi di ICE BSD, pameran diadakan sampai tanggal 11 Maret 2019 dan berlangsung selama 24 jam. Canggih bener ya?

    Tahun lalu saya juga datang langsung ke pameran BBW ini, selain tandem menggunakan jasa titip juga, karena para jastipers ini hampir gak ada yang bersedia cari selain buku anak. Sementara saya juga kan pengen indulge hobi saya yakni mengumpulkan buku, hehehe.. Nah pengalaman saya nanya-nanya dan gabung ke beberapa jastipers, mereka ini lebih suka belanjain buku anak-anak (yang memang bejibun bangeettt di BBW). Ada sih satu dua biji yang janjiin bakal liatin buku dewasa dan nonfiksi, tapi tetap saja kan gak seafdol kalo kita datang langsung dan ngubek-ngubek 😉

    Ada beberapa perbedaan antara BBW 2018 dengan 2019, salah satunya di BBW tahun ini ada playground berbayar dan isi food court nya lebih banyak daripada tahun lalu. Untuk buku-buku yang dijual di BBW sendiri, saya pribadi lebih senang dan lebih belanja banyak di BBW 2018 daripada yang sekarang. Bukannya gak bagus, tapi kebanyakan ngulang dari tahun lalu alias saya sudah liat yang itu-itu saja.

    Sayangnya ada penurunan yang cukup signifikan menurut saya di BBW tahun ini, yakni di segi human resource nya Para mbak dan mas alias kakak-kakak yang bertugas menurut saya kurang gesit dan terutama tidak tahu apa-apa soal buku/literatur. Kayaknya sih, ini hasil outsource alias bukan pegawai langsung dari penyelenggara BBW, hehe tebakan sotoy saya dan seorang teman yang tiap kali nanya atau ngobrol soal buku ke para mas/mbak ini mereka cuma melongo doang terus buru-buru kabur gak mau ngebantuin 🙁 Bahkan ada yang ngegerombol terus joget-joget deket speaker sponsor… yawla BBW kuharap kalian bisa memperbaiki human resource lebih oke lagi ya tahun depan.

    denah BBW 2019, kelihatan banget mereka sangat fokus di buku anak-anak 😉

    Harga makanan dan minuman yang tersedia di food court BBW 2019 sudah kena mark up semua, jadi buat yang mau berhemat bisa bawa cemilan sendiri. Harga sebotol aqua di area pameran dihargai Rp.10.000,- dan saya membeli soto mie seharga Rp.45.000,- yang isinya sudah agak dingin dan hanya tomat. Duh sedihnya. Mana penjualnya gak ramah, macam kecapean bergadang jualan soto 24 jam :p

    Satu hal yang mendingan daripada BBW tahun lalu adalah tahun ini pilihan makannya lebih banyak dan beragam, plus mereka informasikan toilet ada di dalam area pameran dan adanya playground, walau berbayar… hehehe. Harga playground ini menurut saya ajimumpung mahalnya, dan anak usia bawah tiga tahun yang masuk wajib pake pendamping dan si pendamping ini wajib bayar juga loh. Untuk mainannya sendiri saya tidak sempat foto, tapi baby M kurang menikmati playground tersebut 🙁 Mamak jadi sedih sudah keburu bayar mahal kan, hahahaha.

    area makan dan minum yang lebih besar daripada tahun lalu.

    Saya sengaja datang sore hari di hari kerja, maksud hati supaya tidak perlu berdesakan. Untungnya situasi dan kondisi BBW kala itu cukup kondusif. Beberapa teman saya sudah mengeluh kesal ke BBW karena harus rebutan atau tarik urat dengan pengunjung yang merupakan jastipers. Kayaknya para jastipers ini suka “ngeblok/ngeborong” buku-buku tertentu dan pengunjung lain dilarang ambil barang yang sama *entah apa maksudnya* dan kejadian keluhan seperti ini sering kali saya dengar dari beberapa teman yang memang datang untuk membeli buku anak. Rupanya, problema jastipers vs pengunjung ini belum bisa diselesaikan / ditangani dengan baik oleh penyelenggara BBW 2019 karena masih ada keluhan demikian… entah memang stok buku bagus berkurang, penyelenggara tutup mata, atau memang si jastipers ini perlu dibatasin ambil skian buku tertentu dalam troli (atau saat membayar)… semoga BBW tahun depan lebih baik lagi ya *puk puk*

    Hasil BBW 2019 🙂

    Kebetulan saya ke sana carinya di bagian sejarah dan non-fiksi, sehingga tidak mengalami harus mangkel-mangkelan rebutan buku anak… walau memang, saya lihat beberapa orang dalam satu troli ada puluhan barang yang sama dan troli tersebut di pegangin terus, macem takut di colong hehehe.

    Saya cukup senang dengan ide pameran buku 24 jam nonstop ini, dan memang benar banyak buku bagus (terutama di kategori yang saya minati yakni non fiksi)… Semoga pihak penyelenggara BBW semakin baik lagi ke depannya dalam mempersiapkan dan mengeksekusi pameran.

    Kesimpulan berkunjung ke BBW 2019 :

    Plusnya

    + AC nya dingin, jadi nyaman,

    + Banyak toilet termasuk di dalam area pameran maupun di lobby,

    + area makan lebih luas dan beragam,

    + Ada playground.

    Minusnya

    -buku tidak sebagus tahun lalu (subyektif ya ini),

    -Harga playground terlalu matok mahal untuk waktu sebentar dan aturan yang ketat (tidak nyaman) dan mainan terbatas,

    -Harga makanan dan minuman di dalam sangat mahal,

    -Para mas/mbak petugas BBW tidak ada skill literatur/tidak paham buku,

    -Para mas/mbak petugas BBW tidak terlalu mau/tidak sabar membantu customer yang mencari buku tertentu (bahkan ditanya dimana area toilet di dalam area pameran saja ada yang tidak tahu).

    BBW 2019 di Jakarta masih berlangsung beberapa hari lagi, silahkan yang mau ke BBW segera menuju ke ICE BSD, 24 jam dan selamat berburu buku! 😀

  • Thoughts

    Black and White.

    “What now, what do you want?” ia bertanya.

    Do you even ready to hear the answer, to listen and understand my answer?

    I want to be loved, to be fight for; love me unconditionally, as I would do for you. I am fiercely loyal to those who are to me.

    Love me.

    Fight for me.

    Be there for me.

    As I would, for you, without a question.

    “Am I wrong? Did I scare people?” saya bertanya pada RD.

    Eyes with pity, met with eyes of rage and doubt.

    I just wanted to know what is happening to me.

  • Mental Health

    Darkness, My Old Friend.

    I can feel it coming, sometimes like a whirlwind; strong and fierce, swiping everything I hold dear.

    Sometimes, building slowly inside; brick, by brick, by brick. Like right now.

    Brick, by brick.

    My body would tensed; physically they could feel it coming. My heart, beating fast. My lungs, demanding more air. My head, light and dizzy… My legs, shaking. And sometimes my hands, cold and clutches each other. Throat gone dry like withered apple. They, too, could feel it coming.

    Brick, by brick. Today is not the whirlwind.

    Brick, by brick.

    I used to embraced it. I am afraid of it now. It cost me everything. It drifting me away, yet it protected me all these years.

    All these fucking years.

    Brick, by brick.

     He told me to give it a rest. Should I? Would I want that?

    Who am I then, if it was put to rest?

    My lurking shadow, my protector, my defender, half of me…

    It is approaching now.

    Slowly. Creeping, whispering.

    Brick, by brick.

    Swallowing.

  • Travel

    SUMO Sushi Bar, Yogyakarta.

    Saya beberapa kali melihat media sosial SUMO Sushi Bar ini seliweran di feed instagram saya. Sebagai penggemar sushi, otomatis saya tertarik banget dan mencatat dalam hati kalo ke Yogyakarta saya harus coba Sumo sushi bar ini. Apalagi saat pembukaan Sumo Sushi ini heboh banget bok, sampe antriannya mengular berkilo-kilo meter *antara lebay dan tidak* 😀 No wonder ya kalo heboh, karena harganya pukul rata semua Rp.15.000,-! Murah banget kan :”)

    Sayangnya, ketika saya akhirnya berkesempatan mencicipi Sumo Sushi Bar saat ke Yogyakarta tahun lalu, saya kecewa banget sama sushinya. Memang, ada harga ada kualitas. Waktu itu saya pesan cukup satu piring sushi, sudah langsung enek saking nggak enaknya! Bah! Saya tanya, ada chawan mushi tidak? Pelayannya malah balik nanya, “Apaan tu ya chawan mushi?” pake bahasa jawa tentunya. Mereka gak sedia chawan mushi, dan akhirnya saat itu baby M saya pesankan rice bowl teriyaki atau semacamnya (lupa persisnya). Ini juga rasanya amburadul. Ketika itu saya kecewa berat dan pergi dengan hati dongkol.

    Oke, sekarang fast forward ke masa sekarang! 😀

    Ketika jalan-jalan ke Lippo Mall Yogya, saya iseng pengen kasih Sumo kesempatan kedua! Baby M dan papanya pergi main di lantai atas, sementara saya balik ke lantai dasar untuk kembali mencicipi sushi-sushi murah di Sumo.

    Disini ocha/teh jepangnya gratis, gelasnya sudah tersedia di meja. Oleh pelayan saya diberikan satu pucuk kantong teh. Hmmm… okay, saya pun celupin tu kantong “ocha” ke gelas dan mencet tombol dispenser. Nah disini mirip sama Genki Sushi ya, jadi ada dispenser air yang ter-attached di setiap meja. Saya sempat curiga tuh, kok gak ada uap yah layaknya air panas pada umumnya?

    Karena penasaran saya celupin ujung jari ke dalam gelas, dan ternyata… AIRNYA AIR DINGIN DONG :’) Luar biasa bah jadi gimana dong caranya tamu nyeduh tu ocha gratis, wahai Sumo sushi bar?? :’) Yasudahlah, mungkin belum jodoh sama ocha di sini, jadi minum air putih dingin saja hehehe.

    Saya sempet minta brosur menu, dimana tiap restoran sushi setau saya biasanya ada. Either untuk take away atau sekedar liat-liat menu yang di ambil dari sushi bar. Sayangnya, dijawab pelayan mereka gak punya menu atau brosur tentang sushinya. Hmm…. oke deh kalo gitu.

    Agak lama mengamat-amati piring sushi yang lenggak lenggok di belt, saya akirnya memberanikan diri untuk mengambil sushi pertama. Moment of truth…

    Sushi pertama yang saya jajal isinya salmon mentah dan slice mentimun. Di atas meja ada dua jenis kecap, saya tuang masing-masing ke mangkuk berbeda. Mungkin maksudnya ini kecap beda rasa (manis dan asin?) tapi di lidah saya, keduanya nyaris sama persis. Teksturnya pun sama-sama encer, berbeda dengan di Sushi Tei yang sama-sama kasih pilihan soy sauce tapi keduanya juga beda baik di rasa dan tekstur.

    Oke, lanjut… saya colek sushi tersebut ke soy sauce dan cabe tabur, lalu masukin ke mulut… Hmmm… ternyata rasanya sudah jauh acceptable daripada tahun lalu :’) daku terharu…

    kantong teh ocha dari Sumo, tapi air yang keluar dari dispenser ini air dingin… Jadi gimana dong nyeduh ocha nya? :’)

    Jujur saja, kalo makan sushi mentah di tempat sushi yang agak shady atau harga sushinya “bersahabat”, saya biasanya either kecewa atau pilih gak makan yang mentah sama sekali. Simply karena biasanya si sushi mentah sudah tidak fresh (ini bahaya banget karena bisa bikin keracunan makanan atau allergic reaction yang berakibat fatal).

    Entah apa yang bikin saya memutuskan untuk ambil sushi mentah dari Sumo sushi bar… penasaran, kayaknya 😀 Sekaligus juga setelah saya amat-amati, wujudnya terlihat masih wajar dan fresh. Saya akui rasanya memang tidak se-segar tempat sushi lain dengan harga lebih premium, tapi rasanya juga surprisingly tidak begitu buruk. Apakah Sumo sushi bar sudah belajar dari kesalahan yang lalu, alias tidak memperdulikan taste ? Entahlah, namun ternyata kesempatan kedua yang saya berikan untuk Sumo berakhir manis 😛

    Pilihan sushinya sendiri tidak banyak, dan beberapa saya lihat penampilannya “seadanya” alias tidak menggugah selera. Saya sendiri hanya mencicipi empat jenis sushi saja, karena sudah bingung mau mencicipi yang mana lagi. Ada beberapa suguhan gorengan (katsu) tapi terlihat tidak fresh or edible enough to me, karena kalau gorengan / deep fried sudah muter-muter lama di sushi belt biasanya sudah “masuk angin”.

    Kalau ke depannya Sumo sushi bar bisa memberikan taste sushi yang baik dan layak (tidak ngasal), saya pikir ia bisa menjadi saingan tempat makan sushi di Yogyakarta. Beberapa kali saya mengunjungi kota kecil ini, dan saya belum menemukan tempat makan sushi yang cukup fresh dan edible enough. Okay, memang ada cabang Sushi Tei di kota ini. Namun saya pernah keracunan makan salmon mentah mereka yang sudah muter-muter lama di belt, dan menurut saya Sushi Tei cabang Yogyakarta ini salah satu cabang mereka yang terburuk (selain yang di Central Park, Jakarta, tentunya), baik dari segi rasa dan pelayanan.

    Makanya saya berani bilang, kalo saja Sumo sushi bisa lebih memperhatikan taste sushinya dan menu lain yang ia suguhkan, bisa saja jadi kuda hitam dalam permainan per-sushi-an di Yogya 😀 karena soal harga, sudah jelas Sumo ini gak ada lawannya. Kapan lagi bisa makan sushi dengan harga Rp.15.000,- sepiring?? Bahkan kemarin saat membayar pakai Go-pay, saya dapet diskon jadi per piring hanya di kenai Rp.13.000,- saja… gila kan?

    Oh ya… Sumo, saya beneran loh gak abis pikir itu nyeduh ocha nya gimana yak kalo yang keluar air dingin dari dispenser? Saya gagal paham untuk urusan ini :’)

    SUMO Sushi Bar (Lippo Mall Yogyakarta dan Hartono Mall)

    PROS

    + harga sushinya murah banget,

    + porsi okelah,

    + soal rasa……hmm okelah, sudah bisa diterima (better dari tahun lalu),

    CONS

    soy sauce nya butuh perbaikan,

    – beberapa sushi dan rice bowl nya kelihatan kurang edible,

    – pilihan menunya masih sedikit,

    – pelayan agak kurang wawasan soal makanan Jepang,

    – NGAPAIN KASIH TEH GRATIS KALO GAK ADA AIR UNTUK NYEDUH! (masih gak abis pikir sayaaa) 😀

     

    Have a good and healthy day!

  • Travel

    Iconic Kafe, Yogyakarta.

    Sore ini saya penasaran ingin mengunjungi salah satu kafe yang sering di datangi salah satu keponakan saya di Yogyakarta. Kafe yang terletak di Jalan Magelang KM 5,8 ini sebenernya sudah berada di luar kota Yogya sendiri, alias sudah masuk kabupaten. Posisinya persis depan belakang sama Jogja City Mall 😀

    Kalau dari namanya sendiri gak terlalu menggugah ya, karena simpel sekali. Nama Kafe yang bikin saya penasaran ini ICONIC.

    Lantas apa sih yang bikin saya penasaran tiap kali keponakan saya dan mamanya posting lagi main di sini?

    Kafe Iconic ini beda dari yang pernah saya datangi; emang gak banyak sih karena bukan tukang kongkow juga hehehe… Tapi, begitu menginjakkan kaki di Iconic, aduh saya bener-bener jatuh hati. Kafe ini sangat memperhatikan estetika arsitektur, interior dan terutama… BANYAK BANGET KOLEKSI ACTION FIGURE NYA! Gak heran kalo mereka mengklaim sebagai toys gallery!

    Saya jamin bagi pecinta action figure atau penggemar DC atau Marvel, bakal tergila-gila berada di kafe Iconic ini! Salah satu pemilik Kafe ini pasti seorang kolektor sejati. Saya belum pernah melihat koleksi yang begitu detail dan mendalam. Selain tokoh-tokoh DC, Marvel, juga sangat kentara sang pemilik fans berat Star Wars! Saya juga lihat ada The Lord of The Rings, Harry Potter universe, Terminator dan lain sebagainya. Sayang, sang kolektor tampaknya bukan fans Game of Thrones universe karena saya cuma spotting satu figurine iron throne saja 😀

    Secara garis besar, interior Iconic ini terbagi tiga: satu foyer untuk smoking area, ruang tengah yang full terisi action figure / figurine yang keren-keren, dan sisi paling depan Kafe tempat showcase gelato dan cakes mereka. Untuk harga makanan dan minumannya sendiri saya bilang sangat wajar untuk ambience dan situasi yang sangat nyaman! Saya salut banget sama seluruh pegawai Iconic yang gila sih ramah banget! Beneran loh, saya takjub, karena kayaknya seumur-umur saya baru kali ini masuk ke restoran/kafe yang 100% orang-orangnya ramah dan senyum serta berasa melayani tamu dari hati. Kudos to you, management Iconic! 😀

    Berhubung siang tadi saya kepengen banget ayam bakar nya Mbok Sabar, jadinya saya datang ke Iconic dalam keadaan sudah kenyang. Saya tidak sempat mencicipi makanannya, dan hanya memesan minuman namanya MOCKINGJAY. Saya pesan minuman ini karena teringat Katniss Everdeen idola saya dalam serial Hunger Games :p Entah bener atau gak kenapa di namain Mockingjay, yang pasti minuman ini jenis fusion dari jeruk yuzu, teh hitam, madu, dan soda. Rasanya? Hmmm saya sih cocok ya, dan mereka gak pelit kasih madu nya, harganya cukup dengan Rp.33.000,- saja… ah gilak, kayaknya saya bakal masukin Iconic ini sebagai tempat wajib dateng lagi setiap ke Yogyakarta deh…

    kita intip dulu yuk, menunya 😀 kira-kira cocok tidak?

    Tau ga sih apa yang bikin saya shock?

    Kayaknya si pemilik ini punya spot khusus untuk Star Wars.

    Doi sampe bela-belain bikin replika pesawatnya Darth Vader bok! Sayangnya saya gak terlalu ngikutin Star Wars, cuma tau sepotong-sepotong aja. Nah kita bisa temuin replika pesawat si om Darth ini sebagai jalur penghubung dari main dining room ke ruang makan kedua yang full di isi koleksi figurine. Gilanya lagi, ni owner/collector gak setengah-setengah bikin tu replika. Why? Simply karena lengkap sama pintunya dong! Jadi ni pintu otomatis bakal kebuka ala pesawat gitu! Beneran deh, buat kalian yang fans berat Star Wars bae-bae ke Iconic ini, di jamin sange! 😀

    ini loh pintu otomatis yang saya maksud, jadi pintunya kebuka otomatis ke ruang makan kedua. Ciamik banget bok di buat kayak pintu pesawat. Salut! Abaikan ada photobomb dari mas di samping, hehehe

    Baby M ga suka sama Master Yoda 🙁

    Figurine ini bikin saya sedih 🙁

    Tau ga ini diorama 3D apa? Ini adegan pertempuran di film Iron Man 3!! WAGELASEHHHHHH 😀

    Sebenernya saya pengen banget fotoin satu-satu figurine di toys gallery Iconic… tapi oh tapiii… selain waktu dan tentunya kuota dalam meng-upload gambar serta semya foto di journal saya ini cuma di ambil pake Iphone, jadi monmaap sangat seadanya 😀 Buat yang udah sange pengen liat Iconic buruan dateng ke Yogyakarta, pake Waze/Google Maps masukin “ICONIC” pasti ketemu, atau pake  JOGJA CITY MALL 😀

    Baby M masih terlalu kecil untuk ngerti kenapa mamanya heboh banget masuk ke sini, hahaha… Bahkan bapaknya baby M yang nggak se-nerd istrinya aja sampe keliatan cukup amazed pas masuk ke area makan di toys gallery. Someday, my son, Mommy will teach you all about muggles, the one ring to rule them all, and why winter is coming :p

    Diorama Bat Cave!

    and when you tried to lure your son to the dark force :p

    ICONIC CAFE, Yogyakarta.

    Jalan Magelang KM 5,8 persis depannya Jogja City Mall.

    PROS

    + tempatnya bersih, cahaya bagus, instagramable,

    + harganya menurut saya masih wajar dan porsinya juga wajar,

    + gila pelayannya semuanya ramah banget!,

    + ada baby chair lengkap dengan seat belt,

    + dari ujung ke ujung semua figurine bersih gak ada debu, raknya juga sama,

    + rasa minumannya sih enak (next balik pengen coba gelato sama makanannya),

    + koleksi mainannya gak main-main!

    + liat dari media sosialnya sih mereka kreatif bangetttt gilaakk…

    CONS

    Saat ini belum ada, tapi rencana dalam waktu dekat mau liburan lagi ke Yogya. Nah mau balik lagi ke Iconic… apakah saat itu Iconic tetap mempertahankan kemumpunian nya, ataukah menurun? We shall see… 😛

    I wish you all a good and healthy day!

  • Thoughts

    No, I am Not Okay.

    Saya baru saja selesai bertemu dengan RD, psikolog saya di Sanatorium Dharmawangsa. Saat menulis ini saya duduk sendirian di sebuah coffee shop yang terletak beberapa meter dari Sanatorium. Namanya Escape Coffee. Tempatnya cukup nyaman, sejuk, tapi baristanya berisik dan minuman-minumannya (saya vow untuk mencicipi setiap menu minumannya, hehehe) sejauh ini belum ada yang cocok di lidah. Okay, mungkin cuban rum choco nya juara, tapi belum sampe bikin ketagihan 😛

    Selama saya duduk sendirian menghadapi laptop dan earphone yang sebenarnya tidak memutar lagu apa-apa (only to send the message: “Leave me be!”), saya kebetulan mendengar dua percakapan dari dua orang berbeda yang duduk dekat meja saya.

    Percakapan pertama, si nona meja sebelah memanggil barista dan minta segelas air lagi.

    Nona: Mas! Mas, sini. *masnya dateng* Bisa tolong isi air lagi gak?

    Barista: Baik, bu, sebentar ya. *gak lama balik dengan segelas air* Ini ya bu.

    Nona: Ya.

    Percakapan kedua, tante di seberang meja saya, mencicipi minuman yang baru diantar barista, lalu segera bangkit dari sofa dan menghampiri mas Barista ke counter.

    Tante: Mas, ini kemanisan, tolong dibuatkan lagi ya!

    Barista: Oh… iya, bu. *pasrah*

    Mendengar dan menyaksikan dua percakapan diatas, saya otomatis berpikir:

    1. Wah gila sih kagak ada makasih-makasihnya,
    2. Demanding amat bok.

    Kemudian saya berpikir…… sebagai person, apakah saya mungkin juga seperti dua poin saya diatas? Bahwa saya tidak tau terimakasih, dan seorang yang demanding? Saya sempat terdiam sejenak (walau memang diam aja sih, karena sendirian gak ada temen ngobrol hehehe), dan merefleksikan ke hidup saya beberapa waktu belakangan. Kebetulan kemarin saya sempat dihantui intrusive thoughts tentang seseorang. Sebut saja sahabat ini (atau lebih tepatnya, mantan sahabat) bernama A.

    Dahulu semasa kami masih berteman sangat erat, saya type yang akan melakukan segala hal dalam kemampuan saya, semaksimal mungkin, untuk sahabat-sahabat circle one saya–termasuk si A ini. Ada suatu momen dimana saya khawatir akan diri A, walau tampaknya A sendiri tidak masalah dengan kondisinya, dan saya berusaha me-level-up-kan A.Saya berusaha memperbaiki penampilan A dan membantunya menemukan seorang pendamping. Saya bahkan marah bila ada orang yang menyinggung single life A, saya tidak suka A di sindir. Yes, I am that protective, and maybe I was wrong. Mungkin saya keterlaluan? Apakah saya menyinggung A? Saya tidak tau, karena kami tidak lagi bicara, dan saya shut people out ketika saya berada di jurang terdalam depresi. She did not bother to reach out to me when I am in my deepest shit, to ask whether I am okay or not, am I still alive and well, until this day, and I guess that was it.

    Intrusive thoughts yang menghantui saya beberapa hari ini adalah perasaan kosong karena saya merasa di buang. Akhirnya A menemukan pendamping, dan ketika saya shut people out, ia tidak bother untuk reach out menanyakan keadaan saya langsung. I feel betrayed.

    She (finally) found a guy, and she “dumped” me. Saya merasa seperti sampah. Benar-benar seperti sampah, yang dibuang dan tidak dipedulikan ketika orang sudah mendapatkan yang lain dan lebih baik. Apakah saya sejelek itu? Apakah saya sehina itu?

    Apakah saya seperti dua perempuan yang saya saksikan di coffee shop ini?

    Apakah saya orang yang demanding?

    Saya banyak mengkritik diri saya sendiri, dan RD berulang kali mengingatkan untuk me-manage anger yang saya rasakan melalui terapi-terapinya.

    Terkadang sebagai manusia yang kita butuhkan hanya tangan yang terulur dan kata-kata menyejukkan seperti, “Hey, are you okay?” Sebab hanya orang tertentu dengan  kemampuan extra ordinary untuk dapat melakukan hal sesimpel menanyakan keadaan orang lain. Then i realised, my circle one whom I have known for 15 years as we grew up together, did not bother to ask this. One of them even being judgemental, and the other said I am a toxic person.

    Apakah saya benar demikian?

    Apakah saya memang layak dibuang?

    Apakah semua yang saya lakukan untuk “kami” tidak se-berharga itu?

    Ketika saya masuk ke ruangannya dan RD (selalu!) bertanya: How are you feeling?, sesungguhnya ada beberapa momen ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis atau menghantam meja atau menarik rambut saya–yang tidak saya lakukan karena decent people don’t do such thing (walau kalaupun saya kelepasan, saya yakin beliau maklum). Sebuah kalimat simple, tapi tidak semua orang (selain psikolog dan psikiater, tampaknya) bisa mengucapkannya dan really meant it.

    Saya belajar untuk mengingat kalimat tersebut, dan ketika mengucapkannya, saya harap saya bisa membantu orang lain. Saya tidak perlu doa dan wish omong kosong yang orang ucapkan ketika Natal/Tahun Baru, kata-kata kosong seperti “semoga blablabla” what the fuck, kalau orang yang mengetiknya tidak tulus? Bahkan tidak ada dan tidak peduli ketika orang yang ia klaim “doakan dan wish-kan” sebenarnya ingin mati? Dan bila benar orang itu mati, bukankah si “pemberi wish dan doa” (yang justru kehadirannya hanya omong kosong belaka) justru menanggung dosa akan nyawa yang melayang tersebut?

    Banyak orang mengklaim ini itu, tapi  ketika waktunya pembuktian, semuanya berlomba-lomba melarikan diri dengan berbagai alasan. Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Saya harap saya diberikan courage untuk berada bersama orang yang mempercayakan saya their darkest moments. Saya harap saya bisa membantu mereka semaksimal mungkin.

    Saya membawa banyak luka dan kekecewaan di tahun baru ini. Saya berusaha menjadi normal.

    Kalau ada dari kalian, my circle one, yang membaca ini, I am sorry, I truly am, for what I have done. Thank your for not reaching out to me in my darkest shit, thank you for running away when I need you the most. Thank you for saying that I should said please and beg. Thank you for reminding me that I am a toxic person. Thank you for the lesson, thank you for fifteen years we have been through.

    I understand if you were all not comfortable with me being sick, and I cannot force you to understand either, because you girls are not willing to understand.

    Thank you for breaking my heart, and leaving me when I need you girls the most. My only support system.

    I am sorry I left without explanation, I wish I had, but I could not because, hey, I am toxic and crazy, right. I tried to opened up and reveal my vulnerable side, but I only got judgement. I am afraid and I am full of anger. I knew I am sick, and I am sorry. I wish I was a good friend, and once I believed I had one.

    I let go.

    I wish you all a good and healthy day.

  • Travel

    Chin-Ma-Ya Ramen, Serpong.

     

    Saya tidak sengaja menemukan restoran ramen ini ketika pulang dari Q-Big, setelah membawa main baby M dan keponakan saya baby AA. Entah apa yang membuat sahabat saya memutar kemudi ke arah restoran ini, karena lokasinya menurut saya lumayan terpencil 😀 Rukonya cuma terdiri dari si restoran ramen dan Indomaret saja. Sekelilingnya masih lapangan luas, belum ada bangunan berarti.

    Sebagai penggemar pork, kami excited juga karena Chin-Ma-Ya menggunakan kaldu tonkotsu (pork bone broth). Sahabat saya, C, bahkan berani bilang kuah ramen Chin-Ma-Ya lebih enak dari Ippudo. Walau memang selera setiap orang berbeda, karena setelah bersantap malam dengan sahabat-sahabat saya, saat tahun baru saya mengajak keluarga untuk lunch disini. Nah, adik saya bilang dia sih lebih suka Ippudo 😀

    Interior dan eksterior Chin-Ma-Ya ini persis banget kayak di Jepang. Sebenarnya saya ingin mencoba bersantap di patio nya, tapi kebetulan rombongan kami agak full dan ada anak kecil, sehingga kami akhirnya duduk di lantai dua. Setiap sudut restoran bener-bener instagramable menurut saya. Para stafnya juga ramah dan mengakomodir tamu. Mereka menyediakan ruangan VIP menggunakan tatami dengan minimal order Rp.500.000,- cuma karena tempat duduknya gak ada senderan, jadinya kami pilih di kursi konvensional saja.

    keliatan nyaman banget kan…

    lantai dua tempat kami bersantap masih dalam suasana Natal. Naik tangganya lumayan juga 😀

    Harga makanannya tidak terlalu mahal dan ukuran mangkuk ramennya dibedakan per size. Saya selalu memesan ukuran small/regular, tidak pernah yang jumbo, dan rasanya kenyang-kenyang saja. Mereka juga menyediakan alkohol walau kayaknya tidak lengkap. Botol sake sih berjajar, tapi menu sake nya tidak ada di daftar menu. Selain ramen, juga ada hidangan pembuka seperti miso soup, edamame, ubur-ubur, dan salad. 

    Saya sempat menanyakan apakah mereka menyediakan chawan mushi yang jadi favorit baby M, namun rupanya spesialisasi mereka memang sebatas ramen saja. Sushi, dan kebanyakan makanan Jepang lainnya tidak ada. Favorit saya di sini adalah shoyu ramen nya, enak banget! 😀

    restoran ini gak halal ya, sodara-sodara! Tapi enaaaak 🙂

    Ngintip menunya dulu, yuk… walau saya gak sempat untuk fotoin setiap lembarnya huhuhu maaf yaa, tapi pasti banyak kok informasinya di internet 🙂

     

    Menariknya, konon kokinya sih orang Jepang ya, cuma saya lupa nanya langsung ke waiter 🙁 Mereka juga buka 24 jam lho! Gileee…kalo tinggal sekitaran Serpong,  kayaknya malem-malem enak nih mamam ramen panas di sini 😀 duh sayang kami tidak tinggal dekat area Chin-Ma-Ya, kalo nggak kayaknya bakal kesini terus, hehehe.

    Oya bagi yang menggunakan Waze atau Google Maps, kami sempat nyasar karena tanpa melihat alamat jelas Chin-Ma-Ya langsung masukin keyword. Ujung-ujungnya kami diarahkan ke lokasi lama Chin-Ma-Ya, dan untuk muter balik ke Ruko South Goldfinch itu lumayan jauh bok. Jadi sebelum pede jaya masukin keyword restoran ini ke GPS, di cek dulu ya itu diarahin ke alamat yang mana.

    Kesimpulan saya :

    CHIN-MA-YA Ramen (Non Halal)

    Springs Boulevard, Ruko South Goldfinch blok E1 – 5 Gading Serpong.

    + Harga cukup ramah di kantong,

    + Staff sigap dan ramah,

    + Lokasi bersih,

    + Menyediakan baby chair dengan seatbelt! (penting nih buat ibu-ibu dengan toddler),

    + Porsi makanan wajar (gak terlalu sedikit, juga tidak terlalu banyak),

    + Parkir luas dan ada satpamnya,

    + Dekorasi interior dan eksterior nyaman dan instagramable,

    + AC nya dingin banget, siap-siap pesen ocha hangat dan pake kardigan!

    Kekurangannya cuma satu…. Gak sedia chawan mushi 😛

     

    I wish you all a good and healthy day, Happy New Year!

  • Thoughts

    Hari Terakhir di Tahun 2018.

    image source: Pinterest

    Akhir tahun selalu bittersweet untuk saya. Di satu sisi saya bersyukur akan menutup tahun di belakang saya, tapi di sisi lain saya takut akan apa yang tahun baru bawa… Happiness? Misery? Fear? Hopes? Another abandonment? Kita tidak bisa menerka masa depan, hanya bisa berharap yang terbaik dan dikuatkan untuk melewati yang terburuk. Saya juga masih menata hati dari sakit dan hinaan yang saya terima beberapa saat lalu, mengenai kondisi saya. Trigger seperti ucapan yang diakhiri dengan “…semoga lebih bahagia blablabla…” membawa pisau tersendiri di hati saya. Kenapa orang suka sekali berbasa-basi remeh temeh yang sebenarnya kosong? Sungguh mudah sekali kita mengumbar doa — karena kita merasa dengan “mendoakan” saja cukup, atau dengan “kata-kata indah”… terkadang yang seseorang butuhkan hanyalah bukti bahwa your words meant something. Not that I say praying (if you do truly pray) is wrong.

    Tapi mengapa sebagian besar dari kita hanya pandai menguntai kata, tetapi isinya nihil?

    Mengapa mudah sekali bagi seseorang untuk mengatakan hal-hal indah tetapi tidak ada perbuatan untuk membuktikannya?

    Hari terakhir di tahun 2018 ini saya lalui tanpa ada yang terasa spesial, cenderung sepi malah. Keluarga saya tipe yang sibuk masing-masing dan bukan tipe keluarga yang hangat atau fungsional. Suami saya berada di kota lain. Saya punya satu hari penuh, sebelum kembang api mulai mewarnai langit nanti malam, untuk melihat ke belakang. Tahun ini tahun yang cukup berat untuk saya; sekaligus juga tahun yang menjadi awakening.

    Nothing lasts forever.

    Tahun ini saya mengucapkan selamat tinggal pada beberapa hal yang menjadi sumber kekuatan saya dahulu. Tahun ini saya juga menyapa hal-hal baru dan keinginan lama yang ingin saya wujudkan. I learnt a lot this year; some things don’t always turn the way we planned, or the way they should. I learnt that friends of decades can be fake and hurtful and left you at your darkest moment; I learnt that those who can truly accept and love us are not always of our blood, or our “best Friends”. At times it can be shocking how your world fell into pieces but everything and everyone around us carry on with life. It makes you think, whether your presence in this world mattered or not.

    But I am proud that I finally seek help for myself, this year.

    I am grateful that I also started to write again.

    I am happy that my eyes were opened to the harsh truth that people who truly loves you for who you are (not only the “you” when you are healthy) is the one worth sticking your energy with. Value those who asks, “are you okay?” in your darkest moment, and not judging you. Trust me in this.

    Some things I might not talk about, because I am too lost in words… and some things I write to make me carry on with life, hopes, anger, and fear.

    a kind reminder. thank you for the most valuable lesson about this, 2018!. image source: Pinterest

     

    Saya tidak pernah membuat resolusi tahun baru. Mungkin seharusnya saya mulai berpikir resolusi apa untuk tahun 2019… but mostly my mind is blank… Saya hanya bersyukur diberi kesehatan dan berkat agar bisa jadi berkat bagi orang lain selama saya berjuang untuk hidup di dunia fana ini. Tahun 2019 saya berharap saya dapat menjadi sahabat bagi siapapun yang membutuhkan saya, saya harap saya diberikan kesempatan untuk dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan orang lain. Let me help people. Let me also healed from feeling anger and abandonment. I want, and I will be healthier this year. And please let George R.R. Martin published The Winds of Winter… 😀

     

    I wish you all a good and healthy new year  🙂

  • Fangirling

    SanSan a.k.a Sansa Stark x Sandor Clegane

    ! DISCLAIMER !

    Explicit Content Mature Content Gore Images

    Fandom: A Song of Ice and Fire (books series) / Game of Thrones (TV series)

    all images source: Pinterest and DeviantART, belong to their respective artists.

    Sansa Stark dan Sandor Clegane.

    My current obsession 😀

    Or at least, the book version of Sansa Stark dan Sandor “The Hound” Clegane, bukan versi TV series nya. Kalau di buku A Song of Ice and Fire (ASoIaF) material mengenai mereka bener-bener banyak, sayangnya tidak teradaptasi dengan baik ke TV seriesnya. Game of Thrones season 1 masih relevan banget keberadaan SanSan seperti di buku, tapi di season terakhir GoT, The Hound udah keburu sibuk beyond the wall sama Jon and Co. 😀 Saya berharap banget versi buku mereka (yang saat ini belum juga keluar serie terbarunya!) bisa balik ngetemuin Sansa dan The Hound!

    Kalian yang baca buku ASoIaF pasti tau gimana kondisi Sansa saat jadi tahanan politik di King’s Landing. Juga gimana posisi The Hound yang (saat itu) jadi sworn sword Joffrey. I like the idea that George R. R. Martin implicitly told readers that The Hound might love Sansa. I’d swoon over the idea! I mean, Joffrey tortured Sansa and beat her bloody (through his Kingsguards) but  The Hound is always there for Sansa, protecting her. Who doesn’t swoon over a man (who’s describe as brute, hulking over common people, strong AF and a VERY good fighter/soldier) that is protective of this tortured “little bird” ? 😀

    Kayaknya sudah beberapa malam ini saya menyibukkan diri ngulik berbagai Fan Fiction, apalagi kalo bukan yang bahas tentang Sansa Stark dan The Hound. Agak susah sih, kebanyakan bahasnya Arya x Gendry, atau Jon x Daenarys… C’mon people… SanSan is obviously the sexiest couple, ever, in ASoIaF!

    What, how did that sick opinion came, you asked? 😀

    Did The Hound really loves Sansa Stark?

    Tracy Atkins dari Quora menjawabnya cukup lengkap menurut saya:

    What do we know of The Hound?

    • He is full of hate.
    • He thinks the sweetest thing is killing.
    • He’s rude, brutal, ferocious, and unkind.
    • He views people in general as meat. “and I’m the butcher.”
    • He knows, without doubt that everyone is a liar, only out for themselves.
    • He is still heavily traumatized from his brother’s brutality.
    • He drinks too much.
    • He’s scarey as hell. On purpose usually.
    • He is disillusioned, jaded, cynical.
    • He knows his job inside and out, and is very good at it.

    Ok, thats alot to know about someone whos head we’ve never been inside of.

    Does he love Sansa?

    • Well, he definitely treats her way better than he does everyone else. He’s still brutally honest, but he does temper it for her. (He doesn’t for Arya.)
    • He gave her a pet name. Not a nickname, a pet name. One that leaves no doubt that he does not view her as meer lieing meat but rather as a pretty little bird, with a head full of songs/fairy tales, in a sea of scheming meat and monsterous killers.
    • All but once Sansa discribes his physical handling of her as gentle to some degree… Does he seem like he’s typically gentle to you?
    • He told her his deepest darkest secret, it seemed like he didn’t want to but couldn’t stop himself.
    • He touches her everytime she’s within arms reach. (Doesn’t touch other people except as absolutely necessary.)
    • He seems to forget himself around her… Often… Though most of that is taken out of the show… Here’s some examples from the book :
    • In the book he did not get Joffrey to safety then rescue Sansa from rapists during the riot… He abandoned the royals entirely, leaving them to Boros and Meryn and the gold cloaks to save, and immediately cut a path to her side where he chopped a guy’s arm off to prevent her from being dragged off her horse… He also abandoned his beloved Stranger (His stallion.) to the crowd until she was safe.
    • He drunk-stalks her. Seriously. He cornered her on the steps and creeped pretty much everyone out talking about how grown up she is, how tall and pretty… He mentions her breasts… He’s stumbling drunk at the time.
    • He went, drunk off his ass, to her room and waited around for her to show up the night he abandoned King’s Landing, knowing it would be life or death if he got caught, to convince her to leave with him.
    • While there he obviously came very very close to kissing her just before he got really pissed at her reaction to that and threw her down on the bed.

    (And presumably climbed in with her, looming over herhow else could she reach up and cup his face?)

    (Ok, why get so mad at someone for not wanting you to kiss them? I’m pretty sure he’s had women not want him to kiss them before.)

    • Sex was definitely on his mind when he had her flat on her back in her bed. But he didn’t harm her in any way. Didn’t even touch her (other than the tip of his dagger at her throat.) that she noticed.
      • He demanded her to sing him the LOVE SONG of Florian and Jonquil while holding a dagger to her throat.

    He litterally choked up and cried when she sang him “The Mother’s Hymn.” A song about mercy. Mercy for him, not mercy from him. Then she reached up and cupped his scarred cheek. (That’s something I bet no woman has ever done.) She touched his heart by doing that. He wept, said her name (Well, his name for her really.) very raggedly, climbed off the bed, ripped off his white cloak, threw it on the floor at her feet and left immediately. Does this sound anything like The Hound discribed at the top of this post?

    • From his later statement: ‘I should have fucked her bloody and tore her heart out before leaving her for that dwarf.’ -While making a deathbed confession to try to provoke her sister into killing him.

    Why concern himself with her heart if he doesn’t care about/want her heart?

    • People only give deathbed confessions of things they are ashamed of. I.E. He is ashamed of wanting to have sex with her so much that in a drunken/traumatized state he likely considered (momentarily) forcing her.

    (That’s not the thinking of a would be rapist… Rape is about power and violation and humiliation… Rapists are NOT ashamed of wanting to rape someone. It isn’t the physical feeling that gets a rapist off, it’s the power trip. So sex is the operative word here. Not Rape.)

    He didn’t touch her because he doesn’t actually want to ‘fuck’ her… He wants her to participate willingly, like in the pretty little love SONG(s) in her head.

    I.E. He wants to make a love SONG with her. He’s just unfamiliar with that urge… no doubt he has no idea what to do about it and probably would never admit to such a romantic feeling, even to himself. He would consider such feelings as weakness.

    Does he love her? Yes, but more to the point, he’s in love with her.

     

    Siapa sih yang ga suka kisah “Si Cantik dan Si Buruk Rupa”?

    Walau dalam beberapa kesempatan saya baca, George R.R. Martin sebenarnya tidak bermaksud mengklasifikasikan The Hound dalam ketegori “buruk rupa”. Hanya saja memang The Hound di deskripsikan memiliki bekas luka bakar yang gak semua orang tahan liatnya, but honestly who doesn’t? That guy got a really burnt so bad on his face.

    Kalau pernah dengar don’t judge a book by its cover kayaknya hidup The Hound cocok banget. Saya suka gimana plot untuk The Hound berkembang makin baik di ASoIaF universe. Awal plot dia dikenal sebagai mesin pembunuh dengan mulut kasar (tapi jujur 😀 ) , belakangan The Hound mulai nunjukin sisi soft nya (to who else, our damsel in distress, Sansa) dan membimbing / melindungi Sansa dengan caranya sendiri… Saya lebih suka type yang seperti ini karena mengingatkan saya juga untuk tidak menilai seseorang dari penampilan saja, melainkan dari karakter nya.

    Fan Fiction yang lagi saya baca: The Hound’s Reward. (21+)

    Apa kamu nulis Fan Fiction juga? 🙂

    beautiful artworks from Pinterest, and DeviantART (thank you Magdalena!)